Oleh: Juharman Muliadi

Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan, begitu juga saya dalam mencintaimu. Namun, justru melalui penerimaan kamu atas kekuranganku dan penghargaan terhadap kelebihanku hubungan kita dapat semakin tumbuh. Cinta bukan hanya tentang menerima kelebihan, tetapi juga menghargai kekurangan dan tumbuh bersama. Mungkin, pernikahan kita baru seumuran jagung, sejak kita saling mengenal sampai sekarang. Tapi, di umur pernikahan kita yang masih terbilang cukup belia kita telah menjadi dewasa sejauh ini yang memang itu sudah menjadi harapan kita berdua. Semoga di hari istimewamu ini cinta kita terus berjalan, rezeki kita tetap mengalir dan kesabaran kita terus meningkat.

Mari kita sama-sama belajar dari pernikahan A. Marsya dan A.Rezki. Maha Besar Allah yang telah menciptakan manusia secara berpasang-pasangan. Pernikahan yang memang didasari oleh cinta dari keduanya. Sungguh memberikan kita pelajaran tentang arti cinta yang tulus terhadap pasangan. Di mana seorang gadis cantik A. Marsya dengan cinta yang begitu tulus menerima A. Rezki sebagai pasangan hidupnya yang diketahui memiliki tubuh yang kecil dibanding dengan laki-laki sebayanya. Namun, dengan ketulusan cinta, Marsya tak memandang semua itu.

Selain dari ketulusan dalam mencintai, kita juga bisa belajar dari pernikahan Asdar & Imel tentang sebuah keikhlasan. Di mana Asdar yang awalnya melamar kakak dari Imel hampir saja batal menikah karena sehari sebelum menikah kakak Imel kabur dari rumah karena tidak mau menikah dengan Asdar. Dengan keikhlasan hati dari Imel, Asdar tetap menikah walau bukan dengan perempuan pinangan pertamanya, namun dari calon adik iparnya yang memiliki hati yang begitu ikhlas menerimanya. Benar, bahwasanya tak ada jodoh yang tertukar.

Dari pernikahan Ali imran dan Dillah, kita juga diajarkan tentang kesabaran. Di mana pada prosesi sungkeman, Dillah sempat mendapat perlakuan yang tidak baik dari orang tua Imran hanya karena status dan profesi yang ditekuni oleh Dillah. Memang benar, status dan profesi bukanlah ukuran dalam mencari pasangan. Namun, hal ini belum dipahami oleh orang tua Imran.

Pasangan yang bahagia juga perlu adanya kesetiaan dan kini kita bisa belajar dari Bojes dan Lia. Kesetiaan Lia kepada Bojes bukan hanya sekadar kata romantisme yang mengatakan, “gunung akan dia daki dan laut akan ia seberangi,” namun kesetiaan Lia kepada Bojes mampu menahan kapal fery yang memuat penumpang dan juga mobil untuk bertolak dari dermaga. Kini mereka berdua telah hidup bahagia. Pernikahan mereka bisa kita sebut sebagai suatu keunikan karena betul-betul terlihat dua insan yang jatuh cinta tetapi semua orang merasakan kebahagiaan.

Ketulusan, keikhlasan, kesabaran dan kesetiaan empat kata yang kita pelajari dari kisah di atas tidaklah cukup untuk membina keluarga yang rukun dan damai. Oleh karena itu, keterbukaan kitalah yang akan melengkapinya. Karena Ketika seorang istri terbuka kepada suami, dan sebaliknya, hubungan tersebut cenderung lebih kuat dan lebih mampu menghadapi berbagai tantangan. Keterbukaan bukan hanya tentang berbagi perasaan atau pikiran, tetapi juga tentang menjalin ikatan yang lebih dalam dan saling mendukung satu sama lain. Semoga semangat kita untuk terus belajar bersama menjadikan cinta kita terus tumbuh. Semoga peristiwa yang kita alami kemarin bisa menambah kualitas kesabaran kita dan bisa menjadi pelajaran agar memantaskan diri untuk menerima amanah dari Allah SWT. Aamiin.

(Visited 34 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.