Hari ini mentari bersinar terang,
Tanggal enam di bulan yang tenang.
Juni berbisik dalam angin pagi,
“Selamat ulang tahun,” kata bumi dan langit tinggi.
Puji Tuhan, Sang Pemberi nafas,
Yang menuntunku lewati waktu yang deras.
Setiap detik, setiap langkah kecil,
Ada kasih-Nya yang lembut dan stabil.

Aku bersyukur atas hidup yang kudapat,
Dalam suka dan luka yang silih berganti cepat.
Setiap pelajaran, tangis dan tawa,
Adalah berkat dari Surga yang nyata.
Tuhan, Engkau gembala jiwaku,
Penyembuh hatiku, cahaya jalanku.
Di tahun baru usiaku ini,
Kubuka hati, sambut rencana-Mu yang suci.
Tak kupinta pesta gemerlap dunia,
Cukup hadirat-Mu yang penuhi jiwa.
Bersama-Mu, aku tak sendiri,
Setiap ulang tahun adalah janji abadi.

Terima kasih atas orang-orang yang Kau kirim,
Yang hadir dalam kasih yang saling mengalir.
Mereka adalah peluk dari-Mu yang tak kasat,
Mengingatkanku bahwa aku sungguh didapat.
Kubawa syukur dalam doa yang hening,
Atas semua anugerah yang datang dan akan datang.
Engkau setia, tak pernah jauh,
Di setiap musim, dalam suka dan keluh.
Tuhan, jadikan aku bejana-Mu yang hidup,
Yang terus memuji, tak pernah redup.
Dalam usia yang bertambah hari ini,
Kuharap kasih-Mu makin nyata di bumi ini.

Bila nanti badai kembali datang,
Kuingat hari ini dengan hati tenang.
Karena Engkau telah memegang tanganku,
Sejak awal, kini, dan selamanya pun begitu.
Selamat ulang tahun, jiwaku berseru,
Syukur dan puji hanya bagi-Mu.
Tuhan yang setia, Engkau yang Maha Esa,
Bimbing aku hingga tujuan terakhirku di Surga.
by profa.EPXim’25
