Di tengah sunyi, aku menabur harapan,
Dengan doa-doa yang tak pernah padam.
Kupeluk mimpi dalam peluh perjuangan,
Menjaga nyala api dalam dada yang dalam.
Tak terhitung malam kuhabiskan sendiri,
Menatap langit, merapal janji.
Bahwa suatu hari Tuhan akan bukakan pintu,
Bagi jiwa yang percaya dan tak pernah ragu.

Hari ini, semesta menjawab dengan lembut,
Aku di wawancarai oleh para dosen dari UI,
Walau hasilnya masih terselubung.
Tapi harapanku tak pernah pudar.
Air mataku tak lagi karena luka,
Melainkan karena cinta-Nya yang nyata.
Langkah-langkah kecil yang pernah goyah,
Kini berdiri tegak, tak lagi lelah.

Ilmu bukan lagi sekadar pelajaran,
Tapi bentuk syukur dan pengabdian.
Biologi—tentang kehidupan dan keajaiban,
Yang kutekuni dengan hati dan kerendahan.
Terima kasih untuk Tuhan yang setia,
Untuk waktu yang tak pernah sia-sia.
Untuk pintu yang sempat tertutup rapat,
Namun kini terbuka dengan rahmat yang lekat.
Kepada diriku, aku berterima kasih,
Karena kau tak menyerah saat semua terasa letih.
Kau tetap berjalan dalam hening dan sabar,
Meski jalan tampak jauh dan tak tergambar.

Ini bukan akhir dari cerita,
Melainkan awal dari tanggung jawab dan makna.
Langkahku ke depan tak hanya tentang gelar,
Tapi tentang pelayanan dan kasih yang mengakar.
Akan kutulis pengetahuan dengan cinta,
Akan kubagi terang untuk semesta.
Bukan untuk kemegahan tapi pujian,
demi hidup yang penuh keajaiban
Dan jika suatu hari aku menoleh ke belakang,
Kuingat hari ini dengan senyum yang tenang.
Karena aku tahu, semua luka dan tanya,
Telah Tuhan ubah menjadi karunia yang mulia.
By profa Elvira P. Xim’25
