Pikiran saya tiba-tiba melayang ke masa-masa indah saat melaksanakan dinas di Kabupaten Bone beberapa waktu lalu.

Kabupaten Bone, daerah yang tidak hanya kaya akan sejarah, tapi juga sukses membuat perut saya rindu setengah mati. Di tanah kelahiran Pak Jusuf Kalla inilah momen sakral itu terjadi, momen pertama kalinya saya berkenalan dengan seonggok tanaman laut bernama Lawi-lawi.

Bagi masyarakat Sulawesi Selatan, benda hijau ini adalah komoditas lokal andalan. Tapi jujur saja, impresi pertama saya waktu itu jauh dari kata kagum. Pas pertama kali melihat wujudnya di dalam mangkuk, dahi saya langsung mengkerut. Di kepala saya langsung berputar pikiran-pikiran paranoid ala film dokumenter bertahan hidup.

“Ini benda apa? Apakah ini aman? Jangan-jangan kalau saya makan ini, besok saya langsung masuk berita siber karena keracunan?” Tanyaku dalam hati.

Bentuknya bulat-bulat kecil berkerumun itu terlihat sangat asing bagi mata seorang perantau seperti saya. Bermodal nekat, saya langsung berselancar di internet. Terimakasih mbah Google, saya akhirnya menemukan sebuah artikel kesehatan yang langsung meruntuhkan semua kecurigaan saya.

Ternyata, Lawi-lawi atau yang di kancah internasional lebih keren disebut sea grapes (anggur laut) sangat amat aman dan tidak beracun untuk dikonsumsi manusia. Malah, makanan ini punya sebutan kesayangan yang sangat mentereng, yakni Green Caviar alias kaviar hijau!

Bayangkan, makanan yang sempat saya curigai sebagai racun ini ternyata sejajar dengan makanan mewah para sultan di Eropa. Disebut sebagai green caviar karena bentuknya yang memang mirip banget dengan kumpulan telur ikan. Bedanya, yang ini versi vegetarian dan ramah ramah lingkungan juga ramah di dompet. Di luar negeri, benda ini lazim dimakan mentah sebagai lalapan atau campuran salad premium.

Tidak cuma modal tampang unik, anggur laut ini ternyata diam-diam adalah superfood. Lawi-lawi kaya akan vitamin A, C, serat, serta mineral penting yang fungsinya sangat baik untuk metabolisme tubuh kita. Sama seperti sepupu-sepupunya sesama rumput laut, lawi-lawi juga mengandung yodium dan kalium yang tinggi.

Tapi ingat, ada tapinya nih! Karena kandungan yodium dan kaliumnya yang cukup ugal-ugalan ini, buat kamu yang kebetulan punya riwayat gangguan tiroid atau penyakit ginjal, sebaiknya tahu diri ya. Batasi konsumsinya, jangan mentang-mentang enak lalu dimakan satu baskom sendirian.

Kembali ke warung Sop Kepala Ikan di Bone. Di tengah keraguan saya yang sedang menatap nanar piring Lawi-lawi, si pemilik warung tampaknya paham dengan pergolakan batin saya. Dengan senyum ramah khas Bugis, beliau meyakinkan saya, “Coba celup ke kuah hangatnya dulu, Pak.”

Dengan perasaan pasrah dan sedikit kepalang tanggung karena sudah lapar, saya ikuti saran ibu tersebut. Saya ambil sejumput Lawi-lawi, saya mandikan sebentar di kuah sup yang mengepul, lalu saya masukkan ke dalam mulut.

Dan… boom!

Luar biasa! Butiran hijau kecil-kecil itu langsung meletup serentak di dalam mulut saya. Rasanya seperti ada pesta kembang api mini di atas lidah. Teksturnya mirip agar-agar yang sangat kenyal, begitu pecah, keluar sensasi rasa asin alami khas air laut yang segar. Hebatnya lagi, rasa asin murni itu langsung berpadu sempurna dengan kuah sup kepala ikan yang asam, gurih, dan pedas. Kombinasi itu beneran bikin ketagihan, sampai-sampai saya lupa dengan drama ketakutan saya lima menit sebelumnya. Tanpa sadar, sepiring penuh Sop Kepala Ikan plus sambel mangga ditambah segenggam Lawi-lawi di depan saya ludes tak tersisa sampai bersih.

Lucunya, setelah memendam rindu mendalam pada sensasi meletup itu, kerinduan tersebut akhirnya terobati hari ini. Tepat di hari Minggu, 28 Juni 2026. Sebelumnya saya minta dibelikan lawi-lawi, istri saya bertanya bagaimana bentuknya, saya kasih liat melalui telpon pintar rupa lawi-lawi itu, tak lama baru saja istri pulang dari belanja membeli lawi-lawi di penjual ikan langganan. Begitu dia membongkar belanjaan, mata saya langsung berbinar melihat sebungkus Lawi-lawi segar sesuai pesanan.

Dan tebak berapa harganya? Asli, murah meriah banget! Untuk ukuran makanan dengan cita rasa mewah dan manfaat kesehatan selangit, harganya sama sekali tidak bikin kantong menangis. Ini sih definisi sesungguhnya dari kemewahan sehat yang ramah di kantong!

Cara mengolahnya pun tidak perlu sertifikat MasterChef. Mengolahnya gampang! Lawi-lawi cukup dicuci bersih dengan air matang dingin (ingat, jangan direbus ya, nanti dia layu dan kehilangan bakat meletupnya). Setelah bersih, langsung sajikan di atas meja. Hari ini, kami menyantapnya sebagai pendamping sayur pallumara yang kuning menggoda, lalu dilalap bersama sambal terasi ulek yang pedasnya nampol. Rasanya? Nikmat sekali hidup ini.

Secara ilmiah, Lawi-lawi ini sebenarnya adalah alga hijau yang menyandang nama keren Caulerpa sp. Tanaman laut ini memang tumbuh subur sekali di perairan dangkal Sulawesi Selatan. Karakter laut Sulsel yang hangat dan kaya nutrisi menjadi habitat yang paling ideal buat mereka berkembang biak.

Masyarakat lokal memanfaatkan seluruh bagian tumbuhan rumput laut ini sebagai pelengkap menu sehari-hari. Mulai dari dimakan mentah begitu saja sebagai camilan segar, sampai disandingkan dengan ikan bakar dan nasi hangat, pokoknya juara!.

Namun, di balik bentuknya yang menggemaskan, Caulerpa ini diam-diam punya kekuatan super. Berdasarkan berbagai riset, tanaman ini marak dibudidayakan karena zat aktif di dalamnya dapat berfungsi sebagai pencegah jamur dan bakteri jahat, sebagai obat alami untuk meredakan penyakit rematik, bahan baku pembuatan kosmetik kelas atas (biar wajah glowing alami) bahkan sebagai agen pelindung tubuh untuk mencegah tumbuhnya tumor.

Kandungan nutrisinya sama sekali tidak berbahaya bagi tubuh. Jadi, tumbuhan ini sangat aman dikonsumsi dalam jangka waktu yang lama. Bonusnya lagi, tidak ada bagian yang terbuang—semua bagian dari rumpun Lawi-lawi bisa dikunyah sampai habis tanpa sisa.

Bicara soal eksistensi Lawi-lawi, ada cerita unik yang lumayan menggelitik di balik keberadaannya sekarang. Dulu, kalau masyarakat ingin makan Lawi-lawi, mereka harus bersusah payah mencarinya secara liar di alam bebas. Mereka harus menyisir daerah pesisir pantai dangkal seperti di daerah Takalar, Pangkep, dan Barru. Kalau air lagi pasang atau cuaca buruk, ya siap-siap gigit jari karena tidak bisa panen.

Tapi siapa sangka, nasib Lawi-lawi berubah berawal dari sebuah ketidaksengajaan! Beberapa tahun lalu, alga ini tidak sengaja ikut tumbuh di tambak-tambak budidaya ikan bandeng milik warga. Awalnya mungkin dianggap sebagai tanaman pengganggu biasa. Tapi setelah disadari bahwa benda ini bernilai ekonomi tinggi dan dicari banyak orang, para petambak beralih haluan.

Sekarang, alga ini malah sukses dibudidayakan secara massal di tambak-tambak bandeng tersebut.

Hasilnya? Pasokan Lawi-lawi di pasar selalu aman terkendali, dan para petambak pun senyum lebar karena dapat bonus penghasilan selain dari ikan bandeng. Sebuah plot twist kehidupan yang sangat menguntungkan semua pihak, bukan?

Warisan Kuliner Mentah yang Menyehatkan

Bagi masyarakat Bugis-Makassar, kehadiran Lawi-lawi di meja makan bukan cuma sekadar makanan pendamping atau pengganti kerupuk. Ini adalah warisan kuliner turun-temurun yang sarat akan nilai gizi. Di dalam helai-helai hijaunya terkandung zat hijau daun atau klorofil yang memiliki sifat antikarsinogenik (anti-kanker).

Ditambah lagi dengan kandungan serat tinggi, Selenium, serta zat seng (zinc) di dalamnya. Kombinasi zat-zat sakti ini dipercaya dapat membantu mereduksi dan menurunkan level estrogen yang berlebih dalam tubuh, sehingga kita bisa terhindar dari bahaya tumbuhnya kanker ganas. Makan enak sekaligus pasang perisai tubuh, lalu nikmat tuhan yang mana lagi kamu dustakan?

Uniknya, ada satu hukum adat kuliner yang tidak boleh dilanggar kalau mau menikmati Lawi-lawi, Wajib disajikan dalam keadaan mentah!

Memasak Lawi-lawi dengan suhu panas sama saja dengan menghilangkan jati dirinya. Tekstur kriuk dan renyahnya akan hilang, dan ia akan berubah menjadi layu mengenaskan.

Biasanya, lalapan laut ini makin juara kalau dicampur dengan parutan kelapa muda yang sudah diberi bumbu kelapa khas (seperti urap laut), atau langsung dicocol ke sambal mangga muda, lalu ditemani sop pallumara, sop kepala ikan yang super segar.

Jadi, kalau kamu kebetulan sedang berkunjung ke Sulawesi Selatan atau melihat ada yang menjual anggur laut ini di pasar, atau penjual ikan langganan jangan ragu membelinya, murah kok, nggak bakalan miskin guys.

Singkirkan rasa takutmu, ambil sejumput lawi-lawi dan bersiaplah merasakan sensasi ledakan kaviar hijau di mulut. Selamat makan sehat, selamat meletup di mulut!

(Visited 3 times, 3 visits today)
Avatar photo

By Subhan Riyadi

Bukan siapa-siapa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.