Oleh: Juharman Muliadi*
Pagi yang indah, bersama kicauan burung dan hangatnya secangkir kopi yang dipadu dengan sejuknya embun membuka pori-pori imajinasi. Malam tadi, tidurku begitu nyenyak. Bukan karena kasur yang empuk atau kamarnya yang nyaman. Namun, hanya saja karena godaan rasa lelah yang mengusap kelopak mata.
Hari ini, pelan-pelan aku mulai mengerti gerak keputusan-keputusan berikutnya. Tentang garis wajah yang ternyata bukan hanya garis usia, tetapi pengalaman misteri dari loncatan peristiwa di luar dari perkiraan.
Sesuatu yang di luar dugaan sesekali harus kita sambut dengan tepuk tangan dan sedikit sorakan. Entah kita memahaminya atau hanya ingin terlihat mengerti.
Kadang kita pun sulit untuk memahami apa yang menjadi buah pikiran sepanjang hari, namun ada yang akan memaksa kita lebih sulit dan berat yaitu rasa sakit menjadi badut kehidupan. Masa kini berlalu begitu cepatnya, menghujani jiwa di setiap babak pergantian.
Pilihannya hanya satu, berjalan anggun dari biasanya, tak peduli dengan terpaan angin malam dan keramahan kabut kehidupan. Isinya pun tak tau pasti, apakah ini terlalu cepat atau terlalu lambat. Namun, yang aku tau pasti banyak bunga layu di saat aku pergi. Langit pun akan menjerit dengan penuh kekecewaan, tapi apalah daya ini adalah keputusan terbaik dari yang baik untuk memantapkan tujuanku.
*Penikmat dan pecinta literasi
