Catatan Batin Gusnawati Lukman
Nobody’s Perfect. Tidak ada manusia yang sempurna. Kesempurnaan hanya milik Allah Azza Wa Jalla, pemilik hidup dan kehidupan, penguasa alam semesta.
Nobody’s perfect. Bahkan dalam kehidupan sebuah keluarga, tidak ada yang sempurna. Tidak ada momongan, mau punya momongan. Sudah punya momongan, mau nambah lagi. Banyak momongan, mengeluh juga, karena banyaknya persoalan kehidupan yang muncul.
Istri cantik ngeluh. Suami gagah pun mengeluh juga. Istri cantik berat diongkos keperluan make upnya. Cantik-cantik kadang mencari lagi kesenangan lain. Begitu pula sebaliknya, kalau suami terlalu gagah, sering jadi incaran perempuan-perempuan muda. Istri/suami tetangga lebih cantik/gagah menjadi pembicaraan juga karena istri/suaminya tidak seperti itu. Kapan kita bisa menerima kelebihan dan kekurangan dari pasangan masing-masing? Selalu yang terjadi rumput tetangga jauh lebih hijau dari rumput di pekarangan sendiri.
Nobody’s perfect. Dalam sebuah hubungan asmara pun, kadang timbul banyak masalah karena seringnya muncul keluhan tidak bisa memahami dan mengerti pasangan masing-masing. Tidak mau menerima kekurangan pasangannya. Hanya menuntut kesempurnaan semata. Akhirnya, belum apa-apa hubungan sudah putus di tengah jalan.
Nobody’s perfect. Begitu pula keberagaman yang hadir dalam sebuah kebersamaan, intrik-intrik itu tidak bisa dihindari. Sebuah kebersamaan yang terjalin, apalagi dalam kelompok besar dengan berbagai karakter, ciri khas masing-masing individu, terkadang sulit menyamakan persepsi untuk mencari sebuah kata sepakat. Betapa sulitnya kita memahami serta menyelami hati dan jiwa setiap individu dalam kelompok itu ketika terjadi sebuah permasalahan. Namun, yang terpenting dalam sebuah kebersamaan adalah menyingkirkan ego masing-masing. Harmoni dalam keberagaman akan membawa kita pada kehidupan yang lebih bermakna, tenang, damai, dan menyenangkan.
Nobody’s perfect. Tidak ada manusia yang sempurna, makanya kita mencari sahabat dan menjalin hubungan baik dengan setiap manusia untuk saling menyempurnakan.
Sahabat….Maafkan apabila dalam kebersamaan yang terjalin selama ini, aku belum bisa menghadirkan kesempurnaan diriku.
Maafkan apabila aku belum mampu memahami dirimu. Belum mampu menyelami kedalaman hati dan jiwamu.
Maafkan apabila semua ketidaksempurnaan itu membuatmu tidak berkenan, merasa tidak nyaman, mengumpat, dan membenciku.
Sekali lagi, maafkan ketidaksempurnaanku. Namun, seandainya aku masih bisa meminta darimu, mari kita singkirkan keakuan kita. Suatu saat nanti, kita pasti akan saling memahami dan menyelami hati dan jiwa masing-masing. Maafkan semua yang terjadi, agar kedamaian dan ketenangan bersemayam dalam diri dan jiwa kita.
Di universitas kehidupan yang maha luas ini, biarkan hati dan jiwa kita mengembara ke sudut-sudut hati orang-orang yang selalu siap menerima segala kelebihan dan kekurangan kita. Orang-orang yang akan selalu merindukan kehadiran kita dalam keadaan apa pun.
Nobody’s perfect,
Dari tetesan “Air mata”,
Kita belajar untuk “Mengerti”.
Dari rasa “Khawatir”,
Kita belajar untuk “Mempercayai”.
Dari merasa “Kehilangan”,
Kita belajar untuk “Menghargai”
Dari suatu “Kesalahan”,
Kita belajar untuk “Memaafkan”.
(Unknown)
Be somebody who makes everybody
Like A somebody.
Sahabat…semoga di hati,jiwa, dan pikiran kita bersemayam ketulusan, keikhlasan, dan kelapangan dada menerima segala kekurangan dan kelebihan dari orang-orang yang kita cintai, sahabat, saudara, kerabat terdekat, agar tetap selalu tercipta harmoni dalam keberagaman. Kedamaian dan kebahagiaan akan selalu terpancar di jiwa orang-orang yang selalu tulus dan ikhlas.
Watansoppeng, 28 Mei 2022

Luar biasa tulisannya bunda Gus 💕💕💕Aku sukaa 🌺🌺🌺