Kepergian orang tua alias meninggal dunia dari kehidupan kita pasti akan menghanyutkan anggota keluarga dalam kesedihan, bahkan ibaratnya tidak siap ditinggal orang tua untuk selama-lamanya. Di samping karena perpisahan di dunia, kesedihan anak-anak juga muncul karena menyesal atas kurangnya berbakti dan pengabdian kepada orang tua.

Meski demikian, anak tetap dapat berbakti kepada orang tua sepeninggal mereka. Anak-anak itu dapat menziarahi makam (pesarean=pekuburan) kedua orang tua, baik orang tua kandung, tiri maupun mertua. Ziarah ke makam orang tua bentuk pengabdian tanpa batas, meski berbeda dunia.

Seiring perkembangan zaman, segala hal dimudahkan oleh teknologi, selain berkirim doa, toh demikian ada baiknya berziarah di pekuburan (jawa:pesarean). Mengapa masyarakat jawa menyebut pemakaman dengan ‘pesarean’ sebab pemakaman merupakan tempat peristirahatan terakhir, yang mana orang yang disemayamkan berada dalam posisi tidur dalam peristirahatan abadi. Wajar kan jika kemudian pemakaman disebut pesarean (tidur).

Allah SWT bakal mengampuni dosa-dosa anaknya yang menziarahi makam kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya dan ia tercatat sebagai anak yang berbakti kepeda orang tua.

Kedatangan anak dengan menziarahi makam orang tua saja sudah cukup. Tentu diiringi doa-doa kepada orang tua untuk kemulian orang tua disisi-NYA.

Sebagaimana hadits Nabi SAW untuk melaksanakan ziarah kubur, “Dulu Aku melarangmu melakukan ziarah kubur, sekarang lakukanlah ziarah kubur karena akan mengingatkan kalian terhadap akhirat” (HR. Muslim).

Melihat sisi baik dari ziarah kubur (sarean), kamipun mengunjungi sareane bapak, nenek serta saudara dalam lokasi yang sama.

Kunjungan ke sarean ini menjadi bukti bahwa kita semua akan kesana, siapapun kamu, apapun pangkat dan jabatanmu, titel tertinggi adalah CAMAT (Calon Mayat).

Waktu bergulir begitu cepat, sementara usia manusia semakin pendek saja. Padahal baru beberapa tahun lalu kami bertemu bapak, sekarang hanya melihat sebuah batu nisan berbahan pualam yang berukiran nama KH. Sadhiman Al Angsory wafat pada 5 Juni 2020 di Ngawi Jawa Timur.

Bapak sudah tenang disana, dari taman surga bapak pasti terharu dan bangga atas kunjungan sarean anak-anaknya dan seluruh jamaahnya di Desa Kandangan Ngawi.

Sekali lagi kami sebagai anak-anak belum bisa berbuat yang lebih baik untuk orang tuanya, semoga amal kebaikan semasa hidupnya mendapat balasan dari Allah SWT.

(Visited 44 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Subhan Riyadi

Bukan siapa-siapa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.