Oleh: Prof. Emiliano dos Santos (AldoJlm’21)

Pengalaman seorang guru seperti pepatah “Pengalaman adalah guru yang terbaik.” Dari dulu hingga sekarang, apa yang dilakukan seorang guru? Mulai dari mempersiapkan mata pelajaran, mempersiapkan dirinya, hadir di kelas untuk mengajar, mengoreksi pekerjaan siswa, di akhir tahun ia mengisi buku rapor dan ijazah.

Siswa berpindah dari satu kelas ke kelas lain di akhir tahun ajaran, apa yang dialami oleh seorang guru dalam hidupnya? Dari awal dia bertemu dengan murid-muridnya lalu pergi dan tahun berikutnya, melihat mata kecil lainnya di kelas yang sama, tetapi dengan karakteristik siswa yang berbeda.

Guru merasa bahwa dunianya hanya ada dari pekerjaan bergilir ini dari tahun ke tahun. Guru hanya mendapatkan banyak pengalaman sepanjang hidupnya seperti mengajar, mendidik, melatih, memotivasi, dan mengubah sikap siswanya dari bodoh menjadi cerdas. Namun, guru tetap akan jadi guru dalam kehidupannya. Dia tidak akan berpindah ke tempat lain, jika ketika penguasa yang berkuasa memperlakukan guru mereka seperti itu.

Sementara murid-muridnya terbang menjauh darinya dari satu tempat ke tempat lain dan mendapatkan banyak uang untuk mendukung mereka dan hidup makmur, tapi apa yang didapatkan oleh seorang guru? Para siswanya pergi ke universitas dan mendapatkan, jenjang tertinggi dan menghasilkan banyak uang, menduduki posisi penting dalam pemerintahan dan masyarakat, tetapi apa yang didapat oleh seorang guru? Untuk membeli sepeda saja ia tidak memiliki kemampuan finansial, apalagi membeli sepeda motor, mobil, rumah mewah, dll… untuk kehidupan mereka yang lebih baik atau sejahtera.

Guru itu seperti “Si Pungguk yang merindukan bulan”. Setiap hari dalam hidupnya dia selalu berfantasi untuk memiliki kehidupan yang lebih baik selama dia hidup di dunia ini, tetapi dia tidak bisa. Di sisi lain, pemerintah selalu menuntut pendidikan yang berkualitas, sedangkan guru selalu menuntut haknya yang tidak mencukupi.

Di bagian lain dari situasi (Serca Sanitaria atau Estado Emergencia atau di Indonesia dikenal dengan PPKM) membutuhkan seorang guru untuk mengajar siswa mereka atau untuk mengajar siswa secara daring. Namun, di mana dia akan mendapatkan sumber daya dan dana untuk mengakses internet dan mengajar mata pelajarannya secara daring?

Sedangkan penguasa, wakil pemerintahan, mengesahkan anggaran negara hanya untuk dirinya sendiri dan tidak menaikkan gaji guru. Mau dibawa ke mana masa depan bangsa Timor-Leste tercinta ini?

Dibandingkan dengan negara maju lainnya, guru selalu didahulukan di negara tersebut, karena sumber ilmu berasal dari mereka (guru). Begitu pula dengan profesi-profesi lain yang merupakan hasil ajaran seorang guru. Bagaimana negara kita Timor Leste?

Tapi sudahlah, guru sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa“. Dia hanya berjuang untuk mempertahankan hidupnya dan keluarganya, hanya untuk makan tiga kali sehari, tetapi untuk meningkatkan kehidupan keluarganya, gajinya tidak mencukupi. Di dunia ini tidak ada… mungkin hanya dalam keabadian baru dapat mewujudkannya.

(Visited 73 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Aldo Jlm

Elemen KPKers-Lospalos,Timor Leste, Penulis, Editor & Kontributor Bengkel Narasi sejak 2021 hingga kini telah menyumbangkan lebih dari 100 tulisan ke BN, berupa cerpen, puisi, opini, dan berita, dari negeri Buaya ke negeri Pancasila, dengan motonya 3S-Santai, Serius dan Sukses. Sebagai penulis, pianis dan guru, selalu bergumul dengan literasi dunia keabadian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.