Gunung Krakatau yang terletak di perairan Selat Sunda itu, pernah menggoreskan peristiwa yang tidak terlupakan dalam sejarah, gunung yang kini termasuk dalam gugusan gunung berapi dan masih aktif. Pada tahun 1883 pernah memuntahkan seluruh isi perutnya sehingga mampu memporak-porandakan bahkan melenyapkan kehidupan yang ada di daerah-daerah ujung Pulau Jawa, dan Sumatra. Sementara akibat dari letusan itu terasa hingga ke negara lain seperti Australia, Singapura, Malaysia, bahkan di Eropa.

Gunung Krakatau yang menjulang tinggi di tengah laut itu, menurut para ahli vulkanologi, hanya merupakan anak dari sebuah gunung, terletak digugusan pulau. Gugusan pulau itu bernama Krakatau. Diatas salah satu gugusan pulau. itu, menjulang sebuah gunung berapi. Diperkirakan tingginya mencapai 2000 m.

Pada masa prasejarah, gunung ini meletus, runtuh dan tenggelam dibawah permukaan air laut. Sisa letusan yang masih nampak dipermukaan air laut tinggal tiga potongan, masing-masing dikenal dengan nama Pulau Rakata, Pulau Sertung di sebelah barat laut Rakata, dan Pulau Panjang di sebelah timur laut Rakata. Ketiga pulau ini terpisah satu sama lain dengan dibatasi oleh air laut.

Dalam perjalanan sejarah, terjadi lagi letusan yang berkali-kali dibawah permukaan air laut. Karena letusan-letusan ini lalu di sebelah utara pulau Rakata muncul dua gunung berapi berbentuk kerucut. Kedua gunung ini diberi nama Gunung Api Perbutan dan Danan. Sedang di sebelah selatan pulau itu muncul juga gunung api diberi nama Gunung Rakata.

Ketiga gunung ini menyatu satu sama lain dengan Pulau Rakata sehingga pulau tersebut menjadi sangat luas dibanding dengan pulau lainnya. Pulau yang luasnya menjadi 33.5 km ini lalu diberi nama Pulau Krakatau.

Pada pulau Krakatau inilah terletak 3 gunung berapi Rakata, Danan dan Perbutan. Masing-masing gunung itu mempunyai ketinggian 800 m lebih, 403 m. dan 120 m.

Karena letusan dahsyat yang terjadi pada 26, 27 dan 28 Agustus 1883, luas Krakatau yang tersisa tinggal 10,5 km². Gunung Api Perbutan dan Danan lenyap dari permukaan air laut. Sedang gunung Rakata sendiri yang tersisa hanya separuh, sedang paruh lainnya beserta pulaunya lenyap dari permukaan air laut bersama dengan semburan lahar dari perut bumi.

Akibat dari letusan 1883 itu, bentuk gugusan pulau yang ada menjadi berubah, ada yang mengecil karena lenyap dari permukaan air laut, tetapi ada pula yang melebar dan air meninggi karena kejatuhan dan penimbuhan batu apung, batu-batuan, serta abu vulkanis.

Setelah sekian lama gunung tersebut istirahat pada 1927 terjadi lagi letusan dibawah permukaan air laut, terletak ditengah-tengah antara Pulau Sertung, Pulau Panjang dan Pulau Krakatau. Bahan erupsi akibat dari letusan itu cukup banyak, dan menyembul dipermukaan air laut. Makin lama dalam perjalanan waktu, timbunan itu membentuk kerucut gunung berapi. Kerucut ini kemudian labih dikenal dengan nama gunung berapi anak Krakatau.

PETAKA DI BULAN AGUSTUS 1883

Pada tanggal 26, 27, dan 28 Agustus 1883 gunung yang terletak di perairan Selat Sunda tersebut, memperlihatkan kebolehannya. Selama 3 hari berturut-turut disemburkan apa yang disimpannya selama ini. Abu, batu apung, batu lumpur panas, pasir, bertebaran bukan hanya berjatuhan dugugsan pulau itu tetapi hingga ke ujung selatan pulau Sumatra dan ujung utara dan barat laut pulau Jawa. Laut selama 3 hari digoncang oleh ledakan itu. Gelombang pasang yang tinggi dengan air panasnya yang mematikan mahkluk yang ada itu telah memusnahkan kota Teluk Betung di Lampung, Anyer dan Caringin di Banten.

Bunyi ledakan terdengar diseluruh Nusantara. Sementara gelombang pasang melanda seluruh pantai utara dan barat pulau Jawa. Bahkan Cilacap yang terletak di pantai selatan, para nelayannya tidak berani pergi ke laut karena gelomabang yang tidak bersahabat.

Bahkan Kapal-kapal yang sedang ditambatpun mengalami kerusakan karena hempasan ombak. Dipantai timur pulau Sumatra gelombang pasang sampai ke muara Tulang Bawang. Sedang dipantai baratnya mencapai Air Bangis yaitu dipantai utara Sumatra Barat. Hujan abu selain jatuh di selat Sunda, juga seluruh wilayah selatan pulau Sumatra, di jawa mulai dari Banten, Betawi, Priangan dan Krawang. Di daerah-daerah yang terkena hujan abu, mengalami kegelapan sampai beberapa jam. Sedang di gugusan Pulau Krakatau sendiri, udara panas terus menyelimuti hingga 3 hari disertai hujan abu, lumpur panas serta kilatan halilintar yang menyambar-nyambar terus-menerus.

Menurut berita diberbagai koran pada waktu itu, banyaknya bahan letusan yang disemburkan oleh Krakatau ke angkasa diperkirakan mencapai 18 km³, tersebar diberbagai daerah seluas 827.000 km².

Benda-benda yang berjatuhan itu bukan hanya berada dipulau Jawa dan Sumatra serta pulau-pulau sekitarnya saja tapi hingga kepulauan Kokos. Getaran gelombang laut serta naiknya suhu laut terasa hingga paroh pantai-pantai dunia. Suara letusan ke arah barat mencapai Srilangka, Karaci sedang ke timur mencapai Sydney. Bahkan koran-koran luar negeri pada waktu itu memberitahkan bahwa abu halus yang disemburkan ke udara mencapai ketinggian 30 km (bahkan ada yang memberitakan hingga 70 km) di angkasa, abu-abu tebal itu menjadi suatu pemandangan yang indah. Adanya pembiasan dengan matahari pada pagi hari terlihat di Eropa gumpalan abu itu berubah dalam berbagai warna.

Di Tokyo, matahari sampai berhari-hari berwarna merah tembaga, sedang di Amerika matahari berwarna kuning dengan lingkaran langit yang berwarna hijau. Di Hongkong matahari tiba-tiba berubah warna menjadi hijau, juga di Surabaya matahari berwarna hijau saat tenggelam.

Gelombang udara dari letusan itu dalam waktu 128 jam telah mengitari dunia selama 3.5 kali. Kapal api “Berauw” yang sedang berlabuh di teluk Betung terlempar sejauh 3.300 m dan masuk ke dalam sebuah sungai. Korban yang tercatat akibat letusan tersebut diperkirakan mencapai 36.417 jiwa, korban tersebut boleh dikata disebabkan oleh gelombang panas saat separo gunung tersebut runtuh dan tenggelam ke dasar laut.

Sumber primer berupa arsip tentang letusan Krakatau 1883 masih tersimpan dengan baik di Arsip Nasional Republik Indonesia. dari khasanah arsip tentang letusan Krakatau 1883 itu dapat dijumpai laporan dari berbagai penguasa daerah kepada pemerintah pusat baik tentang jangkauan sebar akibat letusan, kerusakan-kerusakan yang terjadi, penangan, penyelamatan serta permohonan bantuan dari pusat. Juga bagaimana tindakan yang diambil dari pemerintah pusat untuk menanggulangi bencana yang maha dahsyat ini.

LAMPUNG

Daerah-daerah yang berada dibawah wewenang Residen aling selatan dari pulau Sumatra ini adalah daerah yang sangat menderita akibat letusan Krakatu. Sepanjang panati terutama daerah Teluk Betung tak ada kehidupan, sepanajang pantai itu tidak ada sijumpai seorangpun yang masih hidup. Dalam laporan Inspektur Pos dan Telegram yang mengadakan kunjungan kesana, dan akan membangun kembali jalur telegram yang terputus karena gelombang. Dari perjalanan ini diketahui bahwa wilayah Lampung, Palembang, Bengkulu mengalami rusak berat.

BANTEN

Begitu parahnya daerah pantai dari wilayah Banten ini sehingga sejauh mata memand. ng yang tampak hanya padang pasir. dari telegram yang berkali-kali dikirm oleh Residen Banten kepada Gubernur Jenderal secara rinci letusan-letusan Krakatau beserta akibat-akibatnya yang menimpa wilayahnya, hujan abu, gelombang pasang yang tinggi, siang hari menjadi gelap gulita, jalur komunikasi antar wilayah putus dan rusak total. Seluruh daerah Merak hingga Caringin musnah. Mercusuar di Teluk Babi rusak, dipantai utara, tidak ada apa-apa lagi. Banyak rakyat yang mati dilanda ombak pasang yang tinggi karena tidak sempat melarikan diri ke puncak-puncak gunung. Di Distrik Serang diketemukan mayat 40 orang, di Merak diketemukan 80 mayat, di Banjarnegara juga diketemukan 52 mayat, di Caringin diketemukan 450 mayat, dinyaer ada 1517 mayat. Karena tidak adanya tenaga maka sebagian belum dikebumikan. Di Citeureup diketemukan 54 mayat. Sementara diperkirakan mayat-mayat yang tak diketemukan telah terseret gelombang ke laut lepas dan menjadi mangsa ikan atau buaya.

BATAVIA

Ternyata gelombang pasang letusan Krakatau ini, membawa bencana bagi penduduk Batavia termasuk Tangerang. Gelombang pasang menggenangi daerah Batavia hingga taman Heemraden di kampung luar Batang. Pelabuhan Tanjung Priok keadaannya tidak lebih baik dari daerah-daerah lainnya. Seluruh pelabuhan tergenang air. Sebagian ketinggian air telah mencapai 235 diatas titik nol (= 20 meter), karena itu semua aparat dan pekerja segera meninggalkan pelabuhan yang tak bersahabat itu. Kampung Pasir di Untjum Jawa (Tangerang) bahkan lenyap hingga Ketapang di Tangjung Kail, juga daerah Sembilang Laut, Cilincing lenyap ditelan ombak.

Beberapa pulau di Kepulauan Seribu juga lenyap dari permukaan air laut. Di daerah Meester Cornelis terutama di Cabang Bungin, air laut telah melenyapkan kampung Pondok Dua, Sambilangan, Pondok Tengah, Muara Gombong, Blaca, Blubuk dan Gaga.

Berbeda dengan daerah Mauk, Tanjung Rawa, Saban, Kanal yang porak poranda, didaerah Selatan hingga Karang Serang Dalam, penduduk dibuat sibuk karena ombak yang datang itu justru membawa berkah dengan ikan lautnya, sehingga hasil sero (penangkap ikan) mereka dapat menghasilkan uang f 1500.

BERITA BERDATANGAN

Residen Madura segera mengirim telegram kepada Gubernur Jendral karena ketidak tahuannya bahwa suara kanan yang terus menerus itu ternyata letusan Krakatau. Juga hala sama dilakukan oleh Residen Krawang, bahwa tiba-tiba di Krawang ombak bisa mencapai 5 kali disertai air bah.

Bahkan di Cilacap daerah yang jauh dan terlindung dari Krakatau, kapal-kapal yang sedang berlabuh mengalami kerusakan akibat gelombang pasang sehingga tidak dapat untuk berlayar. Laporan-laporan dari Krawang, Palembang, Bengkulu, dan Sulawesi berdatangan kepada Gubernur Jendral melaporkan keadaan daerahnya akibat letusan gunung api tersebut.

AWAK KAPAL YANG KETAKUTAN

Selat Sunda yang ramai dilayari oleh berbagai kapal itu, dengan cuaca yang baik, tiba-tiba berubah menjadi petaka bagi kapal-kapal yang sedang berada di perairan itu. Bagaimana laporan dari para nahkoda kapal yang ditujukan kepada Gubernur Jendral, menjadi saksi akan kedahsyatan letusan gunung api tersebut. Kapal-kapal tersebut tidak dapat meneruskan perjalanan, kembali ke tempat asal, bahkan beberapa kapal terjebak dalam amukan gelomabang pasang yang panas, hujan abu, batu apaung, dan terkena sambaran petir sehingga tak jarang jatuh korban pada awak kapal.

Menara mercusuar sepanjang pantai telah rusak sehingga tidak ada pemandu arah mereka dapat melihat dengan jelas muntahan lahar panas dari gnung Krakatau, ikan laut yang berpesta pora memakan bangkai manusia atau binatang yang terbawa oleh gelombang ke tengah laut. Bahkan tak jarang banyak kapal yang terlempar ke darat beratus-ratus meter jauhnya dari laut.

BANTUAN YANG DI HARAPKAN

Sulit bagi pemerintah untuk memprioritaskan daerah mana yang perlu mendapat bantuan terlebih dahulu. Dari daerah Banten sampai Krawang semua mengalami kerusakan dan harus segera mendapat pertolongan.

Juga di ujung selatan pulau Sumatra yaitu seluruh daerah Lampung porak poranda sehingga tidak ada lagi kehidupan, ini juga harus mendapat perharian. Untunglah semua pihak bersedia memberi bantuan. Dengan kapal Kediri telah dikirm dari Batavia untuk rakyat Lampung sebanyak 700 pikul beras, dikirm pula seorang dokter untuk memeriksa kesehatan rakyat disana, juga selain itu dibuatlah rumah bagi penduduk yang telah kehilangan tempat tinggal.

Juga 100 kojang beras
di peroleh dari Ampenan untuk rakyat Banten dan Batavia. Juga 1000 pikul beras dikirim untuk Teluk Betung.

Sumber: Penerbitan Naskah Sumber, Arsip Nasional Republik Indonesia, Jakarta 2003.

(Visited 18 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Subhan Riyadi

Bukan siapa-siapa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.