Oleh: Tammasse Balla

Pada suatu titik dalam hidup, kita menyadari bahwa perjalanan setiap manusia selalu dipandu oleh garis-garis tak terlihat yang ditulis dengan sabar oleh Tuhan. Kisah dr. Fachrul dan dr. Iin bukan hanya kisah perjodohan yang sederhana, tetapi juga kisah tentang bagaimana takdir menautkan dua jiwa yang sama-sama mencintai ilmu, bekerja dalam diam, dan menabung masa depan dengan ketekunan.

Mereka bertemu tanpa sejarah, tanpa kisah panjang, tanpa awal yang romantis seperti buku-buku cinta. Yang ada hanyalah pertemuan dua keluarga, lalu dua hati yang sama-sama yakin bahwa keberanian untuk melangkah lebih penting daripada lamanya mengenal. Dari titik itu, terbentuklah rumah kecil yang hangat, tempat dua “kutu buku” belajar arti hidup bersama.

Tahun 2010, Fachrul membuktikan kecerdasannya dengan bebas tes di Fakultas Kedokteran UI. Empat tahun kemudian, Iin pun mengikuti jejak yang sama, yaitu bebas tes masuk Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. Dua anak muda yang tak banyak bicara, tetapi buku-buku selalu menjadi sahabat mereka, seakan-akan sejak lama Tuhan sedang menyusun puzzle yang kelak akan dipertemukan.

Sejak 2021, dr. Fachrul menempuh PPDS Ilmu Bedah, jalan panjang penuh malam-malam tanpa tidur, penuh tubuh lelah yang tetap harus berdiri, dan penuh tanggung jawab yang tidak bisa ditunda. Namun, ia menjalaninya tanpa pernah mengeluh. Dalam diamnya, ia memikul beban, tapi dalam diam pula ia menjaga tekadnya agar tidak retak oleh waktu.

Tipikal dr. Fachrul adalah ketenangan. Bukan karena hidupnya mudah, tetapi karena ia memilih cara itu, sabar, santai, tidak mudah panik. Ada orang yang ketika masalah datang berlari mencari tempat sembunyi, tetapi Fachrul justru menatap langsung ke mata badai, seolah-olah ia berkata bahwa setiap tantangan pasti punya pintu keluar jika dijalani dengan kepala dingin.

Hari ini, Makassar menjadi saksi salah satu bab terbaik dalam hidupnya. Ujian Nasional Bedah, diselenggarakan di kota ini karena peserta terbanyak dari Bagian Ilmu Bedah FK Unhas. Calon lain datang dari berbagai penjuru negeri, berkumpul dalam satu arena penentuan. Dari berbagai sentra pendidikan kedokteran, calon dokter bedah berdatangan, masing-masing membawa mimpi, kecemasan, dan doa.

Di tengah pertemuan akbar itu, nama dr. Fachrul dipanggil sebagai peserta TERBAIK. Nilai tertinggi. Prestasi yang tidak jatuh dari langit, tetapi lahir dari disiplin panjang yang tidak semua orang mampu menjalaninya. Hari ini, seakan-akan seluruh ikhtiar yang ia kumpulkan selama bertahun-tahun berdiri tegak memberi hormat kepada dirinya sendiri.

Ada kebahagiaan yang sulit diucapkan, kebanggaan orang tua, haru keluarga, dan rasa syukur yang meruap perlahan-lahan seperti embun pagi. Dokter Fachrul membuktikan bahwa kerja keras adalah bahasa universal yang dipahami Tuhan. Bahwasanya, kesungguhan tidak bisa dikalahkan oleh keraguan. Kesabaran adalah bentuk ibadah yang paling diam, tetapi paling didengar.

Pada sisi lain, perjalanan, dr. Iin, putri sulung Dr. Tammasse yang sejak kecil tak pernah jauh dari buku, masih berjibaku dalam PPDS Kebidanan dan Kandungan. Kini ia memasuki Semester 5, fase di mana letih sering kali datang tanpa permisi, tetapi tekad selalu lebih keras dibanding rasa lelah. Dokter Iin menjalani setiap malam jaga, setiap operasi, setiap ujian klinis dengan keyakinan bahwa ilmu adalah jalan panjang yang harus ditempuh dengan kesabaran. Dalam rumah tangga kecil mereka, Fachrul dan Iin saling menguatkan bukan dengan kata-kata manis, tetapi dengan konsistensi: saling menjaga ritme, saling menopang mimpi.

Insya Allah, sekitar dua tahun lagi Iin akan menyusul suaminya meraih sukses yang telah menunggunya di ujung jalan panjang ini. Tidak ada yang instan dalam hidup mereka berdua, yang ada hanya proses yang dijalani berdua: saling mendoakan, saling menanggung rindu, saling memeluk penat ketika pulang tengah malam. Jika Fachrul telah membuktikan bahwa ketenangan bisa mengantarkan pada puncak tertinggi, maka Iin sedang menulis babnya sendiri, bab yang kelak akan berdiri sejajar, sebagai kisah dua pejuang ilmu yang meyakini bahwa usaha yang tulus tak pernah dikhianati oleh hasil.

Kisah dr. Fachrul dan dr. Iin adalah pesan bagi siapa saja yang sedang berjuang: jangan pernah ragu pada prosesmu. Tidak ada usaha yang hilang di jalan. Tidak ada keringat yang menguap tanpa makna. Di ujung perjalanan, selalu ada sesuatu yang menunggu—entah berupa gelar, penghargaan, atau sekadar kedewasaan baru. Yang jelas, bila hati ikhlas melangkah, Tuhan tidak akan membiarkan hasilnya mengkhianati usaha.


Bandaa I Gusti.Ngurah Rai, 23 November 2025
Pk. 01.06 WITA

(Visited 32 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.