Oleh : Ruslan Ismail Mage*
Sebagai akademisi yang konsisten menulis buku-buku motivasi, kepemimpinan, dan demokrasi, suatu kesyukuran jelang pemilu 2024 bisa menerbitkan buku berjudul “Sintesis Sang Pembaharu (Catatan Perjalanan Anies Rasyid Baswedan di panggung politik)”.
Kalah memang, tetapi cahaya pribadinya tidak pernah redup. Inilah yang membedakan petarung sejati yang konsisten berjalan di atas norma, dengan petarung yang berburu kemenangan tanpa norma. Kekalahan tidak membuatnya tersungkur, karena norma akan selalu memeluknya dan menariknya muncul ke permukaan dengan segala kebajikannya.
Dalam perbendaharaan bahasa Bugis, ada kosa kata yang sering menjadi nasehat orang tua dalam menyikapi berbagai karakter orang, “Anak wija lawo, tennya wija batu”. Kurang lebih maksudnya anak buah labu, walaupun dengan segala tekanan untuk ditenggelamkan di air buah labu itu akan terus menggeliat muncul kepermukaan.

Segala bentuk cara yang dilakukan kaum munafikun untuk menenggelamkannya, tetapi karena “Anak wija lawo”, ia terus muncul ke permukaan menggunakan pelampung norma, memancarkan sinar kecerdasan dan aura kebajikan. Sosoknya diimpikan, kedatangannya dinanti, narasinya mencerahkan. Sebelum berbicara di ruang publik, ia berbicara dulu dengan dirinya. Meyakinkan dirinya apa yang disampaikan mengandung energi penggerak untuk kebaikan semua, bukan mencari pembenaran apalagi validasi.
Seperti yang dilakukan di depan calon generasi emas (bukan cemas). Ia membagikan rumus kepemimpinan sejati dari perjalannya jiwanya melintasi fakta. Menurutnya, “satu-satunya alasan kenapa seorang pemimpin bertahan, karena ia dipercaya (amanah). Untuk bisa dipercaya rumusnya adalah KIKK. (Kompetensi, Integritas, Kedekatan, dan Kepentingan)”.
“Untuk bisa dipercaya harus memiliki kompetensi dan integritas, tidak ada artinya kompetensi tanpa integritas, karena itu integritas wajib dimiliki. Selain itu untuk dipercaya maka mutlak harus ada Kedekatan dengan rakyat, merawat hubungan dengan pemilihnya. Namun kedekatan tanpa kompetensi dan integritas namanya kedekatan membabi buta, tetapi apa pun alasannya, kedekatan yang dipoles dengan pencitraan bisa dipercaya. K terakhir yang bisa merontokkan kepercayaan adalah Kepentingan (nepotisme)”.
Terima kasih Anies Rasyid Baswedan, “Anak wija lawo” yang konsisten memeluk dan berjalan di jalur norma. Walau sunyi tetapi ketenangan dan kedamaian akan menemaninya, dan zaman akan menemukannya. Sebagaimana kata Bung Hatta, “Setiap jaman akan menemukan pemimpinnya”.
*Akademisi dan penulis buku kepemimpinan dan demokrasi.
