Oleh: Yusriani Nuruse
Tak terasa kini anakku telah duduk di bangku kelas 6 SD. Sejak tiga tahun yang lalu, ia telah yatim saat umurnya 8 tahun dan kini baru saja menyelesaikan ulangan semester pertama.
Namun, penerimaan rapor kali ini, berdasarkan surat edaran Bupati, dihimbau untuk diwakili oleh ayah masing-masing peserta didik. Surat edaran itu sudah beberapa hari yang lalu berseliweran di beranda media sosial.
Saat pertama kali kubaca, air mataku seketika berlinang, teringat akan almarhum ayah anakku. Namun, sebagai seorang ibu atau single parent, aku berusaha untuk tetap berpikir positif dan mencari solusi agar saat penerimaan rapor nanti anakku tidak bersedih hati. Kubiarkan saja berita itu dengan tidak menanyakannya kepada anakku.

Hingga H-1 penerimaan rapor, anakku menyampaikan hal itu kepadaku, bahwa penerimaan rapor diwakili oleh ayah masing-masing siswa. Namun, di usia yang masih kanak-kanak, anakku sudah dewasa dengan keadaan. Ia menyampaikan dengan nada lembut seakan menjaga perasaanku, dengan menambahkan kalimat, “Bisa diwakili sama Mama kok, Ma.”
Namun, keesokan harinya, saat persiapan penerimaan rapor, ia melihat teman-temannya didampingi oleh ayah masing-masing. Hingga akhirnya ia memintaku untuk menghubungi kakak sepupunya agar mendampingi saat penerimaan rapor.
Hal itu sebenarnya sudah kuantisipasi semuanya. Sebelum anakku memintaku menghubungi kakak sepupunya untuk datang ke sekolah mendampingi, aku sudah menghubungi kakaknya terlebih dahulu. Hingga saat penerimaan rapor, anakku tidak merasa sedih dengan kehilangan sosok ayah.
Walaupun anakku tidak termasuk siswa yang menduduki peringkat ranking, namun dengan peringkat lima aku sangat bersyukur dengan nilai-nilai yang dicapai, terutama pada mata pelajaran Pendidikan Agama dengan nilai 95 dan Pendidikan Pancasila dengan nilai 91.
Bahwa kedua mata pelajaran itu adalah landasan hidup, yaitu agama, akhlak, dan nilai-nilai luhur Pancasila sebagai pedoman hidup.
Anakku sayang, ketahuilah bahwa Mama akan selalu ada untukmu. Belajarlah dengan tekun agar kamu sukses. Mama hanya bisa mendoakanmu dan mengarahkanmu, berharap suatu saat nanti Mama melihat pencapaianmu.
Watansoppeng, 19 Desember 2025
