Manusia sinting ya kamu, harusnya kamu sadar jika jam begini masih jam kerja! Ya terserah aku kenapa aku yang berkomunikasi sama kamu, kamunya yang marah? Emang aneh sungguh aneh binatang yang ada di muka bumi ini Art, ujar Graz. Eh siapa juga yang binatang ? Aku benar-benar Emosi. Ya kita yang hidup di muka bumi ini Art kamu & Aku. Kamu yang binatang benar-benar mirip binatang buas makanya berkomumikasi dengan orang tanpa kenal batas waktu. Tidak juga lagian aku yang korban waktu, energi juga paket internet kenapa kamu yang naik tensi Art. Ingat kamu macam-macam maka aku tidak segan-segan untuk delete nomor kamu Graz. Jangankan nomor aku Hp aku saja yang kamu buang juga aku akan ganti dalam hitungan detik. Gila stop aku benar-benar marah. Apa perlu manusia ini di potong biar dijadikan sate? Ah tidak pikir aku dalam hati. Tak lama aku pikir, biarkan saja dia ngomong terus menerus. Ini baru komunikasi lewat virtual belum kenal juga dari dunia nyata, kata aku dalam hati.

Graz chat sudah hampir beberapa paragraf, aku tidak balas, hingga ia chat lagi dan chat lagi. Pada paragraf akhir ia mencoba memberikan aku satu makna dari arti kalimat yang amat sangat berbeda dengan pertemuan pertama mambuat aku bertanya pada hati kecil aku sambil berlinan air mata. Art tidak berniat jahat sama kamu. Namun aku jujur sama kamu bahwa “sejujurnya aku menyukai kamu bahkan berniat untuk mencintai kamu” Kenapa masih ada orang yang setega itu. Dimarahi, dicaci bahkan diblok ia masih berjuang hingga harus membuka diri serta perasaannya sendiri. Aku benar-benar bingung melihat chat dia mengenal aku lewat dunia internet. Terkadang aku pikir, ah semua cowok itu sama brengseknya tidak ada yang tulus.

Aku tidak akan terjebak oleh tipuan mereka yang datang dengan kata-kata gombal yang berbeda. Aku hanya diam sambil menghapus air mata. Aku tidak yakin pada kata-kata yang dilontarkan oleh Graz melalui chat. Lalu aku berpikir dari mana ia mengambil nomor telpon aku. Sambil membaca ulang rangkian kata-katanya, aku pun lalu bertanya Security kamu, ambil nomor Hp aku dari siapa. Ia bukannya menjawab, malahan ia kembali berkata, jangan bertanya pada aku, dari mana aku memperoleh nomor kamu Art, karena di ujung langit tanpa jaringan pun aku bahkan berjuang untuk mendapatkan kamu Art. Jawaban yang aku butuh, bukan pertanyaan. Art jangan emosi terus, kamu itu cantik tapi kenapa emosi teruss. Okey aku jawab ya bos…cantik.

Aku sudah lama add ke facebook kamu sejak empat tahun lalu Art. Tapi aku kamu anggap bukan manusia tapi binatang. Hanya salahnya binatang yang satu ini terlalu menyukai kamu sejak hari pertama aku melihat foto-foto kamu di facebook kamu. Aku sudah add empat tahun lalu saat kamu benar -benar di kenal banyak orang karena impian masa kecilmu. Aku sadar kita bagai bumi dan langit seperti kata kamu security. Aku sadar Art akan hal itu tapi aku. Namun sejak empat tahun lalu aku add ke facebook kamu tapi kamu tidak bisa kasih konfirmasi ke aku.

Sebenarnya aku malu sebagai seorang pria karena aku pikir kamu wanita sombong yang baru pertama aku kenal dalam hidup. Terus saja aku menyimpang foto-foto kamu di album pribadi aku sambil menunggu konfirmasi dari kamu. Namun tidak pernah, dan pada akhirnya aku tugas kerja ke luar negeri untuk mengikuti pelatihan kala itu. Lalu aku cek konfirmasi dari kamu meksipun ikut pelatihan di luar. Tapi tetap saja hasilnya sama. Ketika pulang dari sana aku baru melihat nomor telfon kamu dari salah satu page kamu Art.

Dari situ aku pikir doa-doakku telah didengar oleh Tuhan untuk bisa mengenal kamu secara dekat. Ya aku langsung ambil nomor kamu lalu aku cek foto kamu ya sukseslah aku jawab Graz. Art satu yang buat aku bingung ternyata Tuhan itu adil ya? Dia mampu membuat kita menunggu dan akan ada hasil ketika kita sadar dengan sabar. Aku bahagia saat text ke nomor WA kamu, tapi sumpah ketika kamu bentak aku, aku malu karena aku sadar akan diriku sebab kehidupan kita bagai bumi dan langit. Gila tapi aku sudah jadi teman kamu sekarang, pungkas aku pada Graz. Atas semua itu aku jujur bahwa niat ingin jadi teman kamu berawal dari rasa suka dan memunggu konfirmasi dari facebook tapi tidak dapat, ternyata kamu baik meskipun tukan marah Graz memuji aku semampu mungkin.


Komunikasi kami sudah berjalan sejak Mey 2021 antara Graz & Aku. Kami terus saling peduli satu sama lain meskipun tidak saling kenal dari dunia nyata. Graz pria yang baik menurut aku. Saat aku memblok berkali-kalipun ia selalu ada bagiku meskipun hanya berkomunikasi lewat chat. Aku tidak tahu seberapa kagumnya Graz ke aku, tapi dari rangkaian katanya benar-benar baik.


Pada tahun yang sama kami merasa nyaman satu sama lain meskipun tidak pernah berkomunikasi secara face to face yang jelas relasi kami makin erat melalui chat karena perkenalan kami terjadi pada situasi Covid-19. Masa di mana semua orang jadi panik bahkan tempat-tempat ibadah menjadi kosong hanya karena sutuasi pandemia Covid-19. Graz dan aku justru merasa keasyikan ngobrol berjam-jam ketika waktu free melalui chat. Ah kok semua orang di planet bumi keyakinan dan kepercayaan justru jadi rapuh karena takut pada situasi Covid-19. Kami berdua justru kebalikan di mana Covid-19 justru takut sama kami bahkan menjadi perantara antara Graz & aku kala itu. Setiap waktu free atau bahkan jam kerja Graz selalu peduli dan perhatian sama aku jadi apapun itu nama relasi kami yang jelas kami merasa nyaman.

Part 2

(Visited 26 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Devinarti Seixas

Penulis dan Pendiri KPKers Timor Leste, dengan mottonya: "Kebijaksanaan bukan untuk mencari kehidupan melainkan untuk memberi kehidupan dan menghidupkan". Telah menyumbangkan lebih dari 100 tulisan berupa; berita, cerpen, novel, puisi dan artikel ke BN sejak 2021 hingga sekarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.