Judul: GALAKSI SIMULACRA:Esai-Esai Jean Baudrillard.
M. ImamAzis (ed).
Penerbit: LKiS, 2001
Tebal: vii+198 halaman
ISBN:979-9492-47-3
Penerbit: LKiS Yogyakarta
Cetakan I:1 Juli 2001





sampul depan

Tentang Jean Baudrillard.
Pakar teori kebudayaan, filsuf kontemporer, komentator politik, sosiolog dan fotografer asal Prancis.

Karya Baudrillard sering dikaitkan dengan pascamodernisme dan pascastrukturialisme.

karyanya yg terkenal pada saat Desertasi Doktornya yg di bukukan The System of Objects adalah buku 1968 karya sosiolog Jean Baudrillard.


Jean Baudrillard adalah salah seorang teoritisi terkemuka pascamodern, yang sejajar dengan Foucault, lacan, Derrida.

Perhatiannya terutama adalah hakekat dan pengaruh komunikasi massa dalam masyarakat pascamodern.

Pikiran pikiran Jean Baudrillard penuh teror, dalam artian ia menggoncangkan tatanan berpikir yang mapan dan stabil selama ini.

Karyanya penuh inapiratif, mendorong semangat membangkitkan inovasi.

Jean Baudrillard merupakan seorang teoritisi sosial pasca-struktural terpenting.
Meninggal dunia, di Paris Prancis, 6 Maret 2007.

Resume GALAKSI SIMULACRA.
Buku ini pada dasarnya berisi esai-esai mutakhir Jean Baudrillard dalam kancah pemikiran  pasca modern.

Didalamnya Jean Baudrillard mengulas tentang Disney World, tentang utang global, tentang Sarajevo, dan pernik masalah milenium lainnya.

Tulisannya memang tidak umum dalam artian lurus dan gampang dicerna.

Konstruksi tulisannya yang tidak stabil, kadang terasa meloncat loncat yang merupakan cermin keadaan milenium.

Pembukaan esai : Selamat Datang di Dunia Jean Baudrillard.


Awas! Objek  di cermin lebih dekat dari yang tampak.

Kajian budaya atau cultural studies pertama kali muncul di Birmingham, Inggris. Salah satu perintis-nya adalah Raymond Williams.

Pada perkembangan selanjutnya, kajian budaya menyebar ke Eropa.
Perkembangan kajian budaya ini menjadi sangat berarti ketika kajian budaya “klasik” bertemu secara intensif dengan pemikiran postmodern.

Pemikiran postmodern yang dimaksud adalah postmodernis-me sebagaimana muncul dari tradisi pemikiran kontemporer Prancis seperti Lyotard, Foucault, Derrida, Roland Barthes, dan Jean Baudrillard.

Sebagai pemikir aliran postmodern yang perhatian utamanya adalah hakikat dan pengaruh komunikasi dalam masyarakat pascamodern, Baudrillard sering mengeluarkan ide-ide cukup kontroversial dan melawan kemapanan pemikiran yang ada selama ini.

Misalnya dalam wacana mengenai kreativitas dalam budaya media massa atau budaya televisi ia menganggapnya sebagai sesuatu yang absurd dan contradictio in terminis.

Bagi Baudrillard, televisi merupakan medan di mana orang ditarik ke dalam sebuah kebudayaan sebagai black hole.

Artinya, kebudayaan yang tidak mempunyai dasar. Televisi hanya menyajikan aliran gambar yang tidak lagi mempunyai aslinya atau singkatnya Simulacra.

Realitas yang ada adalah realitas semu, realitas buatan (hiperrealitas).

Menurut Jean Baudrillard, sebagaimana yang ditulis St. Sunardi (2001), kunci kreativitas terletak pada kemampuan orang untuk melakukan imajinasi, karena sudah tidak ada lagi yang diimajinasikan.

Gambar-gambar yang dihasilkan lewat media telah menjadi murderers of the real.

Gambar dalam budaya media telah kehilangan daya representasi. Ini berarti para konsumen budaya media massa tidak lagi berkreasi karena kehilangan dialectical capacity of representation.


Jean Baudrillard menggambarkan realitas ini melalui empat tahap:
“(1) it (image) is the reflection of the basic reality,
(2) it masks and pervert a basic reality,
(3) it masks the absence of the a basic reality, dan
(4) it bears no relation on any reality whatever: it is its own pure simalacrum.

Dari keempat tahap itu, tahap kedua adalah yang paling penting (maka Baudrillard memberi aksen): gambar bahkan mengelabui kita sehingga kita tidak sadar lagi akan ketidakhadirannya.

Gambar dalam media massa seperti televisi tidak lagi kita pahami dalam kerangka semiotis signifier dan signified.

Jarak keduanya lenyap, sehingga yang tinggal hanyalah sebuah pengalaman langsung.

Artinya, kita seolah-olah tidak sedang menghadapi image atau gambar tentang melainkan “realitas” itu sendiri. Inilah yang disebut Jean Baudrillard dengan istilah the immediate, the unsignified atau simulacrum atau (jamak) simulacra, yang secara terminologis berarti tiruan, imitasi, tidak nyata, tidak sesungguhnya.

Buku Galaksi Simulacra ini berisi esai-esai mutakhir Jean Baudrillard dalam kancah pemikiran post-modern yang di dalamnya mengulas berbagai hal mengenai masalah milenium ketiga ini di antaranya:

Disney World, Utang Global, Patafisika, Bedah Plastik, Tulisan Cahaya, dan sebagainya, dengan pembuka tulisan berjudul Selamat Datang di Dunia Jean Baudrillard yang seolah-olah mengajak pembaca memasuki dunia baru, yaitu dunia simulacrum.

Isi buku ini tidak dapat dipilah-pilah secara sistematis karena ditulis secara tersendiri. Sulit menemukan kesinambungan antara esai satu dengan yang lain.

Tulisannya memang sangat filosofis, tidak umum, dalam arti lurus dan gam pang dicerna.
Konstruksi tulisannya tidak stabil, kadang terasa meloncat-loncat, meronta, memang cermin dari keadaan milenium.

Memasuki milenium ketiga, banyak kalangan merasa sangat bahagia, pesta penyambutan dilaksa-nakan di hampir setiap negara dengan pesta-pesta, seolah-olah milenium ini akan membawa banyak perubahan bagi kesejahteraan kehidupan manusia.

Hidup manusia seakan-akan lebih mudah karena peradaban tinggi (high civilization) melahirkan teknologi tinggi (high tech), komunikasi global (global communication), digitalisasi, cloning, rekayasa genetika, dan teknologi informatika.

Secara perlahan tetapi pasti, para manusia milenium itu terlena dengan segala kemudahan hidup, buday a konsumsi yang serba instan membuat mereka lupa bahwa hidup yang mereka hadapi mulai kabur dan tenggelam dalam realitas semu.

Dalam konteks budaya politik Indonesia hiperrealitas ini tampak dengan adanya budaya korupsi dan saling konflik antar-elite politik, carut marut pendidikan, layanan publik yang buruk, kekerasan aparat, pemogokan buruh, penyimpang-an kekuasaan, kolusi dan nepotisme.

Dalam keseharian masyarakat perang isu dan simulacrum dalam tayangan media dianggap sebagai kebenaran.

Hiperrealitas berhasil mengaburkan dunia kenyataan dan dunia semu, masyarakat dunia modern tidak bisa membedakan lagi antara kebenaran nyata dan kebenaran semu.

Masyarakat kini sedang menanti kebenaran ide Baudrillard itu, bisakah manusia menghindarkan diri dari kepalsuan dan mencari makna sejati dari semua realitas yang dihadapi?

Definisi yang sangat nyata menjadi: bahwa dari mana dimungkinkan untuk memberikan reproduksi setara. nyata tidak hanya apa yang dapat direproduksi, tapi itu yang selalu sudah direproduksi. Hiper nyata. .

Jean Baudrillard

Jawabannya adalah kembali kepada diri kita masing-masing dalam memaknai realitas hidup ini.
Sebagai tambahan dalam “Semiorrhage” (190).
* Mode : lebih cantik daripada Cantik
*Simulasi : lebih benar daripada yang benar
* Pornografi : lebih seks daripada seks
*bujukan : lebih keliru daripada keliru
*Ketakpantasan : lebih tampak daripada tampak
*Terorisme : lebih ganas daripada ganas
*Obesitas : lebih gemuk daripada gemuk
* Katastropi : lebih peristiwa daripada peristiwa
*Hipertelia : lebih final daripada final
*Hiperrealitas: lebih nyata daripada nyata
* Kegirangan : lebih gembira daripada gembira

Selamat datang di dunia simulacrum.


Untuk lebih detailnya direkomendasikan untuk memiliki buku ini, saya tertarik kutipan Jean Baudrillard di bungkus akhir:

Sampul belakang.
Kebenaran adalah APA, yang harus ditertawakan. (Jean Baudrillard).
Salam literasi,
dengan mereview buku memperdalam pemahaman segala isi dan makna penulis.


Makassar, 5 Februari 2022.
Yakusa.

My collection

Sudirman Muhammadiyah
(Reviewer)

(Visited 1,299 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Sudirman Muhammadiyah

Dr. Sudirman, S. Pd., M. Si. Dosen|Peneliti|Penulis| penggiat media sosial| HARTA|TAHTA|BUKU|

3 thoughts on “Galaksi Simulacra (Esai-esai Jean Baudrillard) : M. Iman Azis”
  1. Jika kita bersama2 Membongkar Rahasia Manusia, dan kumpulan manusia yg kita sebutkan masyarakat dan Telah Lintas Peradaban Filsafat Timur dan Filsafat Barat,Lima ratus tahun yang lalu, orang hanya bisa hidup sampai denganusia yg lebih panjang . Namun kini, di usia yang ke 65, orang masihtetap bisa hidup dengan sehat. Bentuk kehidupan sosial manusiapun kini semakin kompleks, dengan keberadaan internetdan jaringan sosial yang mengubah seluruh makna hubungan antarmanusia. Patah hati dan revolusi politik kini bisa dipicu hanya dengan satu ketikan di jaringan internet sosial.Dominasi manusia atas bumi ini juga memiliki wajah yang kelam. spesies punah setiap hari, akibat ketidakseimbanganalam. SEBUAHtmosfer dunia rusak, akibat polusi yang dibuat oleh manusia dan aktivitas sehari-hari lebih dari 6 milyar manusia di bumiini Perlahan tapi pasti, bumi menjadi tempat yang tidak cocok untuk lahir dan berkembangnya ,polaBerpikir ini nantinya berkembang dalam pemikiran pasca modernitas,misalnya tentang dekonstruksi yang mencoba berbagai kepastian pemahaman ( Sinnsverschieben ).Filsafat Timur, yang berkembang di Nepal, India, Cina, Jepangdan Korea, memiliki pemahaman yang sama sekali berbeda tentangmanusia. Manusia tidak dilihat sebagai makhluk istimewa, tetapi sebagaibagian tak terpisahkan dari segala hal yang ada di alam semesta ini.Sama seperti segala hal lainnya, manusia adalah cerminan dari jiwa universal yang disebut juga sebagai Atman . Di dalam beberapa tradisi Zen.yg artinya walau berani dalam ketakutan dan takut dalam hiperkeberanian yg sesungguhnya kita lemah dalam kekuatan ini revolusi masyarakat…yg setiap dekade disebut revolusi dalam bentuk masyarakat yg berbeda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.