Setiap kali aku bercermin, aku melihat sebuah peta perjuangan. Ada bekas luka melintang di perutku, sisa dari operasi yang membawa kehidupan ke dunia. Ada helai-helai rambut yang tertinggal di sisir, saksi betapa lelahnya raga ini. Namun, di balik itu semua, ada luka yang tak kasatmata—dua ruang kosong di hatiku untuk dua anakku yang telah lebih dulu kembali ke pelukan Tuhan.

Kini, fokusku adalah tiga pasang mata bening yang memanggilku “Ibu”. Tiga putriku adalah alasan mengapa aku masih sanggup bangun setiap pagi, meski semalam suntuk hatiku hancur oleh lisan suamiku.

“Bodoh,” katanya saat aku tertipu musibah itu.

Kalimat itu pedih, tapi yang lebih menyakitkan adalah kenyataan bahwa aku sedang dikuliahi tentang kesalahan oleh seseorang yang telah melenyapkan tiga buah mobil di meja judi. Seseorang yang usahanya kubangun dari keringat dan gajiku sendiri, hanya agar dia punya harga diri di mata orang lain.

Suatu sore, putri bungsuku menghampiri, mengelus bekas jahitan di perutku dengan tangan kecilnya yang hangat. “Ibu sakit ya?” tanyanya polos.

Aku tersenyum, menahan air mata. Sakit, Sayang. Sakit sekali. Tapi bukan karena jahitan ini, melainkan karena rumah yang seharusnya menjadi madrasah dan tempat berteduh, justru terasa seperti medan perang yang dingin.

Aku bertahan bukan karena aku lemah. Aku bertahan karena aku adalah satu-satunya dermaga tempat ketiga putriku bersandar. Jika aku runtuh, ke mana mereka akan pergi? Jika aku menyerah pada kepedihan ini, siapa yang akan mengajari mereka bahwa wanita harus kuat dan berharga?

Namun, aku sadar, bertahan demi anak bukan berarti membiarkan diriku terus dihancurkan. Bertahan demi anak berarti aku harus sehat—sehat jiwaku, aman finansialku, dan terjaga kehormatanku. Karena putri-putriku tidak butuh ibu yang hancur; mereka butuh ibu yang bisa menunjukkan bahwa martabat tidak bisa ditukar dengan alasan apa pun.

Malam itu, di bawah lampu kamar yang temaram, aku berjanji pada diriku sendiri dan pada dua anakku di surga: Aku akan menjaga tiga saudari mereka dengan tanganku sendiri. Aku tidak akan lagi membiarkan gajiku habis untuk ego laki-laki yang tak tahu cara menghargai. Aku akan menjadi imam bagi diriku sendiri jika itu memang diperlukan, demi memastikan tiga putriku tumbuh di bawah naungan kasih sayang yang nyata, bukan di bawah bayang-bayang hinaan. []

(Visited 21 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.