Oleh: Gugun Gunardi

Membahas mengenai kesenian khas Sunda yang masih eksis, tentu tidak akan ada habisnya, karena tatar Sunda memiliki banyak ragam kesenian tradisional. Khasanah ragam kesenian di etnis Sunda menambah khasanah budaya dan kesenian asli bangsa Indonesia. Etnis Sunda adalah suku terbesar kedua di Indonesia setelah etnis Jawa, yang memiliki banyak kesenian unik dan khas.

Orang Sunda yang terkenal dengan keramahtamahannya, memiliki kemampuan kreatif dalam berkesenian, yang menghasilkan berbagai ragam kesenian tradisional. Konsisten dengan ungkapan, Someah Hade ka Semah yang memiliki arti ramah pada tamu. Karakter lemah lembut, periang, serta hormat pada yang lebih tua telah diajarkan sejak mereka masih kecil. Sehingga karakternya sudah terbentuk ketika memasuki usia dewasa. 

Ada beberapa kesenian khas Sunda yang wajib dipelihara dan dilestarikan oleh etnis Sunda, yang memiliki kearifan lokal yang sangat mengagumkan. Etnis Sunda dikenal sebagai suku yang sangat menghormati seni budaya warisan leluhur. Etnis Sunda juga terkenal sebagai suku yang ramah dan sangat menghormati orang yang lebih tua. Tak heran jika sampai saat ini suku Sunda masih memegang teguh tradisi para leluhur. Ini terbukti dengan cara memelihara dan melestarikan beragam kesenian tradisional agar tidak punah oleh perkembangan zaman.

Beberapa kesenian khas Sunda yang tetap eksis hingga saat ini, antara lain:

Wayang Golek
Wayang golek hampir mirip dengan wayang kulit, hanya saja memiliki bentuk yang sangat berbeda. Terutama sosok wayang, wayang golek. Menontonnya langsung ke arah wayang, karena bentuknya boneka tiga dimensi, sementara wayang kulit yang ditontonnya adalah bayangannya.

Dalam pertunjukannya, sang dalang lebih banyak menggunakan bahasa daerah. Jika di Jawa Timur dan Jawa Tengah, menggunakan bahasa Jawa dan basa jawa Timuran, jika di Jawa Barat menggunakan bahasa Sunda. Sang dalang biasanya mampu memainkan 4 hingga 10 karakter wayang dengan menirukan karakter suara wayang yang berbeda-beda.

Kecapi Suling
Semua seni vokal Sunda, biasanya selalu ada cengkok-cengkok yang khas. Kecapi suling adalah salah satu kesenian yang benar-benar menggambarkan khas kesundaan. Sesuai dengan namanya, instrumennya terdiri dari kecapi dan suling saja. Lagu-lagunya menyejukkan hati dan pikiran. Membawa pada suasana yang tenang, bila mendengar lagu kecapi suling.

Cianjuran

Cianjuran merupakan seni Sunda dari Cianjur, musik ini juga disebut mamaos. Alat musik Sunda telah ada sejak tahun 1930, seperti rebab, kecapi rincik dengan kombinasi suling dan kecapi indung. Dengan panembang yang cengkoknya mirip pesinden, menggunakan bahasa Sunda.
Jika kita mendengarkan dengan sekilas, kecapi ini mirip dengan kecapi kato yang berasal dari Cina. Pada awalnya seni Cianjuran ini hanya kecapi yang mirip dengan kecapi yang berasal dari Cina tersebut. Lagu-lagunya hanya menyanyikan seni pantun (pupuh) yang dilagukan. Liriknya berasal dari kisah pantun Mundinglaya Dikusumah. Di daerah Sunda, kesenian ini biasanya dipagelarkan pada saat acara khitanan, pernikahan, dan upacara adat.

Tari Merak
Tari Merak merupakan salah satu kesenian khas Sunda yang gerakan-gerakan dan pakaiannya terinspirasi dari kecantikan burung merak. Para penari akan mengembangkan selendang menyerupai sayap dan ekor burung merak pada saat melakukan tarian.
Tari Merak diciptakan oleh Seniman R. Tjetje Somantri, tarian ini biasanya dipentaskan oleh 3 penari hingga 7 penari.

Tari Jaipong
Kesenian khas suku Sunda ini, sangat populer hingga saat ini. Tari Jaipong merupakan jenis tarian tradisional dengan iringan alat musik kliningan, salendro, dan pelog yang dikolaborasikan dengan beberapa jenis gerakan.
Yaitu, gerakan tari ketuk tilu, tari ronggeng, dan beberapa gerakan pencak silat. Penciptanya seniman Gugum Gumbira. Hingga saat ini dalam berbagai acara masyarakat Sunda masih banyak yang mempagelarkan pertunjukan tari Jaipongan ini.

Kuda Renggong

Kesenian khas Sunda ini berasal dari Sumedang, yang berupa keterampilan. Kuda yang dimainkan, sebelumnya telah mendapatkan latihan terlebih dahulu, untuk bisa menari mengikuti irama musik gamelan. Kuda yang digunakan harus mempunyai fisik yang kuat dan rata-rata berbadan tegap.
Biasanya musik yang mengiringi adalah kendang pencak, namun seiring berkembangnya zaman, saat ini bisa menggunakan jenis musik apa pun, termasuk dangdut. Pertunjukan kesenian ini dapat membuat penonton tertawa karena kuda akan menggeleng-gelengkan kepala mengikuti irama musik yang mengiringinya. Kuda Renggong pertama kali tampil di desa Cikurubuk, kemudian menyebar ke wilayah Sumedang dan sekitarnya, hingga ke Kabupaten Bandung.

Bajidoran

Bajidoran merupakan kesenian khas Sunda yang berasal dari Subang dan Karawang. Para penari Ronggeng berlenggak-lenggok mengikuti tabuhan kliningan. Para pria yang suka menari, akan mendekat dan menyawer dengan uang pada penari.
Orang yang menyawerkan uang inilah yang biasanya disebut Bajidor. Kesenian ini sudah ada sejak tahun 1990-an, kesenian ini mirip seperti Jaipongan, dangdut, dan ketuk tilu. Namun, sekarang ini kesenian khas Bajidoran sangat kurang peminatnya.

Sisingaan

Kesenian Sisingaan berasal dari kota Subang yang mulai tampil pada tahun 1975. Awal mula tercipta kesenian ini,  para seniman berbincang mengenai kesenian Reog Ponorogo Jawa Timur yang memiliki banyak peminat. Sehingga terciptalah kesenian yang mampu menunjukkan identitas kesenian khas Sunda, yaitu Sisingaan.
Ciri khas dari kesenian ini adalah membawa boneka singa dengan 4 penggotong pada satu singa. Pemikulnya terbuat dari bambu, singa tersebut terbuat dari bahan kayu. Pada bulu-bulu ekornya terbuat dari tali rafia dan badannya dibungkus kain hingga benar-benar mirip singa. Acara ini digelar pada saat hari besar dan acara khusus untuk hiburan.

Blantek

Pemain dari seni ini biasanya mereka sekelompok penari laki-laki dan perempuan dengan disisipi dialog yang lucu. Para pemain biasanya akan menonjolkan jenis atraksi gerakan pertunjukan silat dan diselingi lawakan.
Kesenian Blantek menggunakan waditra alat musik rebana, kecrek, kendang, rebab, dan gong. Tetapi seiring dengan perkembangan zaman, kesenian ini, kemudian menggunakan alat musik modern seperti bass dan gitar elektrik. []

*Unfari Press Bandung

(Visited 87 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.