Udara pagi di Mungka masih diselimuti kabut tebal ketika suara ketukan tongkat kayu terdengar beradu pelan dengan tanah berbatu.

Di sebuah surau tua di Simpang Kapuak tepatnya di jorong Simpang Abu, sosok itu duduk bersila.

Syekh Abdul Aziz Mu’ammar, begitu orang-orang memanggilnya dengan penuh takzim.

Sorban oranye yang melilit kepalanya tampak seperti mahkota cahaya di tengah remang subuh.

Bagi penduduk setempat, beliau bukan sekadar guru; beliau adalah “Penjaga”. Wajahnya yang dihiasi janggut putih tipis menyimpan ketenangan yang sulit dijelaskan kata-kata.

Konon, usia beliau telah melampaui satu setengah abad, namun binar matanya tetap tajam, menyimpan rahasia-rahasia langit yang hanya dipahami oleh mereka yang sudah fana dalam cinta kepada Sang Khalik.

Siang itu, seorang pemuda dari kota datang dengan napas terengah dan hati yang penuh beban.

Ia mencari sang Al-Arif Billah untuk meminta nasihat tentang hidupnya yang terasa kering.

“Duduklah, Nak,” suara Syekh Abdul Aziz terdengar lirih namun berwibawa, seperti gemericik air sungai yang mengalir di balik bukit Mungka.
Pemuda itu menunduk.

“Syekh, aku merasa kehilangan arah.

Dunia terasa begitu berat dan menyesakkan.”
Syekh hanya tersenyum tipis.

Beliau mengambil sebuah gelas berisi air jernih, lalu meletakkan sebutir garam di dalamnya.

“Minumlah.”
Si pemuda meminumnya dan meringis.

“Asin, Syekh.”
Beliau kemudian mengajak pemuda itu ke batang ayia ketek di pinggiran desa.

Syekh melemparkan segenggam garam yang sama ke dalam batang ayia lalu menyiduk airnya.

“Sekarang, minumlah.”
“Segar, Syekh. Sama sekali tidak terasa asinnya,” jawab si pemuda heran.

Nasihat Sang Penjaga
Syekh Abdul Aziz mengangguk pelan.

Beliau memandang cakrawala Simpang Kapuak yang hijau.
“Kepahitan hidup itu seperti garam, Nak.

Jumlahnya akan selalu sama. Namun, rasa pahit itu tergantung pada wadah yang menampungnya.

Jangan jadikan hatimu sesempit gelas, tapi jadikanlah seluas batang ayia
Pemuda itu tertegun.

Di hadapannya, Syekh Abdul Aziz bukan hanya bicara soal teori, tapi beliau adalah bukti hidup.

Melewati usia 175 tahun bukanlah tentang angka, melainkan tentang bagaimana beliau menjaga hatinya tetap luas, menampung segala keluh kesah umat tanpa pernah merasa lelah.

Hingga matahari terbenam, surau itu tetap menjadi magnet bagi jiwa-jiwa yang haus akan ketenangan.

Syekh Abdul Aziz Mu’ammar tetap di sana, menjaga gerbang spiritual Simpang Kapuak dengan doa-doa yang melangit.

Beliau adalah pengingat bahwa di balik hiruk-pikuk dunia yang mengejar kecepatan, masih ada sosok yang memilih diam dalam zikir, menjadi tiang pancang yang menjaga keseimbangan bumi dengan kesalehan yang tak lekang oleh waktu.

(Visited 21 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.