Oleh: Lolita Eka Putri

Riuh rendah suara klakson dan deru mesin kendaraan di luar pagar sekolah seolah mementalkan gema lagu Nasionalisme yang baru saja dinyanyikan pada upacara Hari Kebangkitan Nasional.

Pak Rahman, seorang guru Bahasa Indonesia dengan masa bakti hampir dua dekade, berdiri di depan kelas IX-B.

Di tangannya ada tumpukan lembar jawaban ujian yang baru saja dikoreksinya semalam.
Hatinya miris.

Bukan hanya karena nilai rata-rata kelas yang terjun bebas, tetapi karena melihat pemandangan di depannya.

Di barisan belakang, Farel asyik menyandarkan kakinya ke kursi depan sambil mengunyah permen karet.

Ketika matanya bertemu dengan tatapan Pak Rahman, Farel bukannya memperbaiki posisi duduk, malah membuang muka dengan tatapan menantang.

Di sudut lain, beberapa siswi asyik berbisik sambil sesekali melirik layar ponsel yang disembunyikan di bawah kolong meja.

“Anak-anak,” Pak Rahman memulai dengan suara tenang namun berwibawa. “Hari ini 20 Mei.

Hari Kebangkitan Nasional. Dulu, pemuda-pemuda bangsa berjuang dengan otak yang cerdas dan adab yang luhur untuk bangkit dari penjajahan.

Tapi melihat hasil ujian dan sikap kalian beberapa bulan ini… Bapak bingung, apa yang sedang kita bangkitkan?”

Farel mendengus keras, sengaja memutus kalimat Pak Rahman.

“Halah Pak, zaman sudah berubah. Lagian nilai jelek kan tinggal remedial. Gak usah lebay lah, Pak.”

Beberapa anak tertawa kecil.
Kosong. Kata-kata Farel mencerminkan ruang kepala yang enggan diisi literasi, dan hati yang kering dari rasa hormat.

Pak Rahman menarik napas dalam-dalam. Dadanya bergemuruh.

Ada masa di mana seorang guru bisa menggebrak meja atau memberikan hukuman berdiri di lapangan untuk mendisiplinkan siswa yang keterlaluan.

Namun hari ini? Menjadi guru seperti berjalan di atas hamparan telur.

Baru minggu lalu, Pak Joko, guru matematika senior, dilaporkan ke polisi oleh orang tua murid hanya karena menepuk pundak seorang siswa dengan penggaris plastik agar anak tersebut bangun dari tidurnya.

Tuduhannya mengerikan: penganiayaan fisik dan psikologis.

Serba salah. Keras sedikit, polisi bertindak.

Dibiarkan, moral anak bangsa hancur lebur.
Padahal, demi Tuhan, Pak Rahman dan seluruh guru di sekolah ini tidak pernah menginginkan hal buruk.

Mereka meluangkan waktu malam yang seharusnya untuk keluarga demi mengoreksi tugas, memutar otak mencari metode mengajar yang seru, dan mendoakan anak-anak didiknya agar menjadi orang sukses.

Mereka hanya ingin yang terbaik.
Pak Rahman melangkah mendekati meja Farel.

Sembari menatap lurus ke mata remaja itu, beliau meletakkan lembar jawaban Farel yang dihiasi angka merah menyala: 25.

“Farel, dan kalian semua,” suara Pak Rahman melunak, namun justru getarannya membuat kelas perlahan senyap. “Bapak tidak marah karena nilai kalian kosong.

Otak yang kosong bisa diisi dengan belajar. Tapi kalau adab dan etika kalian yang kosong… dengan apa Bapak harus mengisinya?”

Pak Rahman berjalan kembali ke depan kelas, memandangi foto Ki Hajar Dewantara yang tergantung di dinding.

“Kalian pikir kami, para guru, cerewet karena benci? Kami bersuara karena kami peduli.

Ketika kami menegur cara dudukmu, cara bicaramu, itu karena kami tidak ingin kamu dipermalukan di dunia luar sana saat sudah lulus nanti.

Kami tidak butuh kalian bayar dengan uang, kami hanya ingin melihat kalian jadi ‘manusia’ yang utuh.”

Suasana kelas mendadak hening. Farel perlahan menurunkan kakinya dari kursi.

Tatapan menantangnya luruh, digantikan oleh rasa canggung yang tiba-tiba menyergap.

Kata-kata Pak Rahman tidak mengandung bentakan, namun entah mengapa terasa lebih menusuk ketimbang makian.

“Hari Kebangkitan Nasional ini bukan cuma seremonial upacara dan pasang status di media sosial,” lanjut Pak Rahman, matanya berkaca-kaca namun tetap tegap.

“Ini adalah pengingat. Tantangan bangsa ini ke depan bukan lagi melawan penjajah, tapi melawan kebodohan dan hilangnya moral.

Dan kalian adalah penentunya. Jika kalian memilih untuk runtuh, maka runtuh pulalah masa depan bangsa ini.”

Bel istirahat berbunyi, memecah keheningan yang magis itu.

Pak Rahman merapikan bukunya, tersenyum tipis, lalu berjalan keluar kelas tanpa mengucap sepatah kata lagi.

Di kursinya, Farel menatap lembar kertas bernilai 25 itu. Untuk pertama kalinya, ada rasa malu yang menjalar di dadanya.

Dia menoleh ke arah pintu tempat Pak Rahman baru saja keluar, menyadari bahwa di dalam hati guru yang sering mereka sepelekan itu, ada harapan raksasa yang sedang diperjuangkan mati-matian—meski taruhannya adalah profesi dan harga diri sang guru sendiri.

(Visited 5 times, 5 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.