Oleh: Fani Oschalia
Sejarah terulang kembali, dari Irak yang dituduh Nuklir, sekarang Venezuela di tuduh narkoba. keduanya berakhir di sumur minyak dan keduanya sama-sama berkaitan dengan sumber daya alam.
Presiden Venezuela ditangkap dengan dalih resmi narkoba dan migrasi, tetapi banyak pengamat dan pemerintah Venezuela yang menilai ada kepentingan ekonomi dan strategi global.
Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, dan pernyataan Trump soal AS akan “mengelola” negara Venezuela hingga transisi kekuasaan selesai ditafsirkan sebagai upaya mengamankan aset energi bagi perusahaan Amerika.
Lagi-lagi tentang sumber daya alam. Dengan adanya kejadian ini tidak menutup kemungkinan negara kita juga menjadi target dan tujuan mereka selanjutnya.
Saya kembali teringat kepada Tan Malaka, di dalam bukunya yang dia tulis berjudul “Madilog”. Di dalam bukunya tersebut Tan Malaka menceritakan seorang pengarang Amerika yang meramalkan bahwa ” Kalau suatu negara seperti Amerika mau menguasai samudera dan dunia, Amerika harus merebut Indonesia lebih dahulu untuk sendi kekuasaan mereka”.
Kenapa Indonesia dijadikan sendi kekuasaan oleh mereka, Karena Indonesia sebagai negara kepulauan yang sangat besar. Indonesia menyimpan berbagai kekayaan alam yang sangat berlimpah. Di mata dunia, Indonesia dipandang bukan hanya sebagai negara dengan kekayaan SDA, melainkan aktor penting dalam ekonomi dan geopolitik global.
Indonesia pemilik cadangan besar seperti Nikel (Terbesar di dunia), Batu bara, Minyak dan Gas, Emas dan Tembaga, serta keberagaman hayati dan hujan tropis. Tak hanya itu Indonesia di anggap pemain kunci rantai pasok global, terutama untuk energi, industri baterai dan kendaraan listrik.
Negara kita tidak kecil, justru dipantau dan diperhitungkan oleh dunia internasional. Untuk itu mari kita seluruh rakyat Indonesia berBhineka Tunggal Ika dan menjaga tanah air kita agar tidak direbut bangsa asing.
Seperti yang dikatakan Tan Malaka, “Kalau suatu negara penuh dengan kekayaan alamnya, tetapi lemah semangat rakyatnya, lemah intelek, tidak bersatu dan tidak pula merdeka, maka negara itulah yang akan menjadi umpan atau makanan negara yang gagah perkasa”.
~ Tan Malaka ~
