Oleh: Ruslan Ismail Mage*

“Kaki seseorang harus ditanam di negaranya, tetapi matanya harus mengamati dunia.”

Kalimat bijak ini diungkapkan George Santayana, filsuf dan penulis kelahiran Spanyol pada 1863. Pesan Santayana sangat relevan untuk direnungkan oleh seluruh elemen negara, dari pejabat pemerintahan hingga rakyat biasa. Sebab, dalam era keterbukaan global yang terus bergerak dinamis, menjaga ketentraman negara adalah tugas kolektif yang tak bisa ditawar.

Jika kalimat Santayana itu dijabarkan lebih jauh, bisa dikatakan: kaki harus tertanam kuat di tanah air untuk menahan beban persoalan yang tak pernah berhenti datang. Sementara itu, mata harus senantiasa terbuka mengamati dinamika dunia, memahami perubahan sosial, budaya, ekonomi, dan politik global, agar bangsa ini tidak terperangkap dalam isolasi, tetapi tetap adaptif, progresif, dan penuh empati.

Sebab sejatinya, negara adalah tempat penampungan masalah. Ia adalah medan tempur bagi aneka persoalan masyarakat yang masuk silih berganti, menuntut penyelesaian yang bijak dan solutif. Itulah mengapa negara sangat membutuhkan pemimpin yang matang dalam berpikir, sabar dalam bertindak, dan cerdas dalam berkomunikasi. Ada dua hal yang bisa dengan cepat membuat sebuah negara lumpuh: harapan yang tidak realistis dan komunikasi yang buruk.

Di sinilah pentingnya menekankan makna tajuk tulisan ini: negara membutuhkan komunikator, bukan provokator.

Dalam sejarah peradaban bangsa-bangsa, peran komunikator dan provokator tak pernah benar-benar terpisahkan. Bangsa yang sehat, beradab, dan demokratis membutuhkan komunikator: sosok yang mampu menyampaikan fakta dengan tenang, mengelola perbedaan dengan damai, dan menjaga semangat persatuan di tengah beragam suara. Sebaliknya, bangsa yang tidak sehat justru membuka ruang bagi provokator: mereka yang memanaskan situasi, memelintir fakta, membangkitkan sentimen, dan memperkeruh keadaan untuk kepentingan sempit.

Indonesia, dengan seluruh keberagamannya, tidak sedang dalam kondisi baik-baik saja. Polarisasi sosial, tekanan ekonomi, disparitas kesejahteraan, dan riuhnya kompetisi politik membuat negeri ini semakin rawan perpecahan. Dalam situasi seperti ini, negara tidak membutuhkan provokator yang membakar emosi rakyat. Negara justru membutuhkan komunikator sejati, yang setiap diksi dan bahasanya menebarkan kesejukan, menumbuhkan kepercayaan, dan merajut semangat kebangsaan.

Komunikator negara harus memahami benar konsep Jim Rohn yang mengatakan, “Komunikasi yang efektif adalah 20 persen apa yang kamu ketahui dan 80 persen bagaimana perasaanmu tentang apa yang kamu ketahui.” Maknanya sederhana namun mendalam: sebelum berbicara di ruang publik, ukur dan timbang dahulu dampaknya terhadap perasaan publik. Jangan sampai komunikasi pemerintah justru menoreh luka baru di hati rakyat yang sudah lelah.

Lebih jauh lagi, Mahatma Gandhi pernah menegaskan, “Kemampuan kita untuk mencapai kesatuan dalam keragaman akan menjadi keindahan dan ujian bagi peradaban kita.” Sebuah bangsa yang besar bukan diukur dari kerasnya suara mayoritas, melainkan dari sejauh mana ia mampu memelihara ruang aman bagi semua perbedaan.

Maka dari itu, setiap pejabat publik, setiap juru bicara negara, setiap pemangku kepentingan di ruang demokrasi, wajib mengasah kepekaannya. Setiap kata yang keluar dari mulutnya bukan sekadar suara pribadi, melainkan representasi negara yang sedang ia layani. Setiap gestur, intonasi, bahkan ekspresi wajah, adalah bagian dari komunikasi politik yang akan ditafsirkan publik.

Bangsa ini telah belajar dari sejarah: banyak luka nasional lahir bukan karena peluru, tetapi karena kata-kata yang salah. Banyak konflik horizontal bermula dari komunikasi elite yang abai pada sensitivitas rakyat. Maka, di tengah tantangan zaman, negara ini membutuhkan para komunikator yang tulus, cerdas, rendah hati, dan penuh cinta tanah air.

Tidak ada kemajuan tanpa komunikasi yang baik. Tidak ada persatuan tanpa kata-kata yang mengikat, bukan yang memecah. Negara ini bukan medan adu provokasi, melainkan rumah bersama yang harus kita jaga dengan tutur bijak dan hati bersih.

*Akademisi, penulis buku-buku motivasi, kepemimpinan, dan demokrasi.

(Visited 63 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.