Dalam Pembukaan UUD’45 mengatakan bahwa, “Kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa,maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan”. Sepengal kalimat ini, telah terlaksana oleh kami negara tetangga Indonesia, yang dulu merupakan bagian darimu yakni Propinsi ke-27.

Namun kisah pendudukan Indonesia di Timor-Timur selama 24 tahun, yang membangun segala insfrakstruktur dari nasional hingga ke pedesaan, tetapi di balik itu pembangunan ini, dibayar mahal oleh dua ratus ribu nyawa anak negeri Timor-Leste ini melayang.

Hingga kami lepas dari Indonesia sebagai propinsi ke-27, dimana melalui keputusan Referendum pada tanggal 30 agustus 1999, yang hasilnya diumumkan pada 4 september 1999 bahwa, 78,5% memilih untuk memisahkan diri dari Indonesia, karena ingin menghirup udara segar kemerdekaan.

Peristiwa Referendum ini telah berumur 26 tahun, kami menikmati kemerdekaan ini dengan membangun infrastruktur dari sisa debu abu yang ditinggalkan oleh Indonesia paskah Referedum. Meskipun dalam mengisi kemerdekaan ini, masih jatuh bangun, dan belum merata di seluruh teritori Timor Leste, namun kami selalu menunggu pembangunan itu dengan kesabaran yang tinggi, karena suatu saat akan tercapai juga.

Melirik pada Ultah kemerdekaan RI ke-80 tahun yang dirayakan serentak di seluruh nusantara Indonesia, banyak tanda-tanda yang kita lihat, dimana ada bendera yang terbalik, ada yang talinya putus, ada anggota paskibraka yang pinsang, hingga celana, rok, kaus kaki dan sepatu pun ikut terlepas. Menurut paranormal bahwa, hal ini telah menunjukkan tanda-tanda bahaya dalam stabilitas negara dalam waktu singkat akan terjadi.

Kenyataannya, baru berlalu seminggu sudah terjadi pemberontakan dimana-mana, melawan kinerja para perwakilan suaranya di DPR, agar aspirasinya di dengar dan dapat diimplementasikan pembangunan yang merata bagi seluruh rakyat Indonesia, sesuai dengan sila ke-5 dari Pancasila, agar seluruh rakyatmu hidupnya sejahtera.

Tapi para pejabat DPR malah berjoget ria di atas penderitaan rakyatnya sendiri, hingga melontarkan kata-kata “tolol” bagi mereka, “guru sebagai beban negara”, pamerkan kemewahannya pada rakyat miskin, sehingga menimbulkan pemicu kerusuhan dimana-mana.

Tujuan kemerdekaan itu seharusnya memerdekakan seluruh lapisan masyarakat dari Sabang hingga Merauke, bukan hanya dimiliki oleh segelintir orang saja. Dimana demokrasi itu ada di tangan rakyat yang memilihmu untuk mewakilinya duduk di singasana, supaya mengurus kepentingan, kesusahan, dan kesejahteraan mereka. Bukan berfoya-foya di atas penderitaan, kelaparan, kemiskinan, rakyatnya sendiri.

Kami dari Timor Leste tetanggamu, iba melihat kejadian ini, bahwa Indonesia sedang diguncang oleh demo anarkis, dan penjarahan di kota-kota besar Indonesia, bahwa kinerja DPR tidak baik-baik saja. Kemerdekaan fisik telah anda raih 80 tahun yang lalu, tapi kemerdekaan hati nurani rakyat seluruh masyarakat Indonesia belum tercapai.

Kami doakan semoga kejadian ini segera teratasi, oleh aparat negara RI. Kami iba melihatnya karena 80% sembako kami darimu tetangga baik kami Indonesia.

Masyarakat sebagai pemegang kekuasaan tertinggi perlu ditatar dan diberi info yang jelas dengan konten yang positif, bukan hanya dengan slogan saja, melainkan melalui aksi dan tindakan nyata, sesuai dengan realitas yang ada.

By prof.EdoSantos’25

(Visited 33 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Aldo Jlm

Elemen KPKers-Lospalos,Timor Leste, Penulis, Editor & Kontributor Bengkel Narasi sejak 2021 hingga kini telah menyumbangkan lebih dari 100 tulisan ke BN, berupa cerpen, puisi, opini, dan berita, dari negeri Buaya ke negeri Pancasila, dengan motonya 3S-Santai, Serius dan Sukses. Sebagai penulis, pianis dan guru, selalu bergumul dengan literasi dunia keabadian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.