Suara riuh rendah di koridor SDN 31 Koto Merapak perlahan memudar saat saya melangkah masuk ke ruang kelas.
Saya menarik napas panjang, merapikan jilbab, dan menatap deretan bangku yang kini diisi oleh wajah-wajah asing—generasi yang lahir jauh setelah saya mengabdikan diri di sini.
Sudah 16 tahun.
Pikiran saya seringkali melayang kembali ke tahun 2009.
Saat itu, langkah kaki saya masih terasa ringan menuruni jalanan di Dusun Bukit Togang, Jorong Simpang Goduang. Meninggalkan Nagari Simpang Kapuak di Lima Puluh Kota demi sebuah janji bakti.
Perjuangan ikut tes saat itu bukan sekadar mencari kerja, tapi tentang membawa martabat guru ke tanah rantau di Pesisir Selatan ini.
Dulu, saat saya baru memulai di Koto Merapak, “Adab” bukan sekadar teori di buku paket Agama. Ia adalah napas.
Murid-murid akan berebut membawakan tas saya hingga ke kantor.
Jika berpapasan di pasar, mereka akan menunduk dan menyalami tangan saya dengan takzim.
Suara guru di dalam kelas adalah hukum yang dihormati tanpa perlu teriakan.
Namun sekarang, di tahun 2026, suasana itu terasa kian pudar, seolah terkikis oleh pasang air laut di pesisir Sutera.
“Rian, simpan HP-mu. Kita sedang belajar,” tegur saya lembut.
Rian, seorang murid kelas enam, hanya melirik sekilas tanpa mengubah posisinya yang bersandar malas.
“Bentar, Bu. Tanggung, lagi mabar,” jawabnya datar.
Tidak ada rasa bersalah, apalagi ketakutan.
Saya terdiam. Bukan karena marah, tapi karena sedih.
Di pojok lain, beberapa siswi asyik berbisik sambil menatap layar kecil di bawah meja, lalu tertawa cekikikan tanpa mempedulikan saya yang berdiri di depan papan tulis.
Adab yang dulu menjadi pondasi, kini tampak seperti pajangan usang yang mulai berdebu.
Bagi saya yang jauh-jauh merantau dari Mungka, melihat pudarnya rasa hormat ini terasa seperti luka sembilu.
Kami, guru-guru angkatan lama, diajarkan bahwa mendidik adalah membentuk karakter.
Namun sekarang, ketika kami menegur sedikit keras, terkadang bukan dukungan orang tua yang didapat, melainkan protes atau ancaman dilaporkan.
Anak-anak kini lebih pintar mencari informasi di Google, tapi mereka lupa cara mencari restu dari lisan gurunya.
Mereka tahu segalanya tentang dunia luar, tapi gagap tentang bagaimana cara menghargai orang yang lebih tua.
Sore itu, saat saya bersiap pulang, seorang murid kecil kelas satu berlari ke arah saya.
Ia meraih tangan saya dan menciumnya dengan tulus. “Hati-hati pulang, Bu Guru,” ucapnya singkat lalu berlari lagi.
Sentuhan kecil itu menguatkan saya.
Meski adab kian memudar ditelan zaman, tugas saya belum usai.
Dari Bukit Togang saya membawa semangat, dan di Koto Merapak semangat itu tak boleh padam hanya karena perubahan zaman.
Saya akan tetap mengajar, bukan hanya agar mereka pintar, tapi agar mereka kembali menjadi “manusia” yang beradab.
