By Rosita Samad*)
Pagi baru saja menyambut harapan warga, dingin sampai dalam sendi khas Enrekang para pria dari kampung sekitar sudah bersiap di tempat kegiatan, sementara ibu-ibu dan remaja putri sibuk menyiapkan penganan berupa kudapan dan makanan tradisional . Satu persatu tiang dan penyangga ramuan rumah didirikan gotong royong tanpa alat mekanis. Arsitek sekaligus tukang memberi arahan hingga bangunan berdiri presisi sesuai rancangan awalnya.
Beberapa tempat di Enrekang membangun rumah panggung merupakan cermin budaya gotong royong yang kuat, kearifan lokal yang tak ternilai harganya. Dimulai dari menyiapkan bahan ramuan rumah dikenal dengan manglopo’ dikerjakan bersama dalam desa dan tanpa komando masyarakat akan datang berbondong-bondong ke tempat orang yang punya hajatan buat rumah. Para pria membantu tukang menyiapkan ramuan rumah sedangkan ibu-ibu menyiapkan makanan untuk konsumsi bersama semua orang yang hadir.

Beberapa daerah punya adat dan budaya untuk memulai pembangunan rumah mereka yang merupakan titik krusial sebuah rumah tangga. Rumah bukan hanya sekedar Enrekan, lebih dari itu menjadi tempat pulang suami istri dan anak-anak. Menjaga kehormatan keluarga dan tempat paling nyaman sepanjang hari seluruh anggota keluarga, sehingga orang akan mencurahkan materi rasa dan fikiran untuk mewujudkan rumah impian mereka. Tiap rumah tangga punya impian yang berbeda namun tetap sama dalam mewujudkannya dengan kerja keras dan tekat yang kuat.
Kabupaten Enrekang dihuni masyarakat bertutur dalam bahasa maiwa dituturkan mayoritas masyarakat Kecamatan Maiwa dan Bungin. Bahasa Enrekang dituturkan mayoritas masyarakat di Kecamatan Cendana, Kecamatan Enrekang dan sebagian Masyarakat Anggeraja dan bahasa duri mayoritas dituturkan oleh masyarakat Kecamatan Anggeraja, Baraka, Alla, Malua, Buntu Batu, Baroko dan Masalle. Keanekaragaman budaya dalam kekayaan tutur dan kearifan lokal masing-masing menyatu dan membuat Kabupaten Enrekang unik dari Kabupaten/Kota lain di Sulawesi Selatan.

Budaya gotong royong masyarakat bukan hanya pada pembuatan rumah namun dalam pertanian juga ada istilah kombong yaitu gotongroyong kerja kebun atau lahan anggota kombong dan beberapa kegiatan masyarakat termasuk pelaksanaan hajatan masyarakat Enrekang. Ada budaya “malemba kaju” Di Desa Bambapuang dan sebagian Kecamatan Enrekang yaitu membawa kayu bakar sebelum hari “H” Acara hajatan untuk meringankan beban yang punya hajatan. Ada budaya gotong royong masyarakat Desa Tobalu dengan partisipasi sembako dan ayam dari masing-masing kepala keluarga sebelum hari “H” Hajatan untuk keperluan makan bersama satu kampung.
Patut diapresiasi bagaimana sebuah budaya yang mengakar kuat dalam masyarakat menapiskan individualis dan ego masing-masing yang menjadi ciri masyarakat heterogen. Indah menjadi bagian dari tradisi kuat dan membutuhkan peran aktif kita agar budaya ini tetap hidup menemani perjalanan indah komunitas masyarakat di manapun berada. Herritage Indonesia akan kuat bila ditopang oleh kearifan lokal yang menjadi warisan mahal pendahulu kita.

Enrekang dan kearifan lokalnya satu dari banyak budaya di Indonesia, memberi warna indah sehingga membentuk lengkungan warna pelangi nusantara yang beragama. Bangga jadi anak bangsa yang dibesarkan oleh kultural yang indah dan beragam.
Awal Agustus 2026. Persembahan menyambut Dirgahayu Indonesiaku.
*) penulis penelaah teknis kebijakan DLHK Prov. Sulawesi Selatan
