Saat dunia tak lagi bicara,
dan lampu harap padam perlahan,
hatiku berdiri di batas hampa,
namun Engkau tetap bertahan.
Bukan pelukan manusia yang tinggal,
bukan janji yang dulu bersinar,
tapi Engkau, Kekasih kekal,
hadir di ruang hatiku yang gentar.

Aku telanjang di hadapan-Mu,
tanpa topeng, tanpa daya,
dan justru di kepapan jiwaku,
Kasih-Mu turun bagai cahaya.
Tiada tangis yang mampu menawar,
tiada doa yang bisa menyuap,
namun Engkau menatap penuh sabar,
mengisi kosongku yang tak kuharap.
Engkau tidak menuntut bukti,
tak memaksa bukti pengabdian,
Engkau hanya hadir begitu suci,
di tengah gemetar ketidakberdayaan.

Kosong ini menjadi altar,
di mana Surga pun turun perlahan,
jiwaku menjadi ruang yang benar,
bagi-Mu bertahta dalam kerendahan.
Tak lagi kutanya mengapa begini,
tak lagi kuminta hidup sempurna,
cukup Engkau tinggal di sini,
dalam luka, dalam gelap, dalam doa.
Jika cinta sejati adalah bertahan,
maka Engkaulah segalanya itu,
yang tak meninggalkan dalam badai ancaman,
melainkan tinggal, tetap satu.

Biarkan hatiku kosong oleh dunia,
agar dapat Kau isi penuh rahmat,
biarkan aku hilang dari mata manusia,
asal Kau mengenalku dengan hangat.
Kini aku tahu, ya Tuhanku,
kosongku bukan kutuk, tapi anugerah,
karena saat hatiku milik-Mu sepenuhnya,
Surga pun turun, damai pun menyerah.
by profa Elvira P.Ximenes’25
