Oleh: Rima Septiani, S.Pd ( Aktivis Dakwah)

Kasus seorang anak yang diduga membunuh ibu kandungnya sendiri di Medan adalah peristiwa yang sangat tragis dan memprihatinkan. Dari kronologi yang dirilis polisi, kejadian itu terjadi pada dini hari, ketika si anak tiba-tiba bangun dan melakukan penusukan terhadap ibunya yang sedang tidur. Penyidik menemukan dari rekaman CCTV dan pemeriksaan bahwa tidak ada orang luar yang masuk ke rumah, sehingga tindakan itu diduga dilakukan oleh anggota keluarga sendiri. Pelaku masih anak di bawah umur dan merupakan anak bungsu dari korban.(metrotv/29/12/2025)

Gim Daring Membawa Petaka

Di era digital, gim daring bukan lagi sekedar hiburan. Hampir setiap anak dan remaja hari ini akrab dengan gim di ponsel atau komputer. Dari bangun tidur sampai sebelum tidur, jari tak lepas dari layar. Sayangnya di balik grafis keren dan gameplay seru, banyak gim daring justru menyimpan konten kekerasan yang perlahan membentuk pola pikir dan emosi penggunanya.

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) merilis hasil survei terbaru tentang perilaku pengguna internet di tanah air. Salah satu temuan menariknya, gim daring masih menjadi salah satu konten hiburan yang cukup banyak diakses meski tidak berada di posisi teratas.

Dalam survei berjudul Survei Penetrasi Internet dan Perilaku Penggunaan Internet 2025, APJII mencatat 10,64 persen pengguna internet pada 2024 mengakses gim daring. Angka ini sedikit menurun menjadi 6,75 persen pada 2025. Persentase ini jauh di bawah dominasi video pendek online yang diakses oleh 44,11 persen pengguna pada 2024 dan 30,16 persen pada 2025, serta media sosial yang diakses 28,67 persen pengguna pada 2024.

Mobile Legends menempati posisi puncak sebagai gim online paling populer dengan 48,99 persen pengguna. Free Fire berada di urutan kedua dengan 23,05 persen dan diikuti PUBG sebesar 11,05 persen. (tempo/12/8/2025)

Kasus yang terjadi di Medan sejatinya membuat kita merasa sedih sekaligus bertanya-tanya, mengapa bisa gim daring menjadi inspirasi seorang anak tega melakukan tindakan keji kepada orang tua yang melahirkannya. Apalagi pelakunya anak yang masih  sangat muda.

Tak bisa dipungkiri, dalam beberapa tahun terakhir kita sering mendengar berita tentang  kekerasan yang dilakukan oleh anak dan remaja. Mulai dari bullying ekstrem, tawuran, ancaman bom di sekolah, hingga pembunuhan sadis. Jika ditelisik, tidak sedikit pelaku yang mengaku terinspirasi dari gim daring/online.

Gim daring yang menormalisasi kekerasan membuat pelakunya terbiasa melihat darah, senjata, pembunuhan, dan kematian sebagai sesuatu yang biasa. Dalam gim, membunuh adalah cara untuk naik level. Semakin brutal, semakin dianggap jago. Pola pikir ini kemudian terbawa ke dunia nyata.

Masalah utama lainnya adalah akses. Anak-anak bisa dengan mudah mengunduh gim yang mengandung kekerasan tanpa pengawasan. Rating usia sering diabaikan. Orang tua banyak yang tidak paham, sementara anak lebih paham teknologi. Pengawasan yang tidak serius dari orang tua bisa mengakibatkan kefatalan di kemudian hari.

Gim, Industri Kapitalisme Global

Banyak orang berpikir teknologi itu netral. Padahal kenyataannya, platform digital membawa nilai dan ideologi tertentu. Gim daring tidak dibuat sembarangan. Ia dirancang dengan tujuan: membuat pemain betah, kecanduan, dan terus bermain. Nilai-nilai yang sering disisipkan dalam gim kekerasan antara lain: menghalalkan kekerasan, menormalisasi pembunuhan, mengagungkan kekuatan fisik, hingga menghilangkan empati. Semua itu dikemas dalam visual menarik dan alur cerita yang seru. Tanpa disadari, anak-anak sedang “dididik” oleh gim, bukan oleh nilai moral yang benar.

Di sisi yang lain, industri gim daring adalah bisnis raksasa bernilai triliunan rupiah. Bagi kapitalisme global, yang penting adalah untung, bukan dampak moral. Semakin adiktif sebuah gim, semakin besar keuntungan yang diraup.

Kapitalisme tidak peduli apakah gim tersebut merusak mental anak, mendorong kekerasan, atau menghancurkan generasi. Selama laku di pasaran, gim akan terus diproduksi. Bahkan kekerasan justru dijadikan daya tarik utama. Inilah wajah asli kapitalisme global, mengorbankan manusia demi keuntungan.

Sayangnya, negara sering kali hanya menjadi penonton. Regulasi lemah, pengawasan minim, dan sanksi tidak tegas. Negara kalah cepat dari industri digital global. Alih-alih melindungi generasi, negara justru membiarkan anak-anak terpapar konten berbahaya. Pendidikan literasi digital setengah-setengah, sementara industri gim terus berkembang tanpa batas. Jika negara tidak hadir sebagai pelindung, maka generasi akan tumbuh tanpa filter nilai yang benar.

Untuk itulah, hegemoni kapitalisme global di ruang digital harus dilawan. Negara tidak boleh tunduk pada korporasi asing. Diperlukan kedaulatan digital, yaitu kemampuan negara mengatur ruang digital sesuai nilai dan kepentingan rakyat tanpa harus terpengaruh dengan paham kapitalisme global.

Islam Mewajibkan Negara Melindungi Generasi

Dalam Islam negara memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga akal, jiwa, dan generasi. Negara tidak boleh membiarkan konten yang merusak moral dan mental rakyatnya berseliweran, apalagi dihidangkan untuk anak-anak. Islam memandang bahwa generasi adalah aset peradaban. Jika generasi rusak, maka masa depan umat pun hancur. Karena itu, negara wajib mengontrol konten digital yang tersebar di tengah umat.  

Islam pun memaparkan solusi menyeluruh melalui tiga pilar penjagaan:

Pertama, ketakwaan individu. Benteng penjagaan pertama untuk anak di lakukan di lingkup keluarga. Utamanya peran ibu dalam mendidik dan menanamkan ketakwaan aqidah pada kepribadian anak. Anak mesti dibina dengan iman yang kuat agar mereka sadar bahwa setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban.

Dalam proses mendidik, tentu anak-anak memerlukan sebuah hiburan sebagai selingan dalam belajar. Untuk itulah orangtua harus bijak dalam  memberikan hiburan atau permainan untuk anak, tentu dipilih  yang mendekatkan diri kepada kebaikan, memiliki nilai edukasi dan pengetahuan untuk merangsang motorik ataupun kognitif anak.

Kedua, kontrol masyarakat. Masyarakat harus saling  peduli dengan kondisi generasi dan saling mengingatkan dalam kebaikan utamanya untuk generasi muda. Apalagi di zaman sekarang, kemungkaran begitu mudah dilakukan dan disebarkan  bahkan menyasar anak-anak kita. Dalam hal ini orang tua, guru, dan lingkungan masyarakat lainnya tidak boleh cuek terhadap kebiasaan unfaedah yang dilakukan anak, seperti bermain gim. Untuk itulah, budaya amar makruf nahi mungkar mestinya hidup di tengah masyarakat.

Ketiga, yang tak kalah  penting dan utama yakni perlindungan negara. Negara hadir sebagai pelindung, bukan sekadar regulator formal. Sistem politik, ekonomi, pendidikan, sosial, dan budaya diatur berdasarkan aturan  Islam. Termasuk pengelolaan ruang digital. Negara harus menghadirkan platform, konten, dan teknologi berbasis akidah Islam yang menjaga akal dan jiwa manusia. Negara wajib membangun ekosistem digital yang sehat dan berdaulat. Jika tiga pilar ini diterapkan secara menyeluruh, maka generasi akan terlindungi dari kerusakan, termasuk bahaya gim online yang penuh kekerasan. Wallahu alam bi ash shawwab. []

(Visited 11 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.