Oleh: Hamsah
Sudah lama tidak publish tulisan di website menulis Bengkel Narasi (BN). Namun sebagai akademisi, membaca sebagai bahan bakar utama menulis setiap harinya tetap dilakukan. Hampir tidak ada hari berlalu tanpa membaca tulisan-tulisan dari para sahabat penulis setia BN. Terlebih tulisan sang inspirator dan mentor menulis Bang RIM yang nyaris setiap hari mengirimkan tulisannya secara pribadi.
Lantas saya hanya memberikan tanggapan satu kata, keren, mantap, atau sesekali hanya emotion jempol. Bukan tanpa maksud, setiap menerima tulisan itu seperti pukulan telak untuk diri sendiri. Ibarat orang yang dipukul maka ia tidak bisa memberikan kata-kata yang banyak selain mengekspresikan rasa sakit yang diterima.
Sang mentor bertanya, mengapa tidak pernah lagi mengirimkan tulisan di BN? Alasan klasik yang mungkin bisa kita katakan, “sibuk tidak ada waktu”. Namun belum sempat terucap, pesan Bang RIM masuk lagi. Mungkin dari jauh membaca pikiranku, “Tidak apa-apa sibuk, tetapi sibuk itu sendiri bisa menjadi obyek tulisan yang menarik”. Belum saya sempat jawab, masuk lagi quote inspiratifnya, “Tidak ada waktu hanya berlaku bagi orang yang sudah kembali ke pangkuan Tuhannya”. Bang RIM nampaknya tidak memberi kesempatan untuk tidak menulis lagi.
Saya kemudian merenung sejenak sambil membatin, tidak mungkin lagi mengatakan diri sibuk, karena di satu sisi profesi sama sebagai akademisi, bahkan ia memilki lebih banyak kesibukan dan jam terbang yang tinggi, namun tetap produktif dalam menularkan inspirasi ke banyak orang melalui tulisan. Lantas saya langsung menimpahi jawaban saya bahwa sebenarnya saya tidak sibuk, justru banyak waktu terbuang yang tidak saya gunakan untuk hal-hal produktif.
Mungkin biasa kita dengar, ada waktu yang terbuang. Ibarat kita janjian dengan orang, dan orang itu telat datang 30 menit dari waktu yang disepakati. Maka waktu 30 menit itu akan menjadi waktu terbuang jika tidak digunakan untuk hal produktif, seperti membaca berita, buku, atau pun menulis apa yang kita lihat, dan rasakan tentang menunggu. Itu hanyalah perumpamaan sederhana. Namun jika diakumulasi waktu secara keseluruhan yang kita gunakan selama ini, rasanya banyak juga waktu berlalu tanpa produktivitas. Saya tidak mengambil sampel di luar diri saya. Karena bisa jadi hanya saya yang banyak membuang waktu.
Waktu terbuang yang saya maksudkan dalam tulisan ini adalah ketidakmampuan saya dalam memproduksi gagasan baru atau mendaur ulang gagasan yang lama dalam bentuk tulisan agar bisa dibaca dan menginspirasi untuk orang lain. Padahal kalau dipikir itu sangat sederhana, atau tidak sulit untuk dilakukan, tetapi nyatanya tidak semudah yang dipikirkan.
Meminjam pandangan Bourdieu yang mengatakan bahwa untuk memenangkan praksis sosial maka pahami tiga hal, habitus, arena, dan modal. Artinya untuk menjadi produktif di bidang menulis maka bangun habitus atau kebiasaan menulis. Untuk mempertahankan habitus, kebiasaan atau kecintaan menulis maka beradalah pada lingkungan yang membuatmu termotivasi untuk menulis. Paling tidak bertemanlah dengan penulis. Selanjutnya agar kebiasaan menulis tetap terjaga pada arena yang tepat maka dukunglah dengan modal. Modal tidak selalu berbentuk materi, tetapi modal dalam menulis berarti juga harus banyak membaca, mendengar atau berdiskusi.
Terima kasih sang mentor sejatiku Bang RIM telah membangunkan raksasa dalam diriku untuk bergerak mengajak penaku goyang samba lagi di atas lantai dansa BN.
*Penulis adalah Akademisi Universitas Negeri Manado
