Laki-laki separuh baya itu menghentikan langkahnya. Dia tertegun melihat pohon tin atau pohon ara yang berbuah lebat.

Sejenak dia membaca papan keterangan di sebelah pohon, lalu melihat pengumuman berbunyi: dilarang memetik buah, hanya untuk sarana edukasi. Lama dia tertegun di depan pohon setinggi 2 meter lebih itu.

Dia tahu kalau Al Quran mengistimewakan pohon tin ini dengan salah satu surah khusus yaitu At-Tin. Bibirnya lamat membaca ayat-ayat di surah itu.

Namun ada yang lebih menggetarkan hatinya. Yaitu dia ingat masa-masa sekolah di SMK Pertanian Sidrap, di Jurusan Budidaya Tanaman Perkebunan (BTPk), salah satu gurunya yaitu Bapak Edi Junedi pernah menjelaskan tentang pohon ini. Waktu itu tidak ada contoh maka laki-laki itu hanya menerawang. Selama 30 tahun lebih dia hanya membayangkan seperti apa pohon tin, hingga dia tiba di satu tempat yang memperkenalkan pohon tin, yaitu di Batu Love Garden (Baloga), Kota Batu, Jawa Timur.

Sejenak dia masih termangu. Penjelasan gurunya dulu sangat sedikit yang diingatnya. Selain karena sudah lama, dia juga tidak punya pengetahuan dasar tentang pohon yang dikenal dengan nama Ficus carica ini. 

Dia masih berdiri. Diam. Beberapa pengunjung lain mendahuluinya. Teman seperjalanan sudah jauh di depan, meninggalkannya. Lalu seorang penjaga taman mendekatinya.

“Ada yang bisa dibantu pak?” tanya penjaga. Sebelumnya dia bicara dalam bahasa Jawa namun karena dijawab dengan wajah bingung lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

“Kalau mau dapat buahnya, di mana bisa?”

“Di dekat pintu keluar nanti pak. Ada outletnya di sebelah kanan.”

Setelah berterima kasih, dia lalu beranjak, mengejar langkah temannya yang masih berfoto di bawah patung burung raksasa.

Benar kata penjaga taman, dia menemukan buah tin siap konsumsi sebelum melangkah ke pintu keluar. Basa-basi dengan penjaga, seorang ibu-ibu sekitar usia 50 tahunan bersama beberapa anak gadis sepertinya (maha)siswi ibu itu, dia memutuskan membeli beberapa buah. Tentu saja dia minta tolong dipilihkan satu untuk diberi contoh cara konsumsi.

Ibu itu membelah satu buah tin ke dalam empat bagian, lalu menjelaskan cara makan. “Perpaduan rasa sawo dan jambu biji,” komentarnya kemudian.

Saat melangkah keluar sambil menenteng buah tin, dia tak lupa mengucap Subhanallah. Teori yang dipelajari 30 tahun lalu baru hari ini menemui kenyataan.

Ternyata memang, masa SMA selalu di hati, terutama (seharusnya) pelajarannya. Dan SMK Pertanian -yang waktu laki-laki itu berstatus siswa namanya adalah SMT Pertanian- Sidrap, memang akan selalu di hati. Unforgettable moment, 3 years in Ciro-CiroE. Banyak suka, sedikit duka.

Kota Batu, 4 Juli 2025

(Visited 57 times, 2 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.