Ujung Aspal Pondok Gede (Iwan Fals)

Rio suka sekali menatap deretan jendela kaca di depan rumahnya itu. Ya, deretan jendela kaca dan pintu kaca yang banyak sekali, dari kiri ke kanan, dari atas ke bawah. Untuk menyapu semua jendela kaca itu dengan pandangan matanya yang bening, Rio harus memutar leher 90 derajat dari kiri ke kanan dan 90 derajat dari bawah ke atas.

Alur jendela dan pintu kaca di depan rumahnya itu, yang di matanya bagaikan kolom di buku strimin raksasa, telah ada di sana selama sekitar lima tahun terakhir. Dulu di depan rumahnya yang berlantai 2 itu, hanya ada tanah luas yang ditumbuhi beberapa jenis tumbuhan perdu. Di pagi hari terkadang banyak burung kecil terdengar berkicau dari semak-semak itu.

Waktu Rio masih kecil, dia sering main petak umpet di depan rumahnya itu. Ibunya kadang marah, karena di tengah semak-semak ada satu rumpun bambu kuning yang sangat subur. Pohonnya tidak tinggi, tapi melebar. Konon, anak-anak yang mengelilingi rumpun bambu itu sering tidak terlihat di sisi satunya hingga beberapa puluh menit kemudian.

Kini, rumpun bambu tak lagi terlihat. Bekasnya pun tak ada. Burung berkicau pun tak terdengar lagi. Pohon perdu telah sirna. Yang baru datang di tempat itu dalam kurang dari lima tahun terakhir tidak akan percaya kalau pohon perdu, bambu dan burung bernyanyi pernah hadir di situ, menyapa Rio setiap hari.

Sebagai gantinya, kini di hadapan rumah Rio telah berdiri sebuah gedung tinggi nan lebar. Gedung ini berdiri kokoh dan sombong membelakangi rumah Rio. Orang-orang menyebutnya apartemen. Lidah Rio tidak fasih mngucapkannya. Dia lebih senang menyebut rumah susun, atau rumah pangsa. Ibunya menyebutnya hunian. Sedangkan teman SMA nya dulu yang kini kerja di Brunei menyebutnya kondominium.

Setiap hari Rio suka berlama-lama menatap jendela dan pintu kaca itu satu per satu. Berbagai aktifitas sering kelihatan di teras belakang, namun hampir semua jendela ditutup rapat dengan tirai tebal.

Rio sering duduk di teras rumahnya sambil minum kopi dan baca novel. Gerak lakunya dalam membaca terhenti manakala matanya beralih dan mulai lagi menatap deretan jendela di depan rumahnya.

Rio bahkan sampai hapal, kapan lampu-lampu di balik jendela itu menyala, dan kapan mati. Biasanya setelah jam 11 malam hampir semua lampu mati. Hanya satu dua yang menyala. Lampu-lampu itu kemudian menyala lagi satu-satu sekitar jam 3 subuh. Mungkin penghuninya bangun untuk rutinitas sepertiga malam terakhir, pikir Rio.

Menjelang subuh, hampir sepertiga lampu di gedung itu sudah menyala. Rio kembali berasumsi bahwa penghuni apartemen kebanyakan orang Islam dan mereka rajin salat subuh.

Setelahnya, Rio kembali melihat sejumlah siluet bergerak di balik tirai. Ada yang bergerak dengan tempo cepat, ada juga yang lambat. Rio berasumsi penghuni mungkin sedang mempersiapkan sarapan pagi lalu bergegas untuk siap-siap berangkat kerja.

Saat matahari terbit terkadang Rio mendengar suara anak-anak. Mungkin mereka lagi siap-siap ke sekolah. Tentu ada yang baru bangun, mandi, berpakaian, sarapan, siapkan bekal, bawa tas dan perlengkapan belajar. Kata Rio dalam hati.

Sekitar pukul 7 atau 8, suara anak-anak tak terdengar lagi. Hanya satu-satu tapi kedengarannya suara bayi atau anak kecil.

Ketika matahari naik sepenggalah, kelihatan banyak perempuan separuh baya di teras belakang, dengan berbagai kesibukan. Menjemur pakaian, sekadar duduk-duduk, merokok, atau memegang alat dapur yang entah isinya apa.

Denyut kehidupan di jendela dan pintu kaca, hingga sore hari tak luput dari mata Rio. Dia tampak menikmati sekali pemandangan itu. Sepertinya dia juga sudah lupa dengan rumpun bambu dan burung mencicit.

Jauh di dalam sanubarinya, ada angan-angan, seandainya punya mata yang bisa menembus tirai yang tebal, pasti dia akan senang sekali. Berbagai kemungkinan dan gerak-gerik di balik tirai itu muncul menggelayut di benaknya.

Itu seolah muncul dalam bentuk bayangan yang nyata di depan matanya. Ada anak-anak bermain, ibu-ibu memasak atau mencuci, lalu bapaknya membaca, atau menonton. Terkadang pula Rio membayangkan satu keluarga yang duduk bersama-sama sambil masing-masing sibuk berselancar di dunia maya, atau main lato-lato (eh masih ada ya?)

Tak jarang juga Rio membayangkan di balik tirai itu sepasang suami istri sedang menuntaskan kewajibannya. Yang ini, Rio yang masih bujangan dan tak pernah sekalipun pacaran, tidak bisa memvisualisasi kegiatan suami istri itu dengan jelas. Dia tidak punya bayangan apa saja yang dilakukan pasangan, lalu tahu-tahu dalam beberapa bulan kemudian fisik sang perempuan berubah jadi agak besar di tengah, lalu setahun kemudian mereka jalan-jalan di luar sambil mendorong kereta bayi.

Lalu tirai tebal yang jarang buka itu, kira-kira penghuninya ngapain? O mungkin dia jarang pulang atau kerja di tempat lain.

Sejuta asumsi muncul di benak Rio. Dia tahu persis apa yang terjadi di balik pohon perdu. Dia juga hapal mengapa anak-anak yang jalan ke belakang rumpun bambu lama baru muncul di sisi yang lain. Bahkan dia bisa dengan jelas menyebut nama burung dan warna bulu burung yang menciap-ciap di depan rumahnya.

Namun untuk menebak apa yang terjadi di balik tirai, Rio hanya sebatas khayalan dan spekulasi. Potongan adegan di teras belakang, plus gerakan siluet di balik tirai, tidak bisa memberikan gambaran yang utuh tentang kejadian sebenarnya.

Rio tak punya pengalaman empiris seperti apa isi dalam kamar apartemen. Dia juga tak punya daya analisis untuk menebak mencari tahu apa kegiatan penghuninya. Dia hanya menghayal dan membayangkan. Ibarat menatap gunung es, dia hanya melihat apa yang bisa dilihat di permukaan laut.

Demikianlah kisah Rio, seorang bujangan yang belum mau menikah karena alasan mau menjaga ibunya. Mereka hanya berdua di rumah itu. Bapaknya meninggal dalam satu kecelakaan kerja hampir satu dekade silam.

Rio rajin menulis. Sejak SD sudah terlihat bakatnya dalam mengarang cerita fiktif. Termasuk menulis cerita ini. Hehehe

Sayup terdengar lagu Iwan Fals dari kejauhan.

Di kamar ini, aku dilahirkan
Di balai bambu buah tangan bapakku
Di rumah ini, aku dibesarkan
Dibelai mesra lentik jari Ibu

Tersentuh sebuah rencana
Dari serakahnya kota
Terlihat murung wajah pribumi
Terdengar langkah hewan bernyanyi

Balikpapan, 20 Juli 2025

(Visited 73 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.