Oleh: Juharman Muliadi

Keterkaitan antara dua jenis insan yang berbeda untuk kelangsungan hidup manusia di atas muka bumi sangat diperlukan. Baik dengan perjodohan orang tua ataupun dengan jatuh cinta yang menghantarkan ke penghulu. Keduanya memiliki seni masing-masing, walau terkadang banyak orang beranggapan bahwa mayoritas perjodohan tidak menikmati keharmonisan rumah tangga. Namun di sisi lain, tak sedikit juga yang memang mengawali rumah tangga dengan proses suka sama suka bahkan sampai pacaran juga mengalami kekerasan dalam rumah tangga yang terkadang berakhir dengan perceraian. Tapi, sebenarnya, saya tidak begitu memiliki kompetensi untuk membicarakan perihal jodoh. Karena sejauh ini saya masih mengalami ketakutan untuk hal di atas sehingga kesendirian masih menjadi solusi.

Oleh karena itu, saya hanya ingin bercerita tentang kisah asmara dari seorang pemuda labil yang jatuh sakit dari luka yang direncanakan. Seorang pemuda yang tulus mencintai seorang wanita pujaan hatinya. Namun, tanpa sadar ternyata wanita itu sudah memiliki pacar terlebih dahulu. Tetapi lambat laun sigadis yang memiliki paras yang begitu molek, malah menyukai pemuda labil karena sikap rendah hati dan kesholehan yang dimiliki sipemuda sangat jarang dijumpai. Istilah zaman now “limited edition”. Dengan hati yang begitu polos, pemuda tersebut tetap slow respon terhadap perempuan karena percaya bahwa kita bisa mencintai siapa saja tapi kita tidak bisa memaksakan cinta kita untuk siapa. Apalagi sesama laki-laki kita pasti taulah bagaimana perasaan pasangan dari perempuan tersebut jika mengetahui hal itu.

Karena kesholehan dari laki-laki itu dia beranggapan bahwa laki-laki yang sedang bersama bidadari yang ia cintai adalah jodoh terbaik untuk pujaan hatinya. Di tengah kepasrahan dari laki-laki yang sholeh tersebut untuk menyempunakan agama dan menunaikan syariat, tanpa sadar pujaan hatinya sedang di hantui dengan rasa kecewa yang tiada tara. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Kekecewaan itu pun terjadi karena laki-laki yang sedang bersama pujaannya yang telah ia ikhlaskan untuk dimiliki orang lain, ternyata malah melamar wanita orang lain. Sebagai laki- laki yang telah ikhlas melepas kepergian sang pujaannya, kini mulai bingung haruskah ia bahagia ataukah harus bersedih, karena cinta yang dulu ia dambakan kita telah dapat rujuk kembali namun lagi-lagi tak berdaya karena di tengah kekecewaan yang mendalam keluarganya mengkhitbahkan wanita lain.

(Visited 39 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.