Oleh : Rosita Samad, SP

Masa berganti, melewati lorong waktu kehidupan, mengukir untaian kenangan lalu dan menitipkan asa di hari esok. Hari ini, 8 Juli 2025 M, 26 tahun lalu bertepatan dengan 24 Rabi’ul Awwal 1420 H, lahir putri kecil melengkapi bahagia sebagai ayahbunda. Tangismu membuat ayahbundaku dan Ayah Sabir tersenyum bahagia. Betapa tidak, begitu baiknya Allah memberikan putra dan putri dalam waktu yang hampir berdekatan.

Ayahanda H. Abd. Samad Bin Matana menggendong sepanjang hari sambil sesekali melantunkan ayat suci Al-Qur’an ke telinga mungilnya. Sebagai ibu, tentu saja hilang semua sakit yang mendera karena proses pembukaan yang tidak maju-maju selama tiga hari.

Putri kecil lincah dan aktif tumbuh seiring waktu, dan kini menginjak usia dewasa dan mulai mencari minat dan talentanya. Sebagai ibu, saya dan bapak sambungnya hanya dapat mensupportnya dengan doa, harapan, dan materi sesuai kemampuan kami. Syukur alhamdulillah atas amanah yang Allah berikan—anak-anak yang penurut dan tak membebani di luar kemampuan kami, anak-anak yang menerima dengan ikhlas takdirnya, termasuk ditinggal wafat ayahnya di usia yang relatif masih muda.

Generasi Z (Gen Z) yang lahir pada tahun 1997 sampai tahun 2000 dikenal sebagai generasi yang ambisius, mahir digital, percaya diri, namun rentan terkena depresi dan anxiety. Putriku lahir pada era yang menyajikan lifestyle yang sangat berbeda dengan Generasi X, yang lahir tahun 1965 sampai tahun 1980, yang dikenal sebagai pribadi yang mandiri, fleksibel, dan pekerja keras. Generasi X yang kini telah menjadi ayah bunda seperti saya tentu memiliki tantangan dalam pola pengasuhan anak. Harus berperang dengan dampak negatif gadget yang mau tidak mau, suka atau tidak suka, menjadi bagian dari keseharian putra-putri kita.

Kebijakan dalam bersikap dan mengasuh putra-putri agar menjadi pribadi yang mandiri dan mengantarkannya menjadi seseorang di masa datang sesuai dengan zaman di mana mereka tumbuh dan berkembang. Melangkahlah dalam keridaan Allah, duhai putriku, karena tak ada sehelai daun pun yang jatuh melainkan atas izin-Nya.

Barakallah fii umrik, putri cantikku. Hadirmu membawa pelangi dalam kehidupanku, mengubah egoku menjadi empati. Kubiarkan kerasnya takdir menghempas jiwa dan ragaku untuk memastikan bahwa kalian tetap dapat tersenyum.

Banyak hal yang kita lalui bersama, putriku—long tour Jawa-Bali, family gathering dengan teman kantor, bahkan hingga momen ketinggalan pesawat Batik Air di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar–Surabaya di awal kuliahmu di Malang, yang menjadi momen yang senantiasa teruntai dalam kenangan hidup.

Barakallah fii umrik, putri cantikku. Tetaplah indah, karena hadirmu adalah warnaku. Semoga Allah Azza wa Jalla mengabulkan hajatmu dan menganugerahkan hidup yang berkah kini dan nanti.

8 Juli 2025

(Visited 54 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.