Pada Jumat, 28 Juni 2024, warga Bandung dan Cimahi dihebohkan dengan penemuan mayat seorang pria yang tergantung di jembatan penyeberangan orang (JPO) Cimindi-Cibeureum. Pria tersebut, Dimas Yonathan Tarigan, seorang guru honorer di SMK Sangkuriang 1 Cimahi, meninggalkan pesan dalam bentuk file di Google Drive yang dia tautkan di bio Instagram-nya. Pesan tersebut berisi curahan hati tentang rasa kesepian dan berbagai masalah pribadi yang ia hadapi, termasuk pengalaman dibully semasa kecil dan masalah kesehatan mental​​.

Bunuh diri sering dianggap sebagai jalan keluar dari permasalahan hidup yang tak kunjung usai. Namun, perlu disadari bahwa ini bukanlah solusi yang tepat. Menurut American Foundation for Suicide Prevention, bunuh diri sering terjadi ketika seseorang merasa terisolasi dan tak memiliki jalan keluar dari penderitaan emosional yang dialaminya.

Data dari situs StopBullying.gov dijelaskan bahwa anak-anak yang mengalami perundungan lebih mungkin mengalami masalah kesehatan mental jangka panjang, termasuk peningkatan risiko untuk depresi dan kecemasan yang dapat bertahan hingga dewasa. Anak-anak ini juga mungkin lebih sering absen dari sekolah, yang dapat berdampak pada pencapaian akademis mereka.

Seperti yang Dimas alami, perundungan selama masa kecil dan remaja memiliki dampak jangka panjang yang serius pada kesehatan mental dan risiko bunuh diri di kemudian hari. Penelitian menunjukkan bahwa korban perundungan lebih cenderung mengalami depresi, kecemasan, dan gangguan emosional lainnya yang bisa bertahan hingga dewasa. Kondisi ini bisa diperburuk oleh fenomena yang disebut “learned helplessness” di mana korban merasa tidak berdaya untuk mengubah situasi mereka, yang mengarah pada perasaan putus asa dan kehilangan harapan.

Sebuah studi oleh National Institute of Mental Health (NIMH) menemukan bahwa perundungan tidak hanya mempengaruhi kesehatan mental korban pada masa kanak-kanak, tetapi juga meningkatkan risiko masalah psikiatrik seperti kecemasan, depresi, penyalahgunaan zat, dan bahkan bunuh diri di masa dewasa. Hal ini berlaku baik bagi mereka yang menjadi korban maupun pelaku perundungan, termasuk Dimas.

Selain itu, perundungan dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan fisik seperti gangguan tidur, perubahan pola makan, serta masalah kesehatan kronis seperti sakit kepala dan sakit perut. Anak-anak yang mengalami perundungan seringkali mengalami penurunan prestasi akademik dan keterlibatan sosial, yang bisa terus berlanjut hingga dewasa.

Korban perundungan memerlukan perhatian khusus dalam hal kesehatan mental. Konseling dan terapi psikologis adalah beberapa cara yang bisa membantu mereka pulih dari trauma. Lembaga Kesehatan Mental Dunia (WHO) menekankan pentingnya akses ke layanan kesehatan mental untuk semua individu, terutama mereka yang mengalami trauma akibat perundungan.

Bersosialisasi memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan mental. Interaksi sosial yang positif dapat meningkatkan rasa keterikatan dan dukungan emosional. Studi dari University of Oxford menunjukkan bahwa orang yang memiliki jaringan sosial yang kuat cenderung memiliki tingkat kesejahteraan mental yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang terisolasi.

Beberapa kasus bunuh diri menunjukkan bahwa korban sering kali meninggalkan surat atau pesan tertulis sebelum mengambil nyawa mereka sendiri. Pesan-pesan ini bisa memberikan wawasan penting tentang kondisi mental dan alasan di balik tindakan tragis tersebut.

Contohnya Rosalie Avila, seorang remaja berusia 13 tahun dari Yucaipa, California, meninggalkan surat yang meminta maaf kepada orang tuanya sebelum mencoba bunuh diri akibat perundungan di sekolah. Ia menulis, “Maaf, Mom dan Dad. Aku cinta kalian,” diikuti dengan penjelasan mengenai bullying yang ia alami, termasuk hinaan terhadap penampilan fisiknya​.

Menulis, seperti yang dilakukan oleh Dimas Yonathan Tarigan, sebenarnya merupakan salah satu cara untuk menuangkan apa yang dipikirkan dan dirasakan. Ini dapat membantu memperbaiki kondisi kesehatan mental. Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan di jurnal Advances in Psychiatric Treatment, menulis tentang pengalaman traumatis dapat membantu individu mengatasi emosi negatif dan meningkatkan kesejahteraan psikologis.

Namun, daripada menulis dan meninggalkan tulisan tersebut untuk dibaca setelah korban bunuh diri, sebaiknya kita salurkan pikiran dan perasaan kita dalam bentuk tulisan yang dipublikasikan melalui berbagai media daring dan luring, atau bahkan diterbitkan dalam bentuk buku. Ini tidak hanya membantu individu tersebut, tetapi juga bisa memberikan inspirasi dan dukungan bagi orang lain yang mungkin mengalami hal serupa.

Berkaca dari kejadian tragis yang menimpa Dimas Yonathan Tarigan, kita seharusnya sadar tentang pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental dan dampak serius dari perundungan. Tentu saja bunuh diri bukanlah solusi atas permasalahan. Kita perlu menciptakan lingkungan yang mendukung dan terbuka agar setiap individu merasa diterima dan didengar. Dukungan sosial, akses ke layanan kesehatan mental, dan menyalurkan emosi melalui menulis adalah langkah-langkah yang dapat membantu mengatasi permasalahan hidup. Karena itu, menulislah! []

(Visited 50 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Iyan Apt

Sosiopreneur, Writerpreneur & Book Publisher

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.