Oleh: Muhammad Sadar*

Pusat Pendidikan Pertanian yang disingkat Pusdiktan adalah unit kerja eselon dua di Kementerian Pertanian yang dibawah atasan langsung dari Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian. Pusdiktan sebagai pembina lembaga pendidikan kedinasan pertanian meliputi Politeknik Pembangunan Pertanian atau Polbangtan yang dulu dikenal APP/STPP yang tersebar dibeberapa Provinsi di Indonesia seperti Polbangtan Medan, Bogor, Magelang, Yogyakarta, Malang, Gowa, Manokwari termasuk Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI) Serpong serta Sekolah Menengah Kejuruan Pertanian yang berada di Sembawa, Banjar Baru, dan Kupang.

Pusat Pendidikan Pertanian Kementerian Pertanian dipimpin oleh seorang kepala pusat yang secara umum bertanggungjawab terhadap penyelenggaraan pendidikan pertanian di Indonesia. Namun diluar tupoksi utama tersebut yang berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 458/Kpts./PW.020/M/06/2025 Tentang Penanggung Jawab Provinsi dan Kabupaten/Kota Pada Kegiatan Swasembada Pangan Tanggal 26 Juni 2025 menetapkan Kepala Pusat Pendidikan Pertanian Bapak Dr.
Muhammad Amin, S.Pi.,M.Si sebagai Pj. Swasembada Pangan di Kabupaten Barru yang bertugas mengawal dan mendampingi upaya pencapaian target LTT Padi di daerah ini.

Sasaran LTT padi Kabupaten Barru terdiri atas kegiatan optimasi tahun 2025 seluas 1935 hektare, brigade pangan 10 hektare, padi gogo 130 hektare dan LTT reguler 31.086 hektare. Jika digabungkan realisasi tanam antara musim tanam pertama dan kedua tahun 2025 saat ini telah mencapai angka kumulatif seluas 26.085,5 hektare. Capaian tersebut berarti bahwa target LTT reguler menyisakan 5.000 hektare dan optimis mampu direalisasikan hingga akhir tahun 2025. Proyeksi ini sangat beralasan karena pada permulaan musim tanam pada bulan oktober-desember yang seiring dengan musim hujan maka peluang peningkatan luas tanam antara 60-65 persen atau seluas 9.686-10.494 hektare dari luas baku sawah atau lahan kering untuk padi gogo sebagai sumber penumbuhan atau areal tanam baru bisa diaktualisasikan.

Transisi antara musim kedua tahun 2025 ke musim pertama tahun 2026 akan membuka peluang waktu tanam pada bulan agustus-september dengan memanfaatkan sumber-sumber air potensial seperti sumur tanah dalam, sumur suntik atau sumur tanah dangkal serta pompanisasi air permukaan sungai atau danau. Masa peralihan inilah yang bisa dioptimalkan oleh para pelaku pertanian dalam menggerakkan musim tanam ketiga di wilayah kerja masing-masing. Selain faktor air, pilihan varietas yang memiliki masa panen singkat seperti M70D, Inpari 13, Padjajaran Agritan atau Cakrabuana Agritan sebagaimana yang direkomendasikan ketika musyawarah turun sawah setahun sebelumnya.

Selain Padjajaran Agritan, Cakrabuana Agritan merupakan varietas genjah yang menjadi ikon varietas unggul baru saat ini di Kabupaten Barru karena produktivitas tinggi hingga kemampuan adaptasi luas pada musim tanam kedua yang dinilai bulan keringnya lebih lama dibanding bulan basah. Sumber varietas tersebut berasal dari pengadaan Pusat Pendidikan Pertanian Kementerian Pertanian untuk mensupport peningkatan luas tambah tanam padi pada masa krusial transisi musim. Perhatian Kepala Pusdiktan selaku Pj. Swasembada Pangan di Kabupaten Barru sangat besar terhadap kebutuhan maupun kepentingan petani dalam mendorong aktivasi gerakan percepatan LTT padi pada setiap wilayah kerja penyuluhan.

Setelah melewatkan agenda akselerasi tanam LTT padi di lahan kering di Desa Balusu bulan Juli 2025 dan di lahan sawah tadah hujan Desa Palakka pekan lalu, maka pada hari Jumat, 29 Agustus 2025 Kepala Pusat Pendidikan Pertanian kembali melakukan gerakan percepatan LTT Padi di Desa Tellumpanua seluas 60 hektare berbasis hamparan sawah sebanyak tiga kelompok tani pelaksana MT. III tahun 2025. Sebelum aksi tanam bersama di lokasi kelompok tani Samalewae, terlebih dahulu Kapusdiktan melakukan monitoring lapangan persiapan lahan dan aksi penanaman MT. III di wilayah kerja Sepee dan Mangempang.

Dalam kunjungan kerja kali ini, Kapusdiktan hendak memastikan persawahan potensial milik petani ditanami padi serta mengajak kepada segenap petugas lapang, PPL untuk melaporkan setiap progres realisasi tanam terkini. Selaku Pj. Swasembada Pangan di daerah ini, Dr.Muhammad Amin menemukan beberapa tantangan dan hambatan yang ditemui para petani penggarap antara lain sikap pemilik lahan masih enggan melepaskan tanah sawahnya untuk digarap oleh petani dengan alibi yang tidak rasional.

Pasca aksi tanam bersama di Desa Tellumpanua yang dihadiri Tim Pusdiktan, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Barru, Camat Tanete Rilau, Danramil 1405-07, Kapolsek Tanete Rilau, KTNA, Koordinator BPP/POPT/PPL, Kepala Desa dan para petani pelaksana MT. III tahun 2025, Kepala Pusat Pusdiktan melanjutkan monitoring ke wilayah kerja Desa Manuba untuk menyaksikan petani di dalam melakukan gerakan percepatan LTT Padi tahun 2025 di sawah berpengairan setengah teknis.

Dalam pengarahan singkat dan standing di lapangan dengan wajah sumringah dan senang, Kapusdiktan menyampaikan rasa optimisnya bahwa target LTT Barru yang menyisakan 1.052 hektare di bulan agustus bisa dicapai dengan menggerakkan segenap potensi Manuba utamanya ketersediaan sumber daya air yang melimpah ditambah lahan sawah yang sudah tergarap optimal semakin meluas, apalagi dukungan PPL dan SDM petani yang sangat bersinergi di lapangan. Update position LTT yang grafiknya terus bergerak naik, maka peluang pencapaian target akan bisa terpenuhi.

Kepala Pusat Pendidikan Pertanian selaku Pj. Swasembada Pangan sangat bertanggung jawab dalam mengawal lokasi binaan LTT padi. Dukungan yang diberikan baik moril maupun fisik sarana produksi utamanya stimulan benih padi unggul bervarietas Cakrabuana Agritan yang berumur genjah yang saat ini telah mencapai volume 12 ton. Atensi dan semangat kepemimpinan dalam manajemen SDM ditularkan kepada segenap aparat pertanian di daerah yang ditemuinya. Strategi dan komunikasi maupun pola kerja update sinkronisasi pelaporan LTT padi sangat inspiratif dan mampu membuka wawasan kebijakan pembangunan pertanian yang dianut negara kita.

Pertemuan dan rapat koordinasi atau brainstorming yang kerap kali dilakukan in office and out office mampu menggugah motivasi setiap diri petugas di lapangan. Sikap dan perhatian yang ditunjukkan seorang pejabat eselon dua Kementan kepada para pelaku pertanian yang dihadapinya sungguh sangat menarik minat petani untuk terus mensukseskan program gerakan percepatan LTT padi di wilayahnya, khususnya pada musim peralihan. Dengan penambahan frekuensi penanaman akan berimplikasi terhadap bertambahnya luas panen yang pada akhirnya produksi padi akan meningkat pesat untuk menggapai harapan dan cita swasembada pangan nasional.

Gaspol dalam road show swasembada yang telah menjadi protokol pusdiktan beserta tim penggerak lainnya, akan berdampak terhadap konsistensi pertambahan luas tanam secara signifikan dan fenomena LTT ini akan terus bergerak target-targetnya secara periodik. Sistem pelaporannya pun turut menyesuaikan berdasarkan dinamika struktural dari lapangan. Tantangannya tak terlepas dari kondisi psikososial budaya masyarakat yang turut menjadi penentu progres LTT.

Pusdiktan yang dikomandoi oleh Dr.Muhammad Amin dalam lintas kecamatan dan desa hingga pelosok kampung, lembah atau gunung menyusuri jalan berkelok maupun pematang sawah yang berlumpur hanya semata-mata untuk menemui petani dan melihat, mengamati, memberikan energi semangat, serta menggaspol pergerakan penambahan riil LTT di lapangan. Esensi kunjungan seperti ini sebagai wujud perhatian besar pemerintah terhadap penerapan suatu gerakan ekstra ordinary pada peralihan musim di MT. III yang akan menentukan peningkatan indeks pertanaman maupun penentuan kebijakan pembangunan pertanian ke depan.

Barru, 29 Agustus 2025

*Angkatan Kedua STPP/Polbangtan Gowa, 2003

(Visited 104 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.