Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama. Pepatah ini selalu relevan dengan perjalanan hidup seseorang, tertutama yang telah meninggalkan dunia ini.
Tulisan kali ini membahas tentang seorang yang terlahir bernama Yusuf, namun kemudian dalam keseharian lebih akrab dengan sebutan Supu. Dia lahir pada saat pendudukan Jepang di sebuah daerah perbatasan Enrekang dan Tana Toraja, Sulawesi Selatan.
Lahir dan besar di pelukan gunung, Supu menghabiskan hidupnya dengan menyusuri jalanan mendaki dan menuruni lembah yang curam. Gunung dan lembah adalah rumah sekaligus garis takdir baginya. Ketika dunia sekitarnya berputar dengan cepat, berubah dari derap langkah kuda, deru sepeda motor, hingga laju mobil, Supu memilih setia pada langkah kakinya sendiri.
Kesetiaan itu ia jaga dengan terus berjalan. Langkah terakhirnya terhenti ketika dipaksa oleh keadaan harus terbaring sejak pertengahan 2025, dan betul-betul berhenti di pekan kedua September 2026 seiring embusan napas terakhir.
Pengembaraannya memakan waktu berhari-hari, berminggu-minggu, hingga berbulan-bulan. Ia hanya pulang sebentar demi melepas rindu pada keluarga, sebelum kembali menjelajah. Dengan kata lain, sebagian besar hidupnya yang sekitar 80 tahun ini berada di jalanan. Di dalam melakoni pengembaraan, ia hampir tak pernah benar-benar sendiri. Ada anak, kemenakan dan para sahabat selalu setia menyertai langkahnya.
Salah satu kenangan paling ikonik bersamanya terukir pada awal Oktober 1996. Ia membawa 2 orang berjalan kaki berhari-hari mengunjungi kerabat di Kabupaten Mamasa. Kisah perjalanan panjang ini bermula dari Bittuang, sebuah nama kecamaatan sekaligus ibukota kecamatan di Kabupaten Tana Toraja.
Sepanjang sore hingga malam, rombongan kecil itu berjalan kaki menembus keheningan hutan, menantang lelah, ditemani suara makhluk yang ada di dalamnya. Tujuan mereka adalah sebuah kampung bernama Lembang (Desa) Pondingao’. Lokasinya di perbatasan Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Mereka menutup hari itu dengan menginap di rumah salah satu kerabat, hingga dua malam.
Selama berada di Pondingao’ paman mengunjungi banyak keluarga. Ia mengetuk pintu rumah satu per satu, atau menemani di kebun dan sawah. Sambutan hangat yang diterima sungguh luar biasa.
Pada hari ketiga, perjalanan bermula saat matahari baru terbit di ufuk timur. Sebelumnya di pagi buta tuan rumah sudah memasak nasi dan lauk ala kadarnya. Sebagian buat sarapan, sebagian lagi dibungkus daun pisang, untuk bekal makan siang. Ini antisipasi wajib karena tidak ada warung di rute itu. Yang ada hanya satu atau dua pondok sederhana, yang lebih sering kosong dari pada berpenghuni.
Perjalanan pagi hari itu berawal dari pendakian gunung ke arah barat, menuju perbatasan provinsi, yang kala itu masih merupakan perbatasan kabupaten. Benar saja, perjalanan menuju puncak melewati jalan setapak yang kiri dan kanannya dipenuhi hutan belantara. Tidak ada tanda-tanda pemukiman di sepanjang jalan.
Tepat tengah hari, perjalanan tiba di titik paling atas. Di tempat inilah para musafir biasa menepi, berpapasan dengan banyak pengelana dari arah berlawanan. Sekadar bertukar informasi beberapa waktu, lalu melambaikan tangan untuk berpisah. Kata paman, kadang pertemuan seperti itu adalah yang pertama dan terakhir dengan seseorang, karena kita takkan pernah melihat mereka lagi setelah itu.
Setelah berkata good bye, perjalanan berlanjut menyusuri lereng gunung yang landai di sisi seberang. Langkah kaki membawa ke wilayah yang baru, yaitu Mamasa. Di sini, waktu seolah berulang, butuh sekitar 6 jam perjalanan untuk tiba di tujuan, persis seperti rite sebelumnya.
Ketika bola raksasa paduan oranye dan jingga menyisakan separuh badannya di ufuk barat, kaki melangkah masuk ke rumah destinasi. Sejenak merebahkan diri, lalu makan malam, langsung istirahat. Acara sesungguhnya tujuan perjalanan baru mulai di hari berikutnya. Yaitu, berkeliling ke rumah kerabat, namun kali ini lebih mendalam. Melihat hamparan lahan yang luas.
Sambil menunjuk ke arah cakrawala, Paman Supu menjelaskan bahwa sejauh mata memandang adalah tanah ulayat. Yaitu lahan milik bersama yang bebas digarap secara bergantian. Bersama tokoh yang memegang kendali utama atas lahan itu, rombongan berkeliling dan melihat hamparan tanah subur itu, dengan tumbuhan semusim.
Tokoh yang populer dengan panggilan makdika (tuan) itu mempersilakan keluarga paman Supu untuk datang menggarap lahan itu selama semusim, lalu beralih ke keluarga yang lain, dan menunggu giliran lagi. Sebuah tradisi yang menarik.
Selama 3 hari menyambung rasa di Mamasa, berkeliling di rumah kerabat. Paman mengajak pulang setelah semua terasa cukup dan tenaga sudah pulih untuk berjalan kaki kembali. Kali ini waktu hanya dihabiskan 1 malam di Pondingao’. Namun pesan cukup kuat, yaitu tingkatkan silaturahmi, junjung tinggi nama keluarga, yaitu Sambolangi.
Setelah perjalanan ini, paman datang lagi beberapa kali di rumah mengajak jalan, dengan rute yang sama dan berbeda. Namun waktu itu penulis sudah kuliah di Makassar sehingga tidak bisa lagi ikut.
Paman juga beberapa kali ke Toraja dan Mamasa untuk menggarap lahan, dan membawa hasilnya pulang. Beliau mengajak anak-anaknya untuk ikut serta, namun dari 8 bersaudara, hanya 2 atau 3 yang ikut. Yang lain memilih menggarap lahan di dekat rumah, lalu 4 orang pergi merantau ke Nunukan, Kalimantan Utara.
Saat paman meninggal dunia, Minggu 6 September 2026, keempat bersaudara itu tidak bisa pulang karena kendala kabut asap di Bandar Udara Juwata Tarakan menyebabkan tidak ada penerbangan. Ikhlas melepas sang ayah tanpa tatapan terakhir, mereka berjanji akan menyatukan langkah saat pemugaran makamnya kelak.
Adapun keluarga dari Pondingao’ dan Mamasa, semua datang pada saat pemakaman. Mereka datang membawa kendaraan membawa jenazah ke Pondingao’ namun anak dan istrinya menolak. Dia beristirahat dengan tenang di samping makam dua adiknya yang lebih dulu berpulang, tahun 2021 dan 2024.
Paman Supu, kini kakimu sudah tak perlu lagi berjalan jauh. Engkau mengikuti hukum alam, sejauh manapun kaki melangkah, ada waktunya akan berhenti. Kita kemudian harus memilih, apakah berhenti sementara untuk melanjutkan melangkah lagi, atau berhenti selamanya karena perjalanan berikutnya hanya akan berlanjut oleh jiwa tanpa raga.
Catatan: Pada tahun 2000 ada pemekaran kecamatan Bittuang. Wilayah Lembang Pondingao’ masuk ke kecamatan baru, yaitu Masanda. Lalu pada tahun 2004 ada pemekaran Provinsi Sulawesi Barat. Mamasa menjadi salah satu Kabupaten. Penulis tidak pernah datang untuk menggarap lahan, namun hubungan baik dengan keluarga tetap berjalan dengan baik.
Dari salah satu keluarga yang menyambut di Pondingao’, lahir seorang pemimpin yang menjadi Ketua DPRD Kabupaten Tana Toraja periode 2014-2019 dan 2019-2024. Kemudian menjadi Bupati Mamasa untuk masa jabatan 2025-2030. Dia adalah Wellem Sambolangi.
Penulis mendapatkan pelajaran yang sangat berharga, yaitu berjalan kaki bermil-mil jauhnya tanpa mengenal rasa lelah. Ayah yang mengajarkan berjalan, paman mengajarkan berjalan jauh.
Tana Toraja, Sulawesi Selatan, 9 September 2026

