Oleh: INO For.Est

Alam semesta adalah segenap komponen makro kosmos dan mikro kosmos ciptaan Tuhan baik yang terlihat oleh indera manusia maupun yang tidak bisa terjangkau pikiran manusia. Dalam relasi kehidupan manusia dengan alam, ia tidak berbicara dengan kata, tetapi dengan peristiwa. Ia menasihati manusia lewat hujan dan kemarau, melalui kebakaran hutan yang rimbun dan tanah yang longsor, aliran sungai yang jernih dan banjir yang meluap. Setiap kejadian adalah sabda pesan sunyi yang seharusnya dibaca dengan nurani.

Ketika alam dijaga, ia memberi kehidupan: udara bersih, air yang cukup, dan pangan yang berkelanjutan.
Vegetasi hutan dan penghijauan flora akan mempertukarkan karbondioksida menjadi oksigen sebagai asupan sirkulasi untuk pernafasan makhluk di bumi. Namun ketika alam dilukai oleh keserakahan, ia menegur dengan cara yang keras: bencana, krisis, dan kehilangan. Sabda alam mengajarkan keseimbangan.

Bahwa manusia bukan penguasa tunggal, melainkan bagian dari jejaring kehidupan. Bahwa mengambil harus disertai merawat, dan membangun harus sejalan dengan menjaga. Jika manusia mau mendengar, sabda alam selalu sama: rawat aku, maka aku akan merawatmu. Abaikan aku, maka engkau akan belajar lewat penyesalan. Alam tidak pernah dendam ia hanya jujur pada hukum-hukumnya.

Hukum keseimbangan alam haruslah dijalankan sebagai sebuah sunnatullah. Tidak boleh ada prinsip dominasi terhadap yang lain. Jika azas dominasi dikedepankan dalam berhubungan dengan lingkungan maka alamat kepunahan akan terjadi. Kehancuran ekologis terus berlangsung karena mental eksploitasi serakahnomics yang mencederai prinsip keseimbangan alam. Pengendalian syahwat hedonisme yang wajib dilakukan untuk mengurangi mudarat terhadap lingkungan.

Saragih dalam buku Suara Dari Bogor, 2000 bahwa terdapat dua kubu pemikiran dalam hal sistem pengelolaan sumberdaya alam yaitu kaum developmentalis dan kaum environmentalis. Mazhab developmentalis berpandangan bahwa alam harus dimanfaatkan untuk mengatasi kemiskinan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sumberdaya alam seperti lahan, hutan, perairan, keanekaragaman hayati harus didayagunakan untuk menghasilkan “kue ekonomi”. Pelestarian sumberdaya alam akan dengan sendirinya tercapai oleh mekanisme ekonomi. Kegiatan ekonomi akan mewujudkan efisiensi ekonomi dimana aspek pelestarian sumberdaya alam akan terakomodasi di dalamnya.

Sementara aliran environmentalis berpikiran bahwa sumberdaya alam tidak boleh dieksploitasi karena akan merubah ekosistem secara keseluruhan. Alam ini akan cukup memenuhi kebutuhan manusia tetapi tidak akan pernah cukup memenuhi kerakusan manusia. Kemiskinan yang terjadi bukanlah karena sumberdaya alam tidak dimanfaatkan, namun akibat dari eksploitasi alam oleh manusia.
Mekanisme ekonomi tidak akan bisa melestarikan alam bahkan merusak alam. Hal ini disebabkan karena karakteristik sumberdaya alam sangat berbeda dengan tuntutan karakteristik sumberdaya yang memungkinkan mekanisme ekonomi berjalan optimal dalam melestarikan sumberdaya alam.

Sepertinya sangat dibutuhkan kearifan dan kebijaksanaan dalam pengendalian sumberdaya alam.
Bahkan sabda alam dari sang pencipta dan penguasa alam sesungguhnya telah memberi peringatan sebagaimana tekstual dalam QS. Al-Araf: 56, “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di Bumi, sesudah Allah memperbaikinya…..” dan QS. Ar-Rum: 41, “Telah tampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” Allah Swt mengunci wacana tersebut dengan firman-Nya dalam QS. Ar-Rahman, “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Sabda alam sudah lebih dari cukup sebagai pengingat dan pemberi peringatan sekiranya segenap manusia yang telah mencederai lingkungan atau mengambil manfaat yang berlebih dari alam agar kembali kepada mazhab yang benar. Kegagalan negara dalam mengurus lingkungan telah menyebabkan krisis ekologis yang berujung pada bencana ekologis. Tuhan telah menunjukkan jalan hidayah baik melalui petunjuk lunak maupun peringatan keras sekalipun melalui musibah dan mudharat dari amuknya alam.

Sidrap, 30 Desember 2025

*Warga IKASEMTANI

(Visited 275 times, 1 visits today)
One thought on “Sabda Alam”
  1. Luar biasa narasinya, tetapi disatu sisi, kita dalam posisi dilematis dan makan buah simalakama, karena denu sesuap nasi dan sebingkah berlian, tapi intihnya jangan SERAKAH dalam memanfaatkan alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.