Gerimis di Pesisir Selatan sore itu terasa lebih dingin dari biasanya. Saya terduduk di depan segelas air putih—satu-satunya menu berbuka puasa yang tersisa di meja. Kerongkongan saya kering, tapi hati saya jauh lebih gersang.
Pikiran saya terbang jauh ke Jakarta, ke tempat Om Edi mengembuskan napas terakhirnya. Ada pilu yang tak terlukiskan saat menyadari sosok pelindung itu telah tiada, dan lebih menyakitkan lagi karena raga beliau tak bisa dibawa pulang ke tanah kelahiran.
“Kalau Om masih ada…” bisik saya pada sunyi.
Jika Om masih ada, saya takkan mungkin melangkah gontai ke Polres Pesisir Selatan sendirian.
Jika Om masih ada, air mata ini takkan tumpah karena meratapi kebodohan saya yang tergiur janji palsu uang haram.
Uang hasil pinjaman koperasi melalui Pak Syamsiwardi—yang niat awalnya untuk menyambung napas membayar kontrakan—kini raib ditelan penipu.
Di luar sana, keluarga besar saya sebenarnya berkecukupan. Ada Mak Idol, Tek Isus, Mak Indap, Mak Jamal, dan Mak Indak. Mereka orang-orang berada, namun lidah saya kelu untuk berucap minta tolong.
Sebagai seorang PNS, ada beban moral yang saya panggul. Sebagai seorang istri, ada martabat suami yang harus saya jaga. Meski suami saya hanya seorang pencari belut (maluka baluik) di sawah, bagi kami, tangan di atas selalu lebih baik daripada tangan di bawah. Lebih baik saya berbuka dengan air putih daripada harus menggadaikan harga diri dengan mengemis belas kasihan, meski hati ini remuk redam.
Harapan yang Pupus
Dulu, dalam bayangan saya, Om Edi adalah benteng. Kalau beliau masih hidup, mungkin beliau akan langsung meminta bantuan Pak AHY untuk menggerakkan hukum, menangkap para penipu yang meresahkan itu. Namun kini, realita menampar wajah saya dengan keras.
Di negeri ini, keadilan sering kali terasa jauh jika tidak viral di tangan netizen atau dibantu sigapnya petugas Damkar. Saya hanya bisa memandang gelas air putih itu dengan mata berkaca-kaca.
Penyesalan memang selalu datang belakangan, tapi ia memberikan pelajaran yang sangat mahal tentang kesabaran dan arti sebuah harga diri. []
