Oleh: Muhammad Sadar*

Komposisi pemenuhan pangan rakyat Indonesia sejak dahulu hingga kini masih mengandalkan beras sebagai sumber pangan utama. Oleh karenanya, upaya penyediaannya pun selalu dijaga, diawasi, bahkan harganya dikendalikan melalui kebijakan harga pembelian pemerintah. Kegiatan diversifikasi pangan terus dijalankan melalui substitusi sumber karbohidrat dari kelompok serealia lainnya atau jenis umbi-umbian.

Dengan pola pangan demikian, intervensi pemerintah terhadap penyelenggaraannya mulai pengadaan sarananya seperti benih, pupuk, pestisida, dan kegiatan pendukungnya meliputi pemenuhan pengairan, pengamanan produksi, serta perlindungan lahan dan tanaman terus dilakukan pembinaan-pengawalan-pendampingan budi daya dari hulu hingga panen dan pascapanen.

Di antara komoditas pertanian yang menjadi perhatian utama pemerintah adalah padi karena komoditas tersebut harus diamankan dan dilindungi karenanya disebut komoditas strategis nasional.
Jargon inilah yang mem-branding padi sebagai prioritas utama dalam pembangunan nasional.

Keterkaitan sektor ini sangat memiliki chemistry dengan sektor lain, efeknya berantai terhadap kegiatan sosial ekonomi lainnya seperti inflasi, climate change, labour intensive, kredit UMKM dan pembiayaan pertanian, transportasi, dan pergerakan perdagangan secara umum.

Seiring bergesernya periode musim atau dengan kata lain kondisi iklim yang fluktuatif (fase basah-kering yang tidak menentu) berdampak terhadap perkembangan organisme pengganggu tumbuhan hama penyakit tanaman. Dinamika tersebut menciptakan masa rentan terhadap tanaman budi daya utamanya tanaman padi. Potensi kehilangan produksi akibat gangguan OPT hama penyakit bisa mencapai di atas 50 persen, bahkan puso jika tidak ditangani dengan baik. Oleh sebab itu, tindakan yang harus dilakukan adalah dengan melakukan kegiatan perlindungan tanaman melalui Gerakan Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (Gerdal OPT) pada tanaman padi.

Gerdal OPT merupakan tindakan serentak yang diorganisir oleh unit kerja pertanian setempat dalam rangka pengendalian hama atau penyakit tanaman padi. Pengambilan keputusan pengendalian terlebih dahulu dilakukan penilaian status keadaan lapangan oleh petugas POPT. Observasi lapangan yang dilakukan antara lain mengidentifikasi jenis OPT hama/penyakit, jenis predator, masa inkubasi dan siklus, dan tindakan yang telah diambil petani, kemudian pemilihan bahan aktif yang sesuai. Hasil pengamatan lapangan oleh POPT akan membuat suatu rekomendasi pengendalian terhadap ambang batas kendali.

Manajemen pengendalian dilakukan dengan pengerahan sarana pestisida, mobilisasi SDM petani, sekaligus menggerakkan kesadarannya akan pentingnya pengendalian OPT padi yang terawasi dan terkontrol. Analisis lapangan yang perlu disadari oleh petani adalah pada kondisi pertanaman sekiranya ada potensi gangguan yang digambarkan melalui spot kerusakan tanaman. Tindakan yang harus diambil adalah stop spot, artinya jika sejak awal pertumbuhan tanaman padi terdapat gejala pendahuluan gangguan OPT maka sejak itu pula spot atau gejala tersebut harus dihentikan/distop agar tidak berkembang lebih luas.

Perkembangan OPT di lapangan paling tidak dipicu oleh beberapa faktor. Pertama, dukungan iklim seperti suhu, curah hujan, dan tingkat kelembapan. Kondisi tersebut akan mengaktifkan masa inkubasi hama penyakit yang berdiapause di alam. Ruang hidupnya akan terbuka untuk melanjutkan siklusnya.

Kedua, tanaman inang atau vektor seperti padi yang tersedia setiap musim memungkinkan hama untuk meletakkan telurnya setiap saat.

Ketiga, gangguan keseimbangan ekosistem seperti berkurangnya predator di alam yang mampu memangsa biotipe hama mulai telur hingga serangga dewasa.

Keempat, sikap petani apatis yang masih terbatas dalam mengenali dan mengidentifikasi daur hidup hama mulai telur, larva, hingga ngengat atau serangga dewasa.

Dengan mengandalkan bahan kimia anorganik, petani dengan kearifannya turut memusnahkan predator yang menjadi pelindung alami di pertanaman. Salah dosis dan bahan aktif apalagi mencampur antar merek pestisida kerap kali menjadi kebiasaan serta sasaran OPT yang dituju terkadang tidak tepat.

Kebijakan pengendalian OPT yang pernah diterapkan pemerintah pada kegiatan Sekolah Lapang Pengendalian/Pengelolaan Hama Terpadu (SL-PHT) pada era 1990-an harus diaktifkan kembali guna memperkuat pengetahuan, pemahaman, dan keahlian petani dalam mengelola agroekosistem usahatani padi.

Prinsip-prinsip PHT seperti budi daya tanaman sehat, pelestarian musuh alami, pengamatan berkala, dan petani sebagai ahli PHT seakan terabaikan dan harus di-refresh kembali oleh para pelaku pertanian di lapangan. Termasuk ambang ekonomi dan ambang kendali selayaknya kembali dilakukan penguatan. Asas-asas pengendalian seperti tepat sasaran, tepat cara, tepat bahan aktif, dan tepat waktu sudah saatnya diorganisir kembali dalam materi bimbingan kultur teknis.

Intensitas gangguan OPT pada pertanaman padi seakan tiada habisnya seiring meningkatnya frekuensi pertanaman setiap musim. Berdasarkan laporan periodik para petugas, POPT adalah hama penyakit padi yang paling dominan di Kabupaten Barru adalah hama penggerek batang dan penyakit blast. Seperti yang terjadi pada lokasi akselerasi padi di Desa Kupa adalah kerusakan tanaman padi disebabkan oleh hama penggerek batang.

Menurut hasil riset Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan-Balai Besar Padi dan IRRI (2008) menyimpulkan bahw hama penggerek batang mampu merusak tanaman pada semua fase tumbuh, baik pada masa pesemaian, fase anakan, maupun fase berbunga. Ketika serangan terjadi pada pembibitan hingga fase anakan, hama ini disebut sundep dan jika terjadi pada masa berbunga disebut beluk.

Hingga saat ini, belum ada varietas yang resisten terhadap hama penggerek batang. Oleh karena itu, gejala serangan hama ini perlu diwaspadai terutama pada pertanaman musim hujan. Waktu tanam yang tepat merupakan cara yang efektif untuk menghindari serangan penggerek batang. Tindakan pengendalian harus segera dilakukan jika >10 persen rumpun memperlihatkan gejala sundep atau beluk. Rekomendasi insektisida efektif digunakan yang berbahan aktif karbofuran,fipronil, dimehipo, bensultap, dan amitraz.

Pelaksanaan gerakan pengendalian OPT padi di Kupa sebagai suatu upaya penyelamatan pertanaman padi di tingkat lokal sekaligus membangun kesadaran masyarakat petani akan pentingnya perlindungan tanaman yang dikembangkan oleh pemerintah dengan segala sumber daya yang dimilikinya.
Melalui pengerahan sumber daya tersebut agar petani senantiasa berbuat mandiri untuk melindungi, merawat dan memaksimalkan pemeliharaan terhadap tanamannya. Materi singkat di lapangan yang disampaikan oleh petugas POPT berharap bisa menambah wawasan petani untuk lebih mengetahui dan memahami terkait organisme pengganggu tumbuhan.

Penulis hendak berpesan kepada petani bahwa sebaiknya bijaksanalah dalam penggunaan bahan kimia beracun pada kegiatan gerakan pengendalian karena bisa jadi memusnahkan musuh alami bersama hama sasaran yang berpotensi menjadi ledakan hama pada biotipe berikutnya akibat resistensi atau resurjensi pestisida dan lebih ganas lagi dalam merusak pertanaman. Residu effect yang ditimbulkan pestisida terhadap lingkungan dan pertanaman padi harus turut menjadi perhatian serius. []

Kupa,03 April 2024

*Warga Bengkel Narasi Indonesia, Jakarta.

(Visited 212 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.