Kota itu sedang terik-teriknya. Di depan sebuah gedung tinggi berlapis kaca, sebuah mobil mewah berwarna hitam mengkilat berhenti.
Dari dalamnya keluar Pak Baskoro, seorang pejabat tinggi dengan setelan jas seharga ribuan dolar. Aroma parfumnya semerbak, sanggup menutupi bau polusi jalanan.
Di mata media dan masyarakat, ia adalah sosok dermawan yang selalu tersenyum di baliho-baliho besar.
Namun, di balik meja kerjanya yang mahoni, tangan yang halus itu baru saja menandatangani pengalihan dana bantuan sosial untuk proyek pribadinya.
Baginya, jabatan hanyalah sebuah tangga, dan rakyat adalah anak tangga yang boleh diinjak.
Sang Penjaga Kebersihan Jalanan
Beberapa meter dari lobi gedung itu, di trotoar yang panas, ada Mbah Darmo.
Pakaiannya kusam, warnanya sudah tak menentu antara abu-abu atau cokelat tanah. Ia memanggul karung goni berisi botol plastik bekas.
Bau keringatnya menyengat, membuat orang-orang yang lewat menutup hidung atau membuang muka dengan jijik.
Mbah Darmo berhenti di depan sebuah selokan yang tersumbat sampah plastik.
Tanpa ragu, ia merogoh air hitam yang berbau busuk itu dengan tangan telanjangnya agar air bisa mengalir kembali.
“Kotor sekali,” bisik seorang sekretaris cantik yang baru turun dari ojek, sambil mempercepat langkahnya agar tidak berdekatan dengan Mbah Darmo.
Malam harinya, di bawah langit yang sama, dua manusia ini berada dalam kondisi yang sangat kontras:
Pak Baskoro berada di sebuah restoran mewah.
Ia menyesap anggur mahal sambil tertawa bersama para kolega, merayakan “kemenangan” proyek yang sebenarnya mencuri hak ribuan perut yang kelaparan.
Di hadapan Allah, ruhnya terlihat seperti bangkai yang dipenuhi ulat—busuk, menghitam karena setiap suapan nasinya adalah api neraka yang ia kumpulkan sendiri.
Ia merasa bersih karena mandi air hangat, namun hatinya penuh nanah ketamakan.
Mbah Darmo duduk di emperan toko yang tutup.
Ia mengeluarkan sebungkus nasi sisa yang ia beli dari hasil memulung seharian.
Sebelum makan, ia berwudhu dengan sisa air mineral di botolnya. Ia bersujud di atas potongan kardus, berbisik lirih:
“Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah atas rezeki yang halal hari ini.”
Di mata manusia, Mbah Darmo adalah sampah masyarakat.
Di mata Allah, setiap butir keringatnya yang jatuh saat memungut sampah adalah saksi kesucian.
Tangannya yang hitam oleh jelaga justru bercahaya di langit karena tidak pernah menyentuh hak orang lain.
Sebaliknya, Pak Baskoro yang dipuja dan dicium tangannya oleh banyak orang, hanyalah sosok yang menjijikkan di hadapan-Nya.
Amanah yang ia khianati berubah menjadi beban yang akan mematahkan punggungnya di hari perhitungan.
Satu orang tampak kotor namun hatinya adalah taman surga; satu orang tampak berkilau namun batinnya adalah lubang pembuangan.
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)
