Oleh : Lolita Eka Putri
Langkah kaki saya terasa ringan penuh energi saat memasuki pelataran Hotel Gizsela Kota Painan Pesisir Selatan Sumatera Barat. Ada semacam panggilan jiwa yang menuntun saya ke hotel itu, terpilih sebagai satu dari 40 guru yang berkesempatan mengikuti pelatihan menulis. Dalam benak, saya hanya membayangkan teori-teori kaku tentang tata bahasa. Namun, takdir rupanya menyiapkan kejutan yang jauh lebih manis.
Dalam ruangan yang dipenuhi guru peserta pelatihan, sosok itu berdiri dengan kharisma yang tenang. Ruslan Ismail Mage, atau yang akrab disapa Bang RIM. Ternyata, kehadiran beliau bukan sekadar kebetulan; kedekatan emosional sebagai putra daerah yang sekampung dengan Kadinas Pendidikan bapak Salim Muhaimin membawa sang motivator nasional ini duduk bersama kami.
Dua Hari yang mengubah segalanya. Dua hari berlalu seperti kedipan mata. Ruang kelas yang biasanya membosankan berubah menjadi medan tempur kreativitas menulis dipandu sang inspirator menulis Indonesia. Kelihaian Bang RIM membimbing dengan bahasa motovator, membuat jemari saya yang dulu kaku mulai menari di atas keyboard. Tarian pena yang dioketrasi Bang RIM membuat kami 40 guru akhirnya menyelesaikan naskah dan mengirimnya ke desainer hebat Kang Iyan untuk di layout menjadi buku elegan.
Dari “rahim” pelatihan itulah, lahir sebuah karya yang sangat personal bagi saya: sebuah buku berjudul, “Ibuku Babuku”. Judul yang menguras emosi, sebuah penghormatan untuk sosok paling berharga dalam hidup saya.
Pada sisi lain ada kejutan di balik buku, “Generasi Emas Pemikir Besar Minangkabau” karya spektakuler Bang RIM. Kejutan itu memberi kesan luar biasa bagiku. Satu momen yang tak akan pernah saya lupakan ketika Bang RIM menceritakan kekagumannya pada tanah Minang.
Kejutan itu ketika Bang RIM memanggilku ke depan kelas menulis. Ia menyuruhku membuka sebuah buku ekslusif 600 halaman berisi ratusan tokoh bangsa pemikir besar negeri ini asal Minang.
Buka halaman pertama buku ini, dan lihatlah siapa tokoh nomor satu di sana. Dengan tangan sedikit gemetar, saya membuka lembaran pertama. Saya bersiap melihat wajah Buya Hamka atau Bung Hatta. Namun, jantung saya serasa berhenti berdetak sesaat, karena yang saya lihat di halaman pertama buku itu adalah wajah saya sendiri. Rupanya, Bang RIM memasang selembar cermin di sana. “Tokoh hebat itu dimulai dari dirimu sendiri,” bisik beliau tenang.
Seketika, visi saya tentang masa depan menjadi benderang. Saya sepertinya menemukan peta jalan menuju cita-cita saya untuk menjadi penulis hebat seperti Buya Hamka, yang karyanya abadi dan bermanfaat hingga ke akhirat, bukan lagi sekadar mimpi di awang-awang.
Bang RIM telah membukakan pintunya, dan hingga hari ini, beliau masih setia menemani serta membimbing langkah saya di jalan literasi ini. Menurutnya “jalan literasi adalah jalan surga”. Subhanallah.
Katanya, “Menulis bukan sekadar menyusun kata, tapi membangun jembatan amal yang tak terputus oleh maut.”
Dari Cermin di halaman pertama buku Bang RIM itu, saya bisa sampai bergabung di komunitas menulis terbaik menurutku di Bengkel Narasi Indonesia. Rasa syukur tanpa batas bisa bertemu secara jiwa dan pikiran dengan sahabat-sahabat hebat di Bengkel Narasi. Rasa bangga tiada akhir ketika pertama kalinya nama saya terpampang di laman Bengkel Narasi. Terimakasih BN Indonesia, kalian terbaik memulai hari dengan berbalas salam saling mendoakan.
*BNsiana Pesisir Selatan
