Mudik setiap jelang lebaran adalah tradisi yang sudah berlangsung lama. Bahkan sebagian orang menganggap lebaran tanpa mudik itu kurang lengkap perjalanan hidupnya. Sehingga tidak mengherankan kalau banyak orang rela mengantri atau berdesakan untuk mendapatkan tiket perjalanan mudik menemui orang-orang yang berjasa dalam hidupnya di kampung. Namun disisi lain, orang yang tidak mudik, bukan berarti tidak sayang apalagi tidak peduli pada orang tua. Sesungguhnya rasa sayang, rindu, peduli, dan hormat kepada keluarga di kampung khususnya orang tua selalu terpatri dalan sanubari. Namun, yang tidak banyak dipahami terutama oleh mereka yang tidak hidup merantau dan belum tahu bagaimana dinamika mudik lebaran, ada banyak hal yang menjadi pertimbangan sebelum mudik lebaran. Salah satu di antaranya adalah faktor kesehatan. Ketika kondisi fisik tidak bersahabat dengan semesta, tentulah keinginan berkumpul bersama keluarga di hari fitri ini harus ditunda dulu. Sedih itu pasti, namun kita harus mencoba berdamai dengan kenyataan, bahwa semua sudah ada yang menentukan segalanya. Jadi benar menurut quote sang inspirator Bang RIM, “Berdamailah dengan kenyataan, lalu cintai hidupnya untuk menjalani kehidupan. Sesungguhnya inilah alamat asli kedamaian dan kebahagiaan”. Setelah berdamai dengan kenyataan tidak bisa mudik, saya merasa damai dan bahagia. Namun disisi lain kalau melawan kenyataan yang dialami, bisa jadi mengembangbiakkan masalah, yang akan semakin menggerogoti fisik. Meskipun mudik bukan parameter rasa kasih dan sayang, namun jika itu memungkinkan lebih baik pulang kampung bertemu langsung bersilaturahim bersama keluarga tercinta. Selamat mudik lebaran untuk teman-teman yang bisa pulang, selamat berkumpul bersama keluarga tercinta. Sementara untuk teman yang tidak bisa mudik ke rumah orang tua, mari berdayakan dan maksimalkan sarana komunikasi yang tersedia. Semoga kesempatan yang hilang di hari ini, diganti dengan kesempatan berikutnya meski bukan di hari raya.

(Visited 79 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Rosmawati

Saya Rosmawati — bekerja di Perpustakaan Daerah Kabupaten Kolaka Utara, mengajar di Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara, dan aktif di komunitas Bengkel Narasi serta Pena Anak Indonesia (PAI). Tiga peran itu berjalan bersamaan, dan saya menjalaninya dengan sadar. Di perpustakaan, saya dekat dengan buku dan dengan orang-orang yang datang mencari sesuatu — entah itu pengetahuan, ketenangan, atau sekadar tempat duduk yang tenang. Di ruang kuliah, saya belajar lagi setiap kali mahasiswa mengajukan pertanyaan yang tak pernah saya duga. Di komunitas, saya menemukan alasan yang paling sederhana mengapa literasi itu penting: karena ada anak-anak yang ingin bercerita, tapi belum punya kata-katanya. Saya menulis di Bengkel Narasi. Kadang soal hal-hal besar, kadang soal yang kecil saja — tapi selalu dari apa yang sungguh saya lihat dan rasakan. Kalau Anda ingin mengobrol soal literasi, pendidikan, atau dunia menulis — mari. 📍 Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara ✍️ bengkelnarasi.com 📚 Perpustakaan Daerah Kab. Kolaka Utara 🎓 Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara

One thought on “Tidak Mudik Bukan Berarti Tidak Sayang”
  1. Mat hari raya idul fitri Bundaku, taqabbalallahu minna wa minkum… mohon maaf lahir dan bathin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.