Belakangan ini, sebuah pesan kembali beredar luas di berbagai grup WhatsApp. Isinya mengingatkan masyarakat agar berhati-hati terhadap seorang DPO (Daftar Pencarian Orang) asal Bogor yang dikabarkan sedang mencari kontrakan rumah. Sekilas tampak penting, bahkan menyeramkan. Namun, saat ditelusuri, ternyata surat edaran itu berasal dari tahun 2023 — sudah dua tahun yang lalu!
Fenomena semacam ini sangat sering kita jumpai. Pesan-pesan lama yang entah dari mana asalnya, diangkat kembali ke permukaan dan tersebar seolah-olah baru terjadi kemarin. Dan lebih mengkhawatirkan lagi, tidak sedikit pesan yang di-forward tersebut ternyata adalah hoaks, provokasi, bahkan bentuk phishing yang bisa menjerumuskan banyak orang ke dalam kerugian dan kesesatan informasi.
Mengapa ini terus terjadi?
Salah satunya adalah semangat “berbagi itu indah” yang kadang terlalu naif. Sering pula dibumbui dengan dorongan religius seperti “sampaikan walau satu ayat”, atau motivasi moral menjadi “pahlawan kebaikan”. Tapi sayangnya, semangat itu tidak selalu dibarengi dengan verifikasi kebenaran dan kesesuaian konteks.
Jika semangat berbagi informasi tidak dibarengi dengan literasi digital yang baik, justru akan menjadi senjata makan tuan. Kita bisa saja ikut menyebarkan ketakutan, kebohongan, bahkan menodai reputasi orang lain. Dan lebih buruk lagi, kita jadi bagian dari rantai penyebaran hoaks.
Maka inilah saatnya kita menahan diri. Jangan merasa harus menjadi orang pertama yang menyebarkan informasi di grup. Yakinlah, dalam sebuah grup WhatsApp, pasti selalu ada orang lain yang akan mem-forward pesan itu. Anda tidak perlu merasa bersalah bila tidak ikut menyebarkannya — justru Anda telah menahan potensi kerusakan yang lebih besar.
Jika memang ada hal yang penting untuk dibagikan, pastikan Anda benar-benar memahami isi pesannya, mengetahui sumbernya, dan menguasai konteksnya. Kalau perlu, buatlah sendiri pesan yang Anda anggap penting, dengan gaya bahasa dan logika yang Anda yakini valid. Itulah bentuk kontribusi yang sehat di era digital: bukan asal berbagi, tetapi membangun kepercayaan melalui konten yang bisa dipertanggungjawabkan.
Kita hidup di zaman banjir informasi, dan justru karena itu, tugas kita adalah menjadi penyaring, bukan sekadar pengirim. Di tengah kegaduhan dunia digital, keberanian untuk tidak ikut menyebar bisa menjadi bentuk kontribusi yang jauh lebih berarti.
Jangan lagi bangga menjadi orang yang paling cepat forward pesan. Banggalah menjadi orang yang paling lambat menyebarkan informasi — karena sedang memverifikasi. Di situlah letak kemuliaan digital masa kini. []
