Oleh: Dev Seixas’1125

Hari mulai menjelang malam, semua teman dana anak-anak datang memanggilku. Ibu ayo kita pergi nonton konser musik. Belum makan tapi tidak terasa lapar. Sambil berdendang mengikuti irama panggilan anak-anak untuk menonton konser atau pameran di tepian pantai.

Kami benar-benar merasa menikmati perjalanan kami menuju konser atau tempat pameran. Tiba di lokasi kami memilih duduk di pantai berama kawan-kawanku juga anak-anak.

Mulai terasa angin sepoi-sepoi dari tepian pantai. Aku mencoba berjalan perlahan-lahan menujuh pantai dan berdiri sejenak di padan pasir sambil menatap ke arah ombak. Ide-ide tentang kenangan itu muncul tiba-tiba di benak membuat seluruh anggota tubuhku terasa gugup saat mengingat memory 1 November yang aku lewati bersama someone.

Sulit aku alihkan pandangan ke arah pantai menuju pemeran karena aku benar-benar menikmati suasana malam itu, entah mengapa tiba-tiba saja aku benar -benar rindu Padang pasir malam itu. Sambim berdiri terus merenung aku akhirnya mengalihkan perhatian ke langit sambil melihat bintang-bintang mengelilingi bulan.

Terasa tubuh mulai dingin ketika obsesi membawa aku pada memory 1 November. Aku tidak menyangka saja kala kaki berpijak di padang mucul lagi moment jutaaan imajinasi tentang moment romantis tersebut.

Lebih baik menghindari, akhirnya aku mencoba berpaling muka ke arah kawan-kawan serta anak-anak yang duduk di tepian pantai. Sambil berjalan meninggalkan pantai menuju kawan-kawan yang lagi ramai ingatanku selalu terpaku pada memory itu. Menarik nafas panjang aku memcoba bermain dengan anak-anak .

Tak menduga dengan cara diam di balik kegelapan malam ada seorang pria yang sedang fokus memandang ke arahku.

Aku tidak menyanka saja, kenapa pria itu tetap menatap aku. Aku akhirnya mencoba berjalan ke arah yang cukup jauh agar melihat gerak geriknya apakah ia memandangku atau orang lain.

Konsentrasiku makin terganggu entah mengapa. Rasanya aku mengenal pria itu tapi dimana iya aku sudah lupa. Aku lalu berjalan lagi menuju lokasi dimana kawan-kawanku berada.

Ketika sedang melangkah mataku masih tetap memandang ke arah pria itu entahlah suara hati memulai berbisik padaku jika ia sedang memandang ke arahmu.

Aku bingung siapa gerangan pria berparas tinggi itu. Hmm sambil termenung aku duduk dan bermain sama anak-anak. Saat aku memandang ke arahnya ia selalu saja menatap aku dari arahnya berdiri dengan caranya sendiri di balik gelapnya malam.

Tiba-tiba pria itu sengaja membawa seorang anak kecil dan berjalan mengelilingi tempat kami sedang duduk menikmati susana malam konser berlangsung.

Terus berjalan mengikuti anak kecil tersebut pada akhirnya anak itu berlari ke arahku dan berhenti sejenak. Pria itupun menyusul dari belakang sambil berkata helo. Aku langsung terkejut ternyata dia adalah objek dari memory 1 November yakni pria yang hadir dalam hidupku dengan penuh keberanian beberapa tahun lalu.

Aku merasa khawatir dan hampir salah tingkah di hadapannya. Kenapa bisa terjadi iya bukanlah aku baru saja terobsesi oleh peristiwa akan memory 1 November ketika hendak berdiri di atas pasir dan melihat ombak?

Terus kenapa Objek memory itu tiba-tiba hadir? Sampai harus menggunakan cara mendekati aku dengan anaknya? Bukankah semua yang pernah terjadi sudah berakhir?

Sambil berjalan mendampingi putra kecilnya aku sudah menduga apabila itu hanya tips agar ia bisa berbisik lagi ke telingaku.

Hmmm by badanmu tambah sexy, aku hanya diam menatapnya karena tidak menyangka saja aku bisa bertemu dengannya di saat yang sama kala aku sedang mengingat memory pada malam itu.

Tiba-tiba ia merasa tak puas akhirnya terus berjalan dengan putra kecilnya dan sengaja mendekati diriku. Aku justru gugup kenapa bisa kayak gini sedangkan dia terus berjuang hanya demi menghindari tatapannya ke aku dari hadapan sang istri.

Putra kecilnya pun berlari lagi menuju diriku akhirnya aku mencoba bermain dengannya dengan cara mengikat batu dan memberikan sebagai kado yang memiliki makna tersendiri.

Namun, objek memory sadar bahwa batu itu ada makna sambil berjalan ka arahku dan berkata, “hmm makin sexy saja badanmu”, ujarnya. Aku hanya tersipu malu karena tidak bisa mengatakan hal yang sama bahwa sesungguhnya sejak tadi ketika melihat ombak di pantai aku sudah rindu memory 1 November.

Tidak tahu saja hanya kebetulan terjadi lagi pertemuan nyata pada malam itu. Benar semua yang dikatakan oleh orang klasik bahwa, segala pertemuan yang terjadi bukan atas kehendak kita melainkan kehendak semesta.

Hanya saling diam membisu dengan bahasa isyarat malam itu. Ia terus mencoba berjalan mengelilingi lokasi aku duduk dengan tatapan nakal seperti awal pertemuan di dunia real pada malam itu.

Entah Kenapa aku anggap kisah yang sudah ending justru kembali hadir ketika aku merindukan memory 1 November.

Seperti orang asing malam itu, tidak saling mengenal walaupun perasaan di bumbui lagi kisah romantis yang pernah terjadi secara instan antara aku dan dirinya.

Mungkin saja kalau saat aku tidak ada di lokasi itu ya tidak, bakalan berjalan mengelilingi lokasi itu bersama sang putra kecil.

Aku yang awalnya hanya rindu pada memory 1 November, saat kaki berpijak di atas padang pasir justru merasa gugup saat tahu, jika dia adalah realita yang benar-benar hadir ketika aku rindu.

Agak lama actionnya akhirnya beberapa jam kemudian ia pulang bersama istri dan anak-anaknya.
Kamipun lalu pulang meninggalkan tempat tersebut dan hanya kenangan yang terlintas.

(Visited 9 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Devinarti Seixas

Penulis dan Pendiri KPKers Timor Leste, dengan mottonya: "Kebijaksanaan bukan untuk mencari kehidupan melainkan untuk memberi kehidupan dan menghidupkan". Telah menyumbangkan lebih dari 100 tulisan berupa; berita, cerpen, novel, puisi dan artikel ke BN sejak 2021 hingga sekarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.