Oleh: Tammasse Balla

Di tanah suci, orang datang dengan dada penuh harapan dan kerinduan. Mereka membawa beban hidup, mengusung doa yang tak muat ditulis di kertas mana pun, dan meneteskan air mata yang bahkan sebelum jatuh, sudah lebih dulu dikabulkan oleh langit. Namun di balik kesyahduan itu, ada manusia yang lupa bahwa ibadah tidak menuntut tubuh sampai tak mampu bernapas. Allah tidak pernah meminta hamba-Nya menyiksa diri atas nama cinta.

Di tengah lautan manusia, ada yang memaksa tawaf tepat di bawah terik matahari yang membakar ubun-ubun. Seolah-olah pahala akan hilang bila mereka sedikit melonggarkan langkah. Padahal tubuh punya hak untuk dijaga, sama seperti hati punya hak untuk tulus. Kadangkala manusia lupa bahwa perjuangan bukan berarti melawan takdir tubuh yang sudah memberi sinyal letih.

Ada pula yang memaksakan diri berlari-lari kecil dalam sa’i, padahal lututnya sudah lama minta dimaklumi. Mereka mengejar kesempurnaan ibadah, tapi lupa memahami makna yang lebih dalam, bahwa ibadah adalah dialog, bukan perlombaan fisik. Allah tidak pernah menilai siapa yang paling cepat, tapi siapa yang paling sadar dan tulus.

Puncak dari hasrat yang sering keliru itu adalah dorongan untuk mencium Hajar Aswad. Batu suci yang menjadi saksi ratusan tahun air mata para pencari makna itu bukanlah pintu wajib yang harus disentuh agar doa terkirim. Ia hanyalah sunah, bukan perintah. Namun manusia, karena nafsunya sendiri, sering menjadikannya sebagai syarat sah kehidupan.

Beratus-ratus bahkan melebihi ribuan jamaah berdesak-desakan, saling mendorong, saling menarik, bahkan saling menindih demi menggapai batu yang tidak pernah meminta dicium itu. Banyak yang akhirnya jatuh, terinjak-injak, bahkan meregang nyawa, bukan karena Allah menagih pengorbanan, tapi karena manusia mengabaikan akalnya. Hajar Aswad berdiri diam, menjadi saksi bagaimana sebagian hamba lupa pada keselamatan diri mereka sendiri.

Pada sisi Ka’bah, kita melihat wajah-wajah renta yang memaksa diri seakan-akan umur bukan pertimbangan. Mereka ingin membuktikan cinta kepada Allah, tetapi lupa bahwa cinta tidak pernah identik dengan menyakiti diri. Mereka lupa bahwa ibadah itu tunduk, bukan ngotot. Bahwasanya rida Allah tidak diukur dari seberapa keras tubuh dihantam kerumunan.

Allah memberikan akal sebagai lentera. Manusia harus tahu kapan harus melangkah, dan kapan harus duduk menghela napas. Agar manusia mengerti bahwa menjaga hidup juga ibadah, bahwa melindungi tubuh juga amanah. Ti¹dak setiap kerumunan harus diterobos atas nama pahala.

Ibadah tanpa logika hanyalah ambisi. Ia kehilangan ruh, kehilangan hikmah, kehilangan senyap yang seharusnya menjadi inti dari pertemuan manusia dengan Tuhannya. Kita beribadah bukan untuk membuktikan heroisme spiritual, tetapi untuk menemukan ketundukan yang sebenar-benarnya. Ketundukan yang lembut, bukan yang memaksa diri hingga hampir binasa.

Mekah bukan tempat membuktikan kekuatan fisik. Ia adalah tempat mempertemukan akal, hati, dan iman dalam satu tarikan napas. Beribadahlah dengan cinta, tapi juga dengan logika. Beribadahlah dengan semangat, tapi juga dengan keselamatan. Allah tidak ingin kita datang kepada-Nya dengan tubuh yang hancur, melainkan dengan hati yang mengerti. [HTB-JT]


Masjidil Haram, 17 November 2025
Pk. 13.01 WAS [+5 WITA]

(Visited 24 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.