Menikah adalah sebuah ibadah yang dihalalkan secara agama dan tercatat dalam hukum negara. Sebuah ikatan atau pernikahan antara dua orang yang secara hukum dan sosial diakui sebagai pasangan hidup.

Biasanya, menikah sebagai bentuk komitmen jangka panjang untuk hidup bersama, saling mendukung, dalam membentuk keluarga sakinah mawadah warohmah, tentunya.

Namun demikian, seiring perjalanan waktu, tak jarang harmonisasi biduk rumah tangga yang diharap mulai goyah, malah berujung petaka. Memang setiap hubungan rumah tangga memiliki tantangannya sendiri, ada yang baik-baik saja, dan ada yang tidak baik-baik alias sakit.

Banyak sebab musababnya, kepribadian pasangan, khususnya pria atau suaminya yang tempramental bisa menjadi salah satunya. Walaupun penampilan fisiknya perlente, gantengnya kayak Al Gazali, menarik hati wanita yang melihatnya, bikin spot jantung pacar atau istri, terpenting adalah bagaimana kalian berdua bisa saling memahami dan berkomunikasi. Disini, kita buang egoisme, dibutuhkan komunikasi yang baik dan saling pengertian untuk membantu mengatasi permasalahan tersebut.

Lantas, jangan ada istilah, “ada uang abang disayang, tak ada uang abang ditendang.”

Melihat “sakitnya” biduk rumah tangga itu, dikembalikan kepada kedua belah pihak untuk menentukan, apakah ingin bertahan atau berpisah dari pasangan hidup yang tempramental, adalah keputusan yang sangat pribadi dan kompleks. Apabila terindikasi adanya tindak kekerasan dalam rumah tangga, maka di Indonesia
undang-undang yang mengatur mengenai kekerasan dalam rumah tangga adalah Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga. Undang-undang ini memberikan perlindungan hukum dan penanganan khusus terhadap kasus kekerasan dalam rumah tangga.

Beberapa hal yang mungkin perlu dipertimbangkan oleh perempuan/istri, setelah mengenal lebih mendalam, ternyata pasangan hidup kita mempunyai sifat tempramental. Antara lain istri dan suami dapat berkomunikasi dengan baik tetang perasaan masing-masing?. Apakah ada upaya untuk memperbaikinya.

Kemudian ungkapkan, bagaimana perasaan kamj secara emosional dalam hubungan ini? Apakah hubungan ini memberi dukungan dan kebahagiaan, atau lebih sering menimbulkan stres dan kecemasan?

Selanjutnya, Apakah pasanganmu, dalam hal ini suami bersedia untuk berubah atau adakah tanda-tanda perbaikan dalam perilaku suami?, jika “terancam” diperlukan bantuan orang terdekat untuk membantu. Lantas, apakah hubungan ini seimbang? Apakah sebagai istri merasa dihargai dan didukung dalam hubungan rumah tangga yang sakit ini?

Istri harus memberi batasan, menjalin hubungan dengan pria/suami yang tempramental. Apakah istri siap mengambil langkah untuk mempertahankan hubungan ini atau apakah batas-batas tertentu sudah terlampaui?.

Keputusan ini sangat dipengaruhi oleh situasi unik masing-masing individu dan bisa sangat bermanfaat untuk mendiskusikannya dengan orang yang kamu percaya, seperti teman dekat atau konselor, untuk mendapatkan sudut pandang tambahan.

Menghadapi istri tempramental sudah biasa. Sebaliknya, menjalani hidup bersama suami/pria yang tempramental sangat luar biasa, melatih kesabaran dan tantangan tersendiri. Tetapi ada beberapa langkah yang dapat membantu menjaga hubungan tetap sehat, yakni pastikan secara tegas ada batasan yang jelas mengenai perilaku yang dapat diterima dan tidak dapat diterima.

Jika masih mau mempertahankan rumah tangga dari kegoyahan, hendaknya selalu usahakan untuk berkomunikasi dengan jujur dan terbuka. Hindari pemicu kemarahan pasangan kita. Jika suami mulai “kumat” tempramentalnya, cobalah untuk tetap tenang dan jangan membalas dengan kemarahan. Lebih baik ambil air wudhu, lalu mendekatkan diri kepada Allah SWT untuk menenangkan diri bisa sangat membantu.

Jika masalah temperamental suami berulang dan memengaruhi hubungan secara signifikan, pertimbangkan untuk mencari bantuan dari orang tua kedua belah pihak, baik orang tua istri maupun suami atau terapis. Jangan ragu untuk mencari dukungan dari teman yang dapat dipercaya atau keluarga, hal ini buat menjaga kesejahteraan emosional dan mental anak-anak serta istri.

Bukan hanya tugas-tugas kantor yang perlu di evaluasi. Hubungan rumah tangga juga butuh evaluasi. Ini perlu dilakukan, apabila perilakunya terus-menerus merugikan dan dia tidak menunjukkan perubahan yang signifikan, penting untuk mengevaluasi apakah hubungan tersebut sehat untuk sebuah keluarga.

Memprioritaskan keselamatan dan ketenangan bathin seorang perempuan/istri sangat penting dalam hubungan apapun. Jangan ragu untuk mengambil tindakan yang diperlukan demi kebaikan diri dari pria atau suami tempramental.

(Visited 8 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.