Sore itu, delapan kesatria melangkah dengan tegap di bawah cahaya temaram indahnya Bukit Pelangi, Sangatta, Kabupaten Kutai Timur. Dengan toga kebesaran, yang menunjukkan kewibawaan dewan hakim Musabaqah Tilawatil Qur’an, mereka berpencar di sudut-sudut rumah jabatan Bupati, bersama laptop, kertas dan alat tulis.
Kedelapan kesatria, dalam balutan toga kebesaran, dengan mimik serius, membuka lembar demi lembar, membaca kalimat demi kalimat, melneliti huruf demi huruf, setiap makalah dari peserta. Terkadang berhenti untuk sekadar menyeruput kopi dan menghisap cerutu, atau bercengkerama dengan petugas catering yang ramahnya minta ampun.
Kening berkerut sering kali terlihat. Komentar yang lebih mirip gumam, atau bicara sendiri, juga sering terdengar. Mata perih, akibat menatap kertas dan layar laptop secara bersamaan. Berulang-ulang. Sesekali terdengar bunyi burung liar yang memang banyak di sekitar rumah jabatan Bupati Kutai Timur.
Satu jam berlalu dalam hening. Mereka masih berkutat dengan kertas dan laptop. Sesekali panitera datang membawa kertas yang baru. Sesekali petugas catering menawarkan kopi yang baru. Mereka menyambutnya dengan anggukan kepala. Tersenyum sedikit, lalu lanjut lagi. Sangat serius.
Lalu tiba-tiba sang ketua kesantria berdiri. Berkeliling pada tujuh anggotanya yang duduk berpencar. Melihat wajah mereka satu per satu, tanpa bicara. Rupanya dia sudah selesai. Sambil menunggu yang lain, dia lalu duduk kembali, minum kopi lalu berkata, indahnya tempat ini.
Ya, Bukit Pelangi memang indah. Apalagi Rumah Jabatan Bupati Kutai Timur. Indah dan asri. Dan wow, lihatlah matahari terbenam di ufuk Barat. Suhbhanallah. Fabiayyi ala irobbikuma tukadziban. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan.
Jauh-jauh datang ke Sangatta, dengan kondisi jalan berjam-jam yang menantang, ternyata terbayarkan dengan pemandangan yang luar biasa. Semua rasa lelah setelah seharian melihat peserta serius dengan laptop, lalu dilanjut dengan memeriksa hasil pekerjaan peserta, terbayar dengan pemandangan yang memukau.
Sang bola raksasa perlahan turun. Rupanya dia enggan memperlihatkan diri terlalu lama. Hingga hilang di pandangan mata. Menuju peraduan. Satu per satu, anggota kesatria berdiri. Rupanya mereka juga sudah selesai dengan tugasnya. Melakukan input nilai secara online, merapikan kertas-kertas yang berserakan, menutup laptop, menghabiskan kopi lalu pindah ke dalam ruangan.
Kita akan kangen dengan tempat ini. kata salah satu dari mereka. Ya, tempat ini sangat berkesan di hati. Berada di sini adalah bagian dari keajaiban, Entah kapan lagi bisa sampai di sini. Timpal yang lain.
Gelap mulai menyelimuti bumi, ketika mereka merampungkan semua kegiatan di tempat itu. Bersatu dengan indahnya Bukit Pelangi kurang lebih 13 jam non stop, lalu mereka pulang ke hotel dengan hati riang.
Para dewan hakim MTQ, lelahmu tidak bisa diukur dengan honorarium yang diterima. Lebih dari itu, pahala menanti setiap detik waktu yang dihabiskan dalam bekerja ikhlas. Dan, indahnya Bukit Pelangi menjadi saksi, bahwa kalian pernah mengukir sejarah dengan kalimat-kalimat ilmiah kandungan Al Qur’an.
Selamat jalan para kesatria. Selamat berkumpul kembali dengan keluarga dan orang-orang tercinta di Jakarta, Bangka Belitung, Berau, Kutai Kartanegara, Balikpapan, Bontang, Paser, dan Kutai Timur. Semoga tahun depan, kita bisa bersama lagi, dalam suasana yang sama, di tempat yang berbeda.
Sangatta, Kutai Timur, 18 Juli 2025
Penulis adalah Anggota Dewan Hakim MTQ ke-45 Provinsi Kalimantan Timur di Sangatta, Kutai Timur, cabang lomba Menulis Karya Tulis Ilmiah Al Qur’an (KTIQ).
Terima kasih kepada Prof. Dr. Made Saihu (Jakarta), Dr. Iqrom Faldiansyah (Bangka Belitung), Dr. Sabran (Kutai Kartanegara) Dr. Eko Nursalim (Kutai Timur), Khamam Khosiin (Berau), Arif Rohman Arofah (Balikpapan), dan Adi Suwito (Bontang). Juga kepada panitera Elhamsyah dan Ida Fitriani.
Tak lupa, catering yang ramah, pak Ambo dan istri, Winda Hanan, Cornelia (El) dan Pia.
