Oleh: Muhammad Sadar*

Pembangunan berkelanjutan sebagai suatu strategi yang menjadi pilar subyek pembangunan kedepan terutama pada upaya memenuhi kebutuhan pangan masyarakat sekarang tanpa mengganggu pemenuhan kebutuhan generasi mendatang atau dengan kalimat lain menghindari dan mengurangi eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan dengan konsekuensi tidak stabilnya keseimbangan lingkungan.

Potensi lahan pertanian sebagai faktor produksi serta upaya perbaikannya untuk mewujudkan ketahanan, kemandirian dan kedaulatan pangan nasional,sejak revolusi hijau telah terjadi eksploitasi sumber daya lahan dengan sangat intensif akibat berkembangnya teknologi pupuk anorganik maupun input kimia sintetik lainnya yang merupakan high eksternal input terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman.

Dampak dari input sarana pertanian yang padat energi tersebut menimbulkan degradasi potensi tanah baik fisik,kimia maupun biologi, pencemaran lingkungan,dan yang terpenting adalah pelandaian dalam peningkatan produksi. Pencemaran lingkungan antara lain cemaran nitrat di sungai,waduk bahkan sumber-sumber air penduduk serta ancaman terhadap biodiversiti atau keanekaragaman hayati.

Satu hal yang paling mempengaruhi perkembangan potensi tanah sebagai media pertumbuhan dan produksi tanaman adalah kandungan bahan organik tanah yang mulai kritis hampir disemua areal pertanian. Demikian pula kandungan unsur hara makro dan mikro selain N,P,K yang selama ini selalu diberikan dalam jumlah relatif berlebihan. Bahkan populasi dan keragaman mikroba tanah disebagian besar areal pertanian telah merosot jauh dibandingkan tanah-tanah hutan. Padahal aktifitas mikroba memegang peran penting dalam transformasi unsur hara didalam tanah melalui proses oksidasi, reduksi pelarutan, penghelatan, pencucian, pertukaran, mobilitas dan reaksi-reaksi biokimia lain yang bersama dengan fauna tanah akan menciptakan serta membangun zona sehat bagi pertumbuhan dan perkembangan akar tanaman (Yusuf,2007).

Salahsatu upaya yang dilakukan untuk mengatasi masalah hara tanah adalah manajemen perbaikan kesuburan lahan sawah berbasis jerami.Diketahui bahwa jerami merupakan komponen vegetatif dari tanaman padi dan sebagai bahan organik yang murah dan mudah terurai.
Berdasarkan beberapa hasil penelitian bahwa produksi jerami setara dengan produksi gabah kering panen per satuan luas. Kandungan unsur hara jerami,jika disetarakan dengan dengan pupuk kimia meliputi: Urea 115 kg=31,18% N,TSP 23,50 kg =4,80%P, KCL 145,45 kg= 81,60% K, ZA 25,12 kg= 4,20% S, Kaptan 60,77 kg=23,40% Ca. Disamping unsur hara makro tersebut, jerami juga mengandung unsur hara mikro dan unsur esensial antara lain: Mg 15,60%, Fe 1,20%, Mn 3,36%, Zn 0,15%, Cu 0,02%, Si 444,00% dan Cl 10,80%.

Mencermati komposisi jerami yang demikian kompleks maka jerami bisa menjadi bahan organik untuk mensubstitusi kebutuhan petani dalam penggunaan pupuk kimia sintetik.Melalui penambahan jerami hasil panen padi, maka rekonstruksi kesuburan lahan sawah dapat diperbaiki serta fungsi tanah sebagai industri biologis dan media berkembangnya mikro organisme bisa dikembalikan dalam kerangka keseimbangan agroekologis.

Pengembalian jerami ke lahan sawah tanpa bakar akan membantu pemulihan sifat dan struktur tanah,paling tidak mengurangi keretakan tanah massif ketika musim kering terjadi serta konduktivitas hidrolik dan permeabilitas tanah memiliki sifat elastisitas dalam menyimpan dan menahan air. Dengan tambahan mikroba atau enzim tertentu maka kandungan seluloid pada jerami bisa dengan mudah dan cepat terdekomposisi menjadi bahan organik tanah.

Disadari bahwa reorientasi dan perlakuan lahan harus dilakukan berdasarkan keseimbangan ekologis dan diharapkan meminimalkan penggunaan sarana pertanian berbahan kimia sintetik khususnya pupuk anorganik yang notabene menimbulkan residu effect pada tanah dan tanaman.

Kegiatan perbaikan kesuburan lahan sawah berbasis jerami merupakan salahsatu usaha untuk mengembalikan potensi tanah/lahan sawah sebagai faktor produksi dan media tumbuh tanaman.Lahan yang terbebas dari bahan kimia sintetik akan menumbuhkan aktifitas mikroba tanah secara biologis serta perbaikan struktur dan agregat tanah secara fisik. Secara kimia akan terjadi penambahan unsur hara makro,mikro dan esensial lainnya yang pada akhirnya meningkatkan daya dukung lahan terhadap produktivitas tanaman.

Barru,10 November 2023

*Penguji Perbenihan dan Perbibitan TPHBun
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Barru

(Visited 190 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.