Saat dunia perlahan memudar,
dan langkahku kehilangan peta,
ketika suara manusia tak lagi terdengar,
dan gelap menyelimuti segalanya—
Aku duduk diam di tengah kehampaan,
di ruang hatiku yang nyaris hancur,
namun di sanalah Engkau datang pelan,
bagai fajar lembut yang penuh pengampun.

Segalanya yang pernah kupeluk menghilang,
kemegahan, nama, dan harapan fana,
namun justru saat itu,
kasih-Mu memenuhi setiap celah jiwa.
Tiada lagi ruang untuk takut,
karena Engkau menempati semuanya.
Tiada ruang bagi keraguan,
karena Engkau menjadikan hatiku surga.

Tak perlu dunia kembali datang,
cukup Engkau tetap tinggal dalam dada.
Karena dunia hanyalah bayang,
dan Engkau adalah cahaya sejati yang nyata.
Ketika tak ada lagi yang bisa kupanggil pulang,
hatiku jadi bait suci-Mu, Tuhan.
Dan Engkau, Sang Kasih yang tak pernah hilang,
menjadi satu-satunya Pegangan.

Kini aku tahu: kehilangan dunia bukan kehancuran,
melainkan pintu menuju kemurnian iman.
Karena saat dunia menghilang sepenuhnya,
kasih-Mu mengisi seluruh ruang hatiku… selamanya.
by profa Elvira P. Ximenes’25
