Maling memang membuat korbannya geram. Apapun bentuk dan jenis maling memang tidak dibenarkan, baik di masyarakat maupun di mata hukum.

Namun, ketika warga di lingkungan perumahan kalian tinggali menangkap seorang maling bra atau maling cabe, tidak dibenarkan main hakim sendiri. Perbuatan menghakimi keadilan, maka rasa empati terhadap sesama manusia berubah jadi emosi.

Sebenarnya mereka tidak mau maling kalau tidak terpaksa. Keterdesakan perekonomian membuatnya nekat maling demi kebutuhan dapur, serta memenuhi biaya bulanan anak-anak dan istri. Guna memenuhi itu semua, nekatlah mereka maling tidak memedulikan halal maupun haram, asal kebutuhan terpenuhi, merampok sekalipun dijabanin.

Maling tidak hanya berlaku bagi rakyat jelata disebut maling kelas teri, maling kelas coro itu kantong sampah. Maling juga berlaku bagi koruptor yang dilabeli maling “kakap”.

Sialnya ketika maling kelas teri yang ketangkep pasti digebukin massa, main hakim sendiri, mereka merasa hidupnya paling benar, tak ayal empati berubah emosi melebihi binatang buas. Sementara “Maling Kakap” difasilitasi. Logikannya, rakyat miskin ora kuat mbayar “hukum” sehingga berlaku hukum rimba, maling kelas teri ketangkap pasti dihakimi warga hingga mampus. Maling kakap ketangkep diantar jemput naik mobil berAC.

Beda perlakuan sama maling kelas kakap, mereka punya duit ada kenalan pengacara (kuasa hukum) untuk menangkal hukum rimba. Tak heran para koruptor sebut saja maling “kakap” punya jabatan, kekuasaan dan cuan. Memang duit tidak dibawa mati, tapi duit bisa membatalkan hukuman mati bagi koruptor yang divonis hukuman mati.

Kami turut berduka cita bagi keadilan di negeri ini, untuk semua saudaraku jangan lah kalian berbuat salah sedikit pun apalagi sampai nekat maling, lihatlah hukum di Indonesia, dimana yang maling cabe di hakimi, sedangkan para “tikus”  kantor di negeri ini, malah difasilitasi. Olehnya itu, renungkanlah persahabatan dengan setan, baik wujud fisik maupun tak kasat mata. Sesungguhnya ketika setan berkawan dengan seorang berbuat jahat  menguasainya, dicabutlah berkah umur, amal, perkataan dan rejeki maling itu.

Cabe memang pedas bro, secara harfiah “maling cabe dipukuli” adalah bentuk sindiran atau peringatan sosial, bukan hanya tentang mencuri cabe tok, melainkan menggambarkan bagaimana masyarakat bisa bereaksi berlebihan terhadap pelanggaran kecil, lebih keras daripada terhadap pelanggaran besar.

Inilah faktanya orang kecil yang mencuri untuk bertahan hidup langsung dihukum massa, sedangkan koruptor alias maling kelas kakap lolos. Ini sebuah ironi dan ketimpangan dalam sistem keadilan, dan masyarakat melampiaskannya pada kasus-kasus kecil seperti ini.

Kata Netizen, kasihan maling cabenya lepaskan saja borgolnya biar dia bisa kabur, dia seorang ayah yang mencari nafkah buat anak-anak dan istri.

“Jangan digebuki bisa-bisa mati malingnya. Jangan main hakim sendiri, kasih saja malingnya itu uang,” kata netizen yang baik hati.

Anehnya, ketika netizen yang berkomentar positif tadi rumahnya disamperin maling, giliran dia ngegas jadi provokator “bakar hidup-hidup malingnya”, sadis!.

Sementara diluar sana ada koruptor kakap merampok duit kalian miliaran rupiah jumlahnya, iya betul duit kalian yang setiap bulannya kamu setor dalam bentuk pajak ditilep buat plesiran, kalian malah terkesima menyaksikan mereka berlenggak-lenggok mirip kucing berjalan kekenyangan.

Begitu maling-maling ‘kakap’ tertangkap KPK, dia difoto lalu melambaikan tangan, layaknya ajang pencarian bakat, tersenyum lebar di depan kamera jurnalis dan kalian ikut tersenyum manis, tanpa rasa marah terhadap tersangka, miris….pencuri kecil dijatuhi hukuman berat, sementara pencuri kakap dihukum ringan, benar-benar hukum tajam ke bawah, tumpul ke atas.

Dengan demikian, bila tergoda berbuat dosa, orang yang memimpin sebuah negara pun telah kehilangan harga dirinya, keluarga dan masyarakatnya. Akhirnya melemahlah kehormatan dalam hatinya, sehingga koruptor yang terhormat ini tidak menganggap buruk perbuatan jahat yang dilakukan olehnya sendiri maupun oleh orang lain. Ia menganggap keburukan tersebut merupakan hal yang lumrah, kalau sudah sampai pada batas yang demikian, maling-maling itu kelak akan memasuki pintu kebinasaan.

(Visited 32 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Subhan Riyadi

Bukan siapa-siapa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.