Minggu lalu, pemerintah telah mengumumkan kepada masyarakat luas bagi-bagi bonus kepada “Pahlawan Olahraga Asian Games”. Tidak tanggung-tanggung hadiahnya, nilai rupiahnya berkejar-kejaran angka O-nya”. Setiap pemegang medali emas untuk perorangan, mendapat hadiah tabungan dari BRI Rp1.500.000.000 (satu milyar lima ratus juta rupiah), Medali Perak mendapatkan bonus Rp500.000.000 (lima ratus juta rupiah), dan Medali Perunggu mendapatkan bonus Rp250.000.000 (dua ratus lima puluh juta rupiah). Bonus pantastis diperoleh oleh setiap pemegang medali di tingkat Asian Games. Apatah lagi kalau memenangi salah satu cabang olahraga di level olimpiade.
Pemerintah luar biasa perhatian serta apresiasinya terhadap “Pahlawan Olah Raga”. Semetara perhatian pemerintah bagi “Pahlawan Ilmu” sangat timpang. Suatu kewajaran jika Pahlawan Olahraga diapresiasi setinggi itu. Mereka telah “berdarah-darah” fisiknya melakukan latihan. Tiada waktu tanpa berlatih hingga meraih prestasi. Namun, jangan lupa bahwa Pahlawan Ilmu juga demikian. Mereka telah “berdarah-darah otaknya” belajar. Tiada waktu tanpa belajar. Setiap hari harus bergumul dengan buku. Prestasi yang mereka raih tidak mudah, penuh pengorbanan. Pemerintah harus adil memperlakukan para Pahlawan Ilmu itu. Kalau tidak adil, penulis khawatir generasi muda yang akan datang mengaburkan bahkan menguburkan impian mereka mengejar ilmu. Bisa saja terjadi generasi muda lebih memilih menjadi olahragawan tinimbang menjadi ilmuwan. Anak-anak sejak lahir berlatih keras bulutangkis. Ketika besar, dapat Medali Emas dan dihargai 1,5 M. Dapat lagi Medali Emas di Olimpiade, dihargai lagi 5 M. Dua tahun berikutnya, ikut lagi SEA Games, dapat lagi Medali Emas, dihargai lagi 1,5 M. Dalam hitungan kurang 10 tahun saja, bisa memenuhi pundi-pundinya dengan uang.
Kemarin siang, di Oxford University (3/9), penulis bertemu mantan siswa peraih Medali Emas Olimpiade Fisika dari Indonesia. Anak muda tersebut kini tengah mengambil program Post-Doktor bidang Fisika di Oxford University. Sangat berkecamuk dalam pikiran penulis untuk menanyakan bonus yang diterima dari pemerintah sewaktu meraih medalk emas pada ajang Olimpiade Fisika tingkat dunia. Namun, niat itu penulis urungkan. Saat itu, kami diskusi mengenai pendidikan di Universitas Oxford tempatnya menyelesaikan pendidikan Post-Doktoral. Namun, saya bermonolog, tanpa ditanyakan seberapa bonus yang pernah diterima, hampir dapat dipastikan tidak sebesar yang diterima para “Pahlawan Olahraga” yang disebutkan di atas.
————————————————————————
Bandung, 15 Januari 2022
(Visited 46 times, 1 visits today)
