Oleh : Rosmawati*

Sebuah kilas balik lahirnya buku, “Ensiklopedia Sang Penggerak” hingga jilid dua. Dalam perjalanan hidup, ada momen di mana kita merasa kecil, tidak berdaya, dan tak memiliki suara. Itulah yang saya rasakan sebelum buku “Ensiklopedia Sang Penggerak” ini lahir. Jujur, di dunia literasi menulis, saya awalnya benar-benar berangkat dari angka nol. Buta bagaimana merangkai kata, menyusun kalimat, terlebih menjahit narasi menjadi sebuah naskah buku.

Tanpa kehadiran keluarga tercinta, dan sahabat-sahabat penggerak literasi di Bengkel Narasi, saya bukanlah siapa-siapa di jagat literasi ini. Dukungan paling utama dan terdepan datang dari keluarga kecil saya, suami tercinta yang senantiasa menjadi “obor” penyemangat, serta anak-anak saya yang luar biasa. Keterbatasan dalam teknologi, hanya mampu mengandalkan tulisan tangan manual, sangat terbantukan dengan ketulusan putriku mengetikkan setiap bait naskah dari kertas-kertas manual ke aplikasi. Alhamdulillah, suatu kesyukuran tanpa batas ketika tulisan tangan itu akhirnya menjelma menjadi buku. Suami dan putriku adalah pilar yang membuat mimpi ini tetap tegak berdiri.

Pada sisi lain tidak kalah pentingnya, sosok yang membuka mata batinku adalah sang penggerak jiwa Ruslan Ismail Mage (Bang RIM). Sebagai founder Bengkel Narasi, Bang RIM tidak memandangku sebagai orang yang “buta” menulis, melainkan jiwa yang menggeliat muncul ke permukaan. Bang RIM adalah guru yang sabar, yang meruntuhkan ketidakpercayaan diriku melalui petuahnya: “Tulis saja apa yang dipikirkan, jangan pikir apa yang ditulis.”

Karya buku pertamaku, “Ensiklopedia Sang Penggerak, kumpulan pemikiran inspiratif Ruslan Ismail Mage” menjadi sangat istimewa, karena selama tujuh tahun memungut satu-satu kalimat inspiratif Bang RIM yang tercecer di beberapa buku dan media sosial. Lebih istimewanya lagi ketika buku ini dilaunching beberapa tokoh nasional memberi ucapan selamat dalam bentuk karangan bunga, tidak terkecuali sastrawan besar Indonesia bapak Taufiq Ismail.

Buku ini semakin bertambah bobot intelektualnya, karena Komisioner ASN pusat bapak Dr. Sumardi, SE, terlibat langsung memberikan dukungan moral untuk terus menulis. Beliau mengajarkan bahwa seorang ASN harus memiliki karya sebagai bukti pengabdian intelektual kepada bangsa. Dukungan beliau meyakinkan saya bahwa keterbatasan bukan penghalang bagi seorang abdi negara untuk tetap produktif menggerakkan literasi.

Sangat krusial pula peran dari Bapak H. Tammasse Balla (Pak HTB) yang senantiasa memberikan spirit dan dukungan bagi kami para penggerak literasi di daerah. Kehadiran beliau sebagai sosok yang peduli pada kemajuan literasi memberikan kepercayaan diri kalau karya dari daerah mampu memberikan dampak luas.

Tidak lupa bimbingan dari Dr. Sudirman,S.Pd.,M.Pd, yang memberikan landasan filosofis bahwa menulis adalah tugas suci untuk memeluk kemanusiaan. Peran teknis dan manajerial juga datang dari Kang Iyan Apt, sang arsitek dari Bengkel Narasi, serta Gusnawati Hasan, Koordinator Pena Anak Indonesia. Mereka adalah jembatan yang menghubungkan ketidaktahuan menulis hingga bisa menerbitkan karya buku sendiri. Ketulusan Mas Iyan dalam desain dan penerbitan tanpa syarat, serta energi positif dari Ibu Gusnawati, adalah bukti nyata dari persahabatan yang tulus tanpa batas.

Namun, semangat saya tidak akan pernah menyala sehebat ini tanpa kehadiran Ibu Islamiati selaku Ketua Bengkel Narasi Indonesia Kolaka Utara beserta kawan-kawan. Kalian adalah sahabat-sahabat sejati yang senantiasa membersamai setiap langkah saya dalam menggerakkan literasi di Bumi Patampanua.

Bersama Ibu Islamiati dan seluruh rekan penggerak lokal, gerakan literasi di Kolaka Utara bukan lagi sekadar wacana, melainkan aksi nyata yang kita hidupkan dengan “Manajemen Satu Rasa”. Dukungan kalian di lapangan adalah energi harian yang membuat saya berani melangkah dari titik nol.

Kehadiran keluarga besar Bengkel Narasi, baik di tingkat nasional maupun kebersamaan dengan sahabat-sahabat lokal di Kolaka Utara, adalah alasan mengapa saya bisa berdiri tegak hari ini. Saya harus jujur mengakui bahwa tanpa mereka, buku ini tidak akan pernah ada. Mereka adalah alasan mengapa “si buta tulisan” ini akhirnya bisa melihat cahaya dan melahirkan sebuah karya inspiratif. Inilah alasan judul tulisan ini, dari titik nol ke panggung Bengkel Narasi”.

Sebagai penutup, tulisan ini adalah pernyataan cinta dan hormat saya kepada keluarga, para mentor, dan terkhusus untuk Ibu Islamiati selaku Ketua Bengkel Narasi Indonesia Kolaka Utara beserta kawan-kawan. Terima kasih telah memanusiakan saya dan membimbing saya dari nol hingga menjadi seperti sekarang. Semoga kebaikan kalian menjadi amal jariyah yang terus mengalir.

Kini buku, “Ensiklopedia Sang Penggerak : kumpulan pemikiran Inspiratif Ruslan Ismail Mage” telah dipersembahkan bagi masyarakat di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Kolaka Utara, sebagai bukti bahwa dengan dukungan komunitas yang tepat, siapapun bisa melahirkan karya nyata bagi kehidupan.

*Salam Pena dari
Pegiat Literasi Kolaka Utara

(Visited 14 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Rosmawati

Saya Rosmawati — bekerja di Perpustakaan Daerah Kabupaten Kolaka Utara, mengajar di Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara, dan aktif di komunitas Bengkel Narasi serta Pena Anak Indonesia (PAI). Tiga peran itu berjalan bersamaan, dan saya menjalaninya dengan sadar. Di perpustakaan, saya dekat dengan buku dan dengan orang-orang yang datang mencari sesuatu — entah itu pengetahuan, ketenangan, atau sekadar tempat duduk yang tenang. Di ruang kuliah, saya belajar lagi setiap kali mahasiswa mengajukan pertanyaan yang tak pernah saya duga. Di komunitas, saya menemukan alasan yang paling sederhana mengapa literasi itu penting: karena ada anak-anak yang ingin bercerita, tapi belum punya kata-katanya. Saya menulis di Bengkel Narasi. Kadang soal hal-hal besar, kadang soal yang kecil saja — tapi selalu dari apa yang sungguh saya lihat dan rasakan. Kalau Anda ingin mengobrol soal literasi, pendidikan, atau dunia menulis — mari. 📍 Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara ✍️ bengkelnarasi.com 📚 Perpustakaan Daerah Kab. Kolaka Utara 🎓 Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.