Tersebutlah dua nama yaitu Mulya dan Yanti. Di kehidupan sebelumnya mereka masing-masing bersama orang lain. Dan di kehidupan sekarang mencoba merajut cerita untuk hidup bersama, saling melengkapi dan bahagia bersama. Namun jalan untuk sampai pada titik ini tidaklah mudah. Posisi mereka sebagai abdi negara membuat cerita ini melewati jalan berliku baru sampai di akhir yang indah.
Mulya dan Yanti bekerja di bidang publikasi dan dokumentasi. Satu di militer, satunya di sipil. Seringnya pimpinan hadir bersama dalam satu kegiatan resmi membuat mereka acap kali bertemu. Tugas mereka beririsan. Seperti Diagram Venn. Mula-mula irisan kecil, lama-lama jadi besar. Awalnya sambil tanya-tanya informasi, lalu terlihat bersama menenteng kamera untuk membidik objek yang sama. Pada akhirnya sering sinergi dalam tugas.
Kisah selanjutnya berjalan sesuai alur cerita yang mereka inginkan. Saling bertukar informasi karena publikasi perlu data selengkap-lengkapnya. Lama-lama, bersama-sama menyusun narasi laporan dan rilis. Kemudian sepakat, bukan cuma kamera yang menyatu, hati pun ikut terpaut. Bukan cuma nomor handphone yang tertukar, handphonenya pun ikut tertukar.
Hari berlalu. Hubungan mereka semakin intensif. Dan sepertinya akan serius. Namun ada satu kendala. Yanti memang sudah terlepas sepenuhnya dengan cerita masa lalu, tapi Mulya masih ada sangkutan. Parahnya, sangkutan ini tidak mudah dilepas karena menyangkut kredibilitas institusi dan wibawa pimpinan.
Mulya dituntut melepas semua itu. Di berupaya, namun tidak bisa cepat. Ada proses panjang yang harus dilalui. Yanti tidak menuntut harus buru-buru, yang penting baginya semua masalah harus diselesaikan terlebih dulu, semua hambatan harus disingkirkan jauh-jauh, agar langkah kaki ke depan mantap tanpa kendala.
Akan tetapi, hubungan yang dibayang-bayangi latar belakang status Mulya menjadi pertanda kurang baik di institusinya. Pimpinan sepertinya kurang senang. Jadi dia diberi ultimatum untuk menyelesaikan semua masalah sebelum melangkah lebih jauh.
Koordinasi antar pimpinan pun terjadi. Pada suatu malam, pimpinan Mulya tiba-tiba mendatangi kediaman atasan Yanti. Tentu tidak membawa pasukan. Tapi rombongan kecil, berjumlah 4 orang. Tetangga pada kaget. Dan bertanya-tanya. Ada apa orang berseragam mendatangi rumah yang terletak di luar kota itu malam-malam.
Ini masalah serius. Rupanya pimpinan Mulya ingin memastikan hubungan anak buah mereka. Dan rupanya dia juga baru tahu kalau Mulya sudah tidak masuk kerja selama beberapa hari, dan saat itu dia tidak tahu di mana anggotanya itu berada. Rupanya pula, dia datang ke atasan Yanti untuk mecari tahu, di mana anggotanya itu menghilang.
Atasan Yanti yang memang tidak tahu, tidak bisa memberikan solusi apa-apa. Namun dia punya alternatif. Barangkali, teman Yanti tahu, yang terkadang dipercaya membelikan tiket pesawat. Jadi rombongan kecil itu berpindah tempat, menuju rumah teman Yanti. Hasilnya tetap sama, nihil.
Yanti yang merasa terganggu dengan tindakan represif pimpinan Mulya, keesokan harinya meminta atasannya untuk mendampingi guna menghadap pimpinan Mulya. Hanya mereka bertiga dalam ruangan itu. Dan Yanti mengatakan bahwa dia saat itu tidak tahu menahu di mana Mulya berada. Dia berhasil meyakinkan pimpinan bahwa mereka memang sama-sama ke Jakarta, namun berpisah setelah turun dari pesawat, lalu putus komunikasi.
Lalu Mulya benar-benar menghilang. Bukan cuma satu atau dua hari. Lebih dari setahun. Dia dianggap mangkir dari tempat bekerja, lalu akhirnya berhenti. Atau diberhentikan. Sebagian teman Yanti, termasuk atasannya, pun tidak lagi mendengar kabar Mulya. Yanti tetap bekerja seperti biasa. Bagi atasannya, persoalan pribadi tidak pernah dibawa serius, sepanjang tidak mengganggu tugas dan kewajiban. Yang paling penting tugas utama tuntas. Ini berlaku bagi semua pegawai di instansi itu. Dan itulah yang terjadi.
Hingga suatu saat di bulan April 2026. Ketika di sebuah acara Yanti dan atasannya menatap layar kaca menampilkan pernikahan perdana di Mal Pelayanan Publik (MPP), Yanti berkata bahwa dia akan melakukan hal yang sama pada pertengahan Mei 2026. Tidak di MPP, tapi di Masjid Agung. Atasannya bertanya apakah dengan Mulya, atau yang lain. Dijawab anggukan kepala.
Beberapa hari kemudian Mulya muncul di hadapan atasan Yanti. Pada pertemuan tidak resmi di sebuah café usai upacara Hari Pendidikan Nasional. Mulya hadir dan menceritakan semua yang dialaminya. Termasuk niat mereka untuk serius membina rumah tangga. Teman-teman Yanti yang hadir saat itu langsung memberikan dukungan penuh.
Dan hari itu tiba. Hari kebahagiaan di antara keduanya. Mulya dan Yanti bersatu menjadi Mulyanti. Orang nomor dua di pemerintahan hadir sebagai saksi. Teman Yanti semua all out hadir dan berpartisipasi sesuai peran mereka selama ini. Ada yang jadi pengatur tempat, protokol guide, fotografer, kameramen, koordiantor lapangan, master of ceremony dan pendamping pengantin. Solid pokoknya. Semua disiapkan dari detail dari A-Z, lalu AA-ZZ.
Alunan musik religi bernuansa Islami terdengar di Masjid Agung, mengiringi prosesi pernikahan keduanya. Usai akad nikah yang sakral, Yanti keluar bilik diantar kedua putrinya. Lalu dijemput Mulya. Satu per satu kerabat datang memberikan ucapan selamat.
Selamat menempuh hidup baru Mulyanti. Semoga sakinah, mawaddah, warahmah, dan ini yang kedua dan terakhir.
Paser-Kaltim, 15 Mei 2026
